Kuharap aku masih punya waktu untuk bilang good bye pada dunia. Setidaknya, aku ingin menulis Wiro pernah di sini di batu—batu mana pun boleh, asal dunia tahu aku pernah hidup. Sebab, aku yakin sebentar lagi aku bakal ditendang dari dunia ini.
Begitu malam tiba, Ibu langsung menyuruhku ke salah satu tempat favoritnya mencari dosen ilmu gaib. Nggak tanggung-tanggung, dia menyuruhku menemui komandannya para jin. Katanya, si komandan ini nggak cuma memiliki satu ilmu, melainkan berlusin-lusin. Ibarat gamer, dia menguasai semua skill tanpa perlu nge-grind! Bukan cuma jago satu atau dua elemen, tapi sudah level multiclass. Ia bisa jadi necromancer, sorcerer, assassin, sampai tank sekaligus.
Namun, yang jadi masalah adalah, sangat sulit memenangkan hati si komandan. Aku harus merayunya secara totalitas. Selain mengiming-iminginya kepala kambing gress, baru keluar dari tempat jagal, Ibu menyuruhku bertapa, memujinya habis-habisan. Sebagai bocoran, Ibu memberitahuku ia paling suka dipuji memiliki mata yang indah, taring menawan, dan ketampanan yang tiada duanya. Namun, sesuai pengalaman, jin yang ingin dipuji tampan biasanya memiliki rupa sebaliknya.
Hal itu dibuktikan oleh tempat tinggalnya. Bukan istana maupun apartemen mewah, melainkan gua. Gua ini terletak di kaki gunung desa sebelah. Perlu dua jam menggunakan motor untuk sampai ke sana. Karena motorku dipakai Ibu ke rumah sakit untuk menunggui Bapak, aku meminjam motor Sugeng, beserta pemiliknya. Ya, aku mengajaknya ikut ritual.
Aku nggak mau melewati ritual berbahaya ini sendirian. Apalagi, setelah dipikir-pikir, penyebab situasiku sekarang adalah karena saran dari Sugeng. Dia juga pernah bilang iri padaku. Jadi, pada kesempatan kali ini, aku ingin dia merasakan gimana mendebarkannya jadi aku.
Pukul sembilan malam aku dan Sugeng berangkat ke gua yang dimaksud. Pukul sebelas tepat, kami sampai. Kami berdiri di depan mulut gua yang menganga, siap menelan bulat-bulat apa pun yang ada di depannya. Angin malam berembus dingin, membawa serta aroma tanah basah dan sesuatu yang lebih menusuk, yang nggak mau kuidentifikasikan lebih lanjut. Bulan membulat sempurna di langit. Warnanya yang oranye membuatku bergidik ketika melihatnya. Daun dari pepohonan yang mengelilingi gua berkerisik, seakan-akan menertawakan kami.
"Kamu yakin di sini tempatnya?" tanya Sugeng sembari menurunkan sesajen yang sudah disiapkan ibuku tadi. "Bukannya di sebelah juga ada gua?"
Aku menujuk ke mulut gua. Di sisinya tampak ada sesajen yang sudah kering. Dupanya sudah terbakar separuh dan bunganya layu. Selain itu ada janur kering yang ditali di pinggir mulut gua. "Aku yakin pasti di sini. Gua sebelah lebih kecil."
"Emang kamu udah pernah masuk ke sana?"
"Belum sih," sahutku. "Tapi hatiku bilang gua yang ini yang bener." Dan hatiku juga bilang gua sebelah lebih mengerikan. Tapi, tolong jangan bilang-bilang Sugeng apa kata hatiku yang itu.
Kami berdiri agak lama di depan gua, seakan-akan mengawasi, mempelajari, meneliti, menilai keadaan gua. Tetapi sebenarnya, kami takut mengambil langkah selanjutnya. Aku dan dia sama-sama menunggu siapa yang berani bilang "ayo", alih-alih "pulang yuk". Ini seperti tren video TikTok viral yang berjudul Siapa Gerak Dia Bayar. Hanya saja kali ini bayarnya pakai nyawa.
Menit demi menit berlalu dengan saling lirik, saling angguk, saling geleng, lalu saling dorong, persis anak sekolah yang disuruh ke ruang guru. Sampai akhirnya, Sugeng bersuara, "Baidewei, kita nggak perlu masuk, kan? Maksudku, mungkin hantunya bisa dipanggil dari sini aja, kayak layanan pelanggan, gitu?"
Aku mendecakkan lidah. "Mauku juga gitu. Tapi, aku nggak tahu nomor hapenya."
"Pakai toa aja bisa nggak, sih?" lanjutnya.