Mereka Sebut Aku Orang Pintar

IyoniAe
Chapter #8

Bab 8. Petuah Jin Jepang yang Melokal

Seusai makan malam, aku baru bisa bernapas lega. Budhe dan Pakdhe anteng di depan televisi. Mereka asik menonton sinetron. Sementara itu, aku memilih duduk-duduk di teras. Aku pura-pura nggak dengar saat mereka memanggil. Aku takut mereka akan menyuruhku menyortir cawat mana yang layak dan yang nggak layak pakai. Seharian ini aku lelah bekerja membantu mereka. Siang tadi saja mereka menyuruhku dan Sugeng menyelidiki TKP tikus mati. Aku mesti menajamkan indera pembauku, mencari wilayah paling busuk di rumah guna menemukan bangkai tikus yang terjepit peralon. Aku sampai mual karenanya. Saat itu aku merasa seperti KPK yang memburu koruptor.

Sugeng datang nggak lama kemudian. Dia mebawa dua gelas kopi dan memberikan satu untukku.

"Udah berhari-hari kamu nginep di sini, emang nggak dicariin ibumu, to?” tanyanya duduk di seberang meja.

Teras rumah Sugeng nggak luas. tetapi cukup untuk dua kursi dan satu meja bundar. Lebarnya satu meter. Namun begitu, di depan teras masih ada sisa tanah untuk halaman. Di sana tumbuh pohon mangga dan pepaya.

 “Sebenarnya, kamu ada masalah apa to sama ibumu?” tambahnya sambil mengeluarkan sebatang rokok, lalu menyulutnya. Dia nggak menawariku karena tahu aku nggak merokok. Aku bukannya nggak doyan merokok, hanya nggak suka saja. Dulu aku pernah merokok, tetapi saat asapnya memenuhi mulut, ada sensasi yang menurutku aneh. Jadi, nggak kuteruskan sebagai kebiasaan.

"Ya, gitulah, Bro," sahutku. Aku bingung bagaimana menjelaskannya. Terlalu rumit.

"Masalah kemarin itu, to?" tebaknya. "Lagian, kamunya sih, sok-sokan ikut jatilan segala." Sugeng menyedot rokoknya dengan santai.

"Bukan mauku ikut jatilan! Pak Kades tuh biang keroknya! Udah tahu personilnya nggak lengkap, masih aja maksa ngundang. Jadinya kan aku yang disuruh gantiin. Seharusnya dia ngundang Deny Caknan aja, kan? Biar kita bisa woyo-woyo."

"Harusnya waktu dia minta kamu gantiin, kamu tolak aja," kata Sugeng enteng.

Aku mendecakkan lidah. "Kalau aku tahu disuruh begitu, sudah pasti kutolak, Sug. Aku baru dikasih tahu bakal jadi pengganti si penampil itu tuh setengah jam sebelum acara dimulai lho. Coba bayangin! Panik nggak, tuh?"

"Berarti pas kelompok itu dateng, trus tahu anggotanya nggak lengkap, mereka minta kamu yang kebetulan ada di sana buat gantiin, gitu?"

Aku mendesah. "Bukan." Aku lantas menjelaskan kronologi terpilihnya aku menjadi pemain cadangan klub jatilan. Aku meceritakan semuanya dengan terstruktur, sistematis, metodis, sampai kudis.

Saat selesai, Sugeng berkomentar, "Oalah, gitu to! Ya kalau gitu berarti bener."

"Hah? Apanya yang bener?" tanyaku meminta penjelasan.

"Ya benar, kalau kamu yang salah," timpalnya yang membuatku jengkel.

Aku sudah bersusah payah mengeluarkan napas untuk menjelaskan, tetapi dia malah menyalahkanku. Sepertinya dia tidak memperhatikanku. Aku nggak terima. "Lah, kok aku yang salah? Ibuku dong!”

Aku mengulang lagi poin-poin penting dalam BAP-ku kepada Hakim Sugeng, terutama pada bagian Ibu yang mengusulkan aku menggantikan anak Mbah Sabar karena yakin aku sudah menguasai ilmu kebal. Aku juga menerangkan kekeraskepalaan ibuku menjadikanku dukun, bahkan menggambarkan betapa absurdnya cita-cita ibuku. Aku menambahkannya dengan kalimat pamungkas, "Coba kamu jadi aku! Nggak enak banget tahu, dipaksa jadi dukun!"

"Nah!" serunya sembari menjentikkan jari. Dia juga menunjukku saat bilang, "Itu dia!"

Sumpah, aku nggak ngerti maksud makhluk bumi satu ini. "Itu dia, itu dia! Itu dia apaan sih? Kamu jadi aku, atau nggak enak jadi dukun?"

"Ya itu tadi. Sumber masalahnya ada di kamu. Kalau kamu nggak bohong soal ilmu kebal itu, Nyi Rami'ah juga nggak bakal nyuruh kamu gantiin anaknya Mbah Sabar. Masalah cita-cita, setiap orang kan punya cita-citanya sendiri. Kamu harus menghormatinya, dong. Cita-citaku aja pengin isekai ke dunia anime. Kenapa? Mau ngejek?"

Aku mendesah. Sepertinya aku salah memilih hakim. “Sekarang gini deh, masalah bohong ke ibuku tentang ilmu kebal itu sebenarnya bukan aku yang bohong. Ibu aja yang salah sangka.”

Lihat selengkapnya