Mereka Sebut Aku Orang Pintar

IyoniAe
Chapter #7

Bab 7. Sarang Weeb Mesum

Aku tahu ibuku nggak seperti ibu-ibu yang lain, tetapi aku nggak menyangka pikirannya bakal seabsurd itu. Ibu lain sibuk memaksa anaknya sekolah tinggi, mengejar gelar S1, S2, bahkan sampai ST12. Tetapi, dia malah sibuk memaksaku mengejar gelar Penakluk Setan. Aku sampai nggak habis pikir. Memang apa hebatnya sih jadi dukun? Cuma dihormati doang, kan? Zaman sekarang mana bisa hidup hanya bermodal hormat? Apakah dengan hormat di depan warung kita bakal dikasih makan gratis? Kan enggak! Yang ada kita disangka orang gila. Kalian mau, dimandiin sembari direkam plus ditanya-tanya kayak di YouTube-YouTube itu?

Kalau aku sih, big no!

Nah, ngomongin soal makan, usus di perutku sepertinya sudah tantrum. Aku belum makan nasi sejak muntah tadi pagi. Tenagaku juga tinggal 1%. Perlu di-charge. Aku mempertimbangkan untuk hormat di depan warungnya Mbok Darmi. Siapa tahu disangka orang gila lalu diberi makan gratis. Nggak apa-apa deh dimandiin sambil direkam plus diwawancara. Nanti bakal kukasih tahu konspirasi dunia yang nggak semua orang paham.

Namun, setelah kupikir lagi, malu juga kalau Ibu sampai tahu. Dia pasti menertawakanku. Masa kabur dari rumah cuma buat jadi gembel? Tidak!

Matahari kini sudah tenggelam. Setelah pergi dari rumah, aku berkeliaran ke sawah-sawah, mencoba mencari pekerjaan. Kalau di kota aku bisa mencari pekerjaan ke toko-toko, atau kantor-kantor. Tapi ini di desa. Tolong jangan samakan. Pekerjaan yang available untuk pemuda sepertiku dintaranya mencari pakan ternak, membantu memanen, dan bernegosiasi dengan tikus supaya mau digusur dari lahan petani. Namun sekarang para warga masih menikmati rangkaian acara Grebek Desa. Jadi, nggak banyak yang menggarap sawah. Alhasil, aku nggak mendapat pekerjaan.

Aku sempat mempertimbangkan menjual satu-satunya kebanggaanku, yaitu keperjakaanku. Aku bakal melelangnya lewat aplikasi, dan berharap Pevita Pearce tertarik. Namun, belum sempat mengunduh aplikasi, sebuah pesan masuk. Dari Onii-chan yang bertanya keberadaanku. Tanpa pikir panjang, aku langsung menuju rumahnya. Walau pergi tanpa membawa uang, aku beruntung selalu menyimpan dompet—meski nggak ada isinya—dan ponselku di kantong celana.

Kubalas pesannya dengan kalimat, Nginep ya, Bro! saat aku tepat di depan pintu kamarnya yang setengah terbuka. Hubunganku dengan keluarga Sugeng begitu erat sampai-sampai orang tuanya mengizinkanku masuk hanya dengan scan tangan, alias melambai.

Kulihat Sugeng tengah berbaring di kasur. Matanya menatap layar ponsel. Sepertinya dia sedang menonton anime kesukaannya karena samar-samar kudengar suara ah dan ikeh-ikeh kimochi berulang-ulang. Kurasa nggak perlu kujelaskan di mana posisi tangannya. Kalian pasti sudah bisa menduganya.

"Onii-chan!" seruku sembari meringis.

Dia terkejut sampai-sampai ponselnya jatuh dan mengenai hidung. Dia meraung sembari mengumpatiku habis-habisan. Kututup pintu untuk menghindari serangan yang lebih brutal. Aku terbahak hingga ibu Sugeng meneriakiku dan bertanya ada apa.

"Nggak apa-apa, Budhe," sahutku. Aku memanggil ibunya Sugeng dengan sebutan Budhe. Sebenarnya sebutan itu untuk kakak ibu atau kakak ayahku. Namun, karena aku sudah menganggapnya seperti ibu kedua, kupanggil dia begitu sebagai tanda hormat sekaligus sayang. Aku nggak mungkin memanggilnya Ibu Second, kan? Aku bisa dikutuk jadi tutup botol kalau sampai dia tersinggung.

Setelah menunggu agak lama, kubuka pintu kamar Sugeng lagi.

"Wo lha, bajindul!" Wajah Sugeng masih memerah. Dia meninju bahuku ketika aku masuk.

"Makanya dikunci! Gunanya pintu buat apa?" balasku.

Lihat selengkapnya