Aku benci Pak Kades. Gara-gara dia aku terancam mati. Aku tahu, acara Grebeg Desa memang diadakan setiap tahun. Tahun lalu, dia mengundang grup wayang kulit sebagai hiburan. Dua tahun sebelumnya dia mengundang penyanyi campursari. Seharusnya tahun ini dia mengundang Via Vallen. Dengan begitu, jika ada tawaran untuk maju ke lapangan sambil joget-joget, tentu nggak bakal kutolak. Mau joget gergaji, bor, tang, obeng, semua kubabat.
Rasanya, aku bernafsu mencuri inhealer milik Pak Kades yang selalu disedotnya itu, kemudian kucemplungkan ke WC, kugosok-gosokkan benda itu di pinggiran jamban lalu kukembalikan lagi padanya sebagai bentuk balas dendam karena menyeretku ke tengah lapang. Namun, sepertinya sulit karena inhealer itu selalu digenggamnya. Taruhan, dia lebih sering menggenggam benda itu ketimbang tangan Bu Kades.
Aku juga jadi curiga. Jangan-jangan dia sengaja ke rumahku mencari Bapak untuk menjebakku menjadi pengisi atraksi utama. Dia kan tahu Bapak sakit. Dan dia pasti juga sudah diberitahu Mbah Sabar kalau pengisi atraksi utamanya sedang cuti. Seharusnya, dia membatalkan kontraknya. Jangan-jangan dia melakukan semua ini untuk mempermalukan Bapak. Bukankah Bapak yang dicarinya pertama kali? Mungkin, dia berpikir sebahis sakit ilmu Bapak bakal lemah dan akhirnya membuatnya gagal atraksi di depan banyak orang. Jangan-jangan Pak Kades masih menyimpan dendam.
Usia Pak Kades sebelas duabelas dengan usia Bapak. Dia dan bapakku dulu berteman, sebelum Meriam Bellina menyerang. Maksudku, karena sama-sama ngefans aktris tersebut, mereka berebut mengaku pacarnya. Padahal, ketemu saja belum pernah. Selama dua puluh tahun mereka perang dingin. Sampai akhirnya, Pak Kades terpaksa mengibarkan bendera putih. Dia ingin Bapak membantunya memenangkan pilkades. Dia bahkan datang membawa poster Meriam Bellina sebagai harta rampasan. Sejak itu, mereka menjadi sekutu. Aku tahu karena Bapak pernah bercerita padaku.
Kini aku ragu Pak Kades benar-benar menyerah. Kalau memang dia nggak berniat jahat pada keluargaku, alih-alih mengundang kelompok Mbah Sabar, seharusnya dia mengundang penyanyi dangdut aja biar yahud. Namun nggak penting memikirkan itu sekarang. Yang penting adalah memikirkan bagaimana caranya melarikan diri dari situasi yang mengancam nyawaku ini.
Belum sempat berpikir, Mbah Sabar menarikku ke tengah lapangan. Kuperhatikan keadaan di sana kacau balau. Entah apa yang terjadi, tetapi penonton tampak antusias. Mereka sangat menikmati pertunjukkan. Para penari yang tadinya kompak menjadi hancur. Maksudku, tarian mereka nggak ada sinkronisasi, harmoninasi, maupun globalisasi.
Mereka menari sesuai keyakinan masing-masing. Seperti contohnya pemuda yang kentutnya bikin hidungku ingin bunuh diri. Dia menari sambil mencakar-cakar tanah. Dia juga mengaum. Sepertinya dia kerasukan siluman macan kebelet pup. Nggak jauh darinya ada penari lain yang terobsesi pada tiang listrik. Penari itu menempelkan dahinya ke tiang listrik sambil menggoyang-goyangkan badan. Aku yakin dia kerasukan hantu banteng yang pengin pole dance.
Aku sadar, dalam pertunjukan jatilan, momen seperti inilah yang ditunggu-tunggu oleh penonton. Para penari dirasuki makhluk gaib, kemudian melakukan sesuatu yang mustahil dilakukan manusia normal. Maka dari itu, saat Pak Kades menyeretku ke tengah lapang dan mengumumkan aku sebagai artis utama, kulihat para penonton bersorak menyambutku. Mereka seolah menunggu momen hebat yang akan kulakukan.
Ketika Mbah Sabar mengasapiku dengan kemenyan, kuyakin mereka mengharap aku segera kerasukan. Aku pun berharap begitu. Sebab, aku juga nggak mau pertunjukkan ini gagal. Kehormatan keluargaku dipertaruhkan.
Aku terlanjur nggak bisa mundur. Aku takut orang-orang akan menghina kesaktian ayahku. Bagaimana kalau mereka bilang,
"Ki Amat udah tua, nih! Ilmunya kendor! Lihat aja anaknya, penakut gitu. Kita ke dukun sebelah, yuk! Katanya di sana lagi ada promo. Nyantet satu, gratis sekeluarga."
Tidak! Aku nggak mau pamor keluargaku turun gara-gara aku. Ibu pasti menolak proposal kuliahku.
Akan tetapi, sampai paru-paruku penuh asap kemenyan, aku nggak kunjung pingsan, apalagi kerasukan. Ayolah, jin, pintaku dalam hati. Rasuki aku. Jin apa aja deh. Jin monyet lagi panen kutu juga boleh.
Hingga kira-kira seabad lamanya, nggak ada makhluk halus yang mampir ke tubuhku. Bahkan, sekadar melirik saja nggak ada. Padahal tubuhku sudah kuobral habis-habisan. Entah apa masalahnya. Namun, kuyakin bukan karena aku kurang seksi.
Kuintip para penonton yang berbisik dengan teman sebelahnya. Ibuku pun terlihat gelisah. Beberapa kali kudengar dia meyakinkan para penonton bahwa kerasukan perlu proses. Nggak mau bikin dia malu, aku lantas pura-pura kejang. Bola mataku kugulirkan ke atas. Aku juga menggeram supaya lebih meyakinkan.
Kudengar tepuk tangan penonton. Siulan menyahut. Dalam hati aku ingin memberitahu si penyiul kalau aku sedang kerasukan, bukannya sedang goyang. Aku nggak butuh siulan penggoda. Kalau saweran, bolehlah.