Mereka Sebut Aku Orang Pintar

IyoniAe
Chapter #6

Bab 6. Tumbal Ilmu Design

Aku bersyukur yang menjadi dukun hanya bapakku. Kalau ibuku dukun juga, mungkin aku sudah muntah paku sekarang. Setelah pengakuanku di lapangan, Ibu menyeretku ke kantor balai desa. Dia menyuruhku berganti pakaian dan menhapus riasan sementara dia kembali ke lapangan untuk klarifikasi. Entah klarifikasi apa, tetapi sepertinya berhubungan dengan pengakuanku tadi. Setelahnya dia membawaku pulang. Begitu sampai rumah, dia meluapkan kemurkaannya padaku. Wajahnya merah padam ketika bicara. Urat pada lehernya menonjol dan suaranya terdengar hingga langit ke tujuh.

"Puas kamu mencoreng nama baik keluarga!" Ibu berdiri di depanku. Matanya nyaris keluar sementara kedua tangannya di pinggang.

Aku duduk di kursi ruang tamu, menunduk dan mengkeret seperti daun putri malu sehabis disentuh. Aku nggak berani mengucap satu kata pun. Aku tahu meminta maaf saja nggak bakal cukup meredakan amarahnya.

"Tahu nggak, apa kata warga pada keluarga kita?" tambahnya.

Aku ingin menjawab 'nggak', tetapi kuurungkan niatku. Aku nggak mau kisahku jadi konten TikTok dengan judul: Abang Ini Jadi Perkedel Setelah Bilang Nggak Pada Ibunya.

"Bapaknya dukun sakti tapi anaknya malah jadi badut!" lanjutnya. "Coba bayangkan! Betapa malunya Ibu di sana tadi, Wir!”

Aku masih menunduk, nggak berani menatap mata ibuku. Dia pasti masih memelototiku.

"Ayo jawab! Jangan cuma diam aja!" tambahnya. Suaranya menggelegar, bagai macan betina yang menegur suaminya karena menaruh handuk di kasur.

"Em ...." Aku hanya bisa bergumam. Aku lupa pertanyaannya tadi. Aku terlalu sibuk memikirkan apakah macan pakai handuk saat mandi.

"Am, em, am, em, jawab! Kamu puas bikin nama keluarga kita hancur di mata warga?"

Oh, itu pertanyaannya, batinku. Aku lantas menggeleng. "Nggak, Bu."

"Apa? Kamu belum puas? Mau menghancurkan apa lagi? Rumah?"

Aku menggeleng kuat-kuat. "Maksudku, iya, Bu."

Suara ibuku naik beroktaf-oktaf saat melanjutkan, "Apa? Jadi kamu benar-benar ingin menghancurkan rumah juga?"

Lah, gimana sih? Jawab enggak, salah, jawab iya juga salah. Aku ingin nangis rasanya. "Nggak, Bu. Maksudku, aku nggak berniat menghancurkan nama baik keluarga maupun rumah."

"Jangan membantah!"

Ya lord, salah lagi. Tadi disuruh jawab, giliran jawab disalahartikan, pas dijelaskan malah bilang aku membantah.

Aku lantas bersimpuh di kaki ibuku. "Maafin Wiro, Bu." Kubuat suaraku sengenes mungkin. Kutatap ibuku dengan ekspresi kucing oren yang minta whiskas.

Ibu melangkah mundur. "Ibu tuh kecewa banget sama kamu. Kamu pikir ilmu dukun itu buat mainan? Iya? Selama ini kamu menganggap Bapak itu apa? Orang yang lagi nyamar? Atau anggota sirkus? Bapak tuh sudah bekerja keras, membantu warga sampai mereka menghormati kita. Kamu bisa lihat sendiri bagaimana perlakuan mereka kepada kita! Pak Kades selalu datang kemari. Dia meminta pendapat Bapak dulu sebelum membuat kebijakan. Waktu pernikahan anaknya Pak Bupati juga, beliau meminta Bapak menentukan hari untuk melaksanakan ijab. Mereka melibatkan Bapak dalam setiap acara penting. Itu tandanya mereka menghargai Bapak. Eh, lha kok anaknya malah bikin malu!"

Aku tahu reputasi Bapak sudah go kabupaten. Bapak memang hebat. Menjadi dukun adalah jalan ninjanya. Tetapi aku berbeda. Dukun bukanlah passion-ku. Lagi pula, untuk menjadi dukun sakti, aku harus sahabatan sama hantu. Aku nggak seberani itu. Melihat sosoknya saja aku ketakutan, apalagi menjadikan mereka bestie.

Ibu mendesah. Ia duduk di kursi yang tadi kutempati. "Kamu itu lho, Wir, sebelum berbuat sesuatu itu mbok ya dipikir dulu,” katanya menarik punggungnya supaya mendekat. “Kamu tuh sudah besar. Seharusnya tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Untung tadi warga percaya kalau yang terjadi padamu cuma kesalahpahaman. Kalau enggak, mau di taruh mana muka kita? Buka bajumu!”

Setelah aku membuka baju, Ibu membalurkan suatu ramuan yang diraciknya ke luka bekas cambuk di punggungku. Aku meringis saat ramuan itu menyentuh kulitku. Perlahan sensasi dingin membuatku nyaman. Cenut-cenut yang kurasakan mulai mereda.

"Ibu marah bukan cuma karena kamu mempermalukan keluarga kita. Ibu marah karena kamu berbohong. Kalau memang gagal mendapatkan ilmu kebal, mbok ya bilang dari awal. Kalau tahu gagal kan Ibu bisa menyiapkan ritual lain."

"Em ...." Aku sempat ragu saat melanjutkan, "Sebenarnya aku nggak mau kebal, Bu."

Lihat selengkapnya