Ibu sedang duduk-duduk di ruang tamu ketika aku mengintip dari pintu rumah. Matanya terpaku ke layar televisi, tapi sorotnya kosong. Seperti orang yang sedang melamun. Rumahku nggak luas, hanya ada tiga kamar, dapur, kamar mandi, dan ruang tamu yang juga dipakai sebagai ruang keluarga.
Melihat tingkah Ibu membuatku percaya kalau dia pasti tengah memikirkanku. Mungkin cemas mendapati putra kesayangannya pergi. Atau malah mengkhawatirkan keadaanku di luar sana.
Kulihat dia menyeka matanya. Aku yakin Ibu menangis memikirkan nasibku di jalanan yang kejam ini. Semalam, dia pasti nggak bisa tidur, cemas, resah, dan gelisah, menunggu di sini, di sudut sekolah, tempat yang kau janjikan ... tunggu-tunggu, itu lirik lagunya Chrisye. Pokoknya aku yakin Ibu menderita karena nggak ada aku. Hatiku menjadi hangat. Itu artinya, dia menyayangiku.
"Ini sinetron apaan, sih? Tokoh utamanya nggak pernah bahagia. Sutradaranya hobi banget bikin penonton depresi. Diazab nggak bisa BAB seminggu kapok, tuh sutradara!" Ibuku tersedu-sedu.
Oke, ralat. Hatiku nggak jadi hangat. Ibu menangis bukan karena kepergianku tetapi karena tokoh kesayangannya disiksa habis-habisan oleh dunia sinetron. Ternyata posisiku di bawah tokoh fiktif. Aku mempertimbangkan untuk nggak langsung masuk dari pintu. Aku belum siap bertemu dengannya. Aku berpikir untuk menyelinap dari pintu belakang saja.
Walau akhirnya aku harus menghadapinya, tapi nanti setelah aku selesai menyusun kata-kata. Aku nggak mau terlihat hina di matanya. Apalagi setelah kata-kata terakhirku sebelum meninggalkan rumah. Setidaknya aku bisa membalas sindiran yang pasti akan dilontarkan ibuku nanti.
Di jalan tadi aku memutuskan untuk melakukan saran Sugeng. Aku akan menguasai ilmu perdukunan, membuka jasa dan membuat daftar harga. Aku bahkan sudah memikirkan berapa harga yang kupatok. Untuk santet standar, aku akan memberi harga satu sampai dua juta, sedangkan santet premium dengan garansi tiga hari bersin paku, aku bakal minta lima sampai sepuluh juta ke klienku. Ditambah jasa lain seperti pelet, pengasihan, pesugihan, dan sebangsanya, aku yakin dalam sebulan mungkin aku mampu meraup puluhan juta. Tahun depan aku bisa mendaftar kuliah.
Membayangkan hal itu membuatku tersenyum-senyum sendiri sampai Anin membuyarkannya.
"Ngapain Mas, ngintipin rumah, sambil cengar-cengir nggak jelas pula?"
Aku jadi panik karena malu. Aku nggak mau Ibu tahu aku di sini, tetapi terlambat. Kulihat dia menoleh ke arahku, lalu melengos. Tanpa rasa bersalah, Anin meninggalkanku dengan masuk rumah. Aku jadi nggak enak. Sialan. Adikku satu itu memiliki hobi datang di saat yang nggak tepat, membuatku canggung saja.
Terlanjur ketahuan, aku terpaksa masuk ke rumah. Pandanganku menunduk ketika melewati pintu. Jariku kuremas-remas karena gugup. Tanpa kata, aku duduk di sebelah Ibu. Aku menunggu ejekannya dengan membesarkan hati.
"Udah selesai acara minggatnya?" tanya ibuku.
Aku mengangguk.
"Katanya mau bawa uang banyak, mana?" lanjutnya.
Aku meringis, memperlihatkan raut wajahku semanis mungkin. "Maaf, Bu. Wiro sadar Wiro salah."
"Halah! Sok manis!" Ibuku melengos lagi.
Aku mempertahankan ringisanku hingga gigiku terasa kering.
"Udah, nggak usah meringis, malah kayak gundul pringis," tukas ibuku.