Dupa mengeluarkan asap yang meliuk-liuk, seperti ular yang lagi joget ngebor. Aku mencium harum bunga melati yang sangat kuat, mengalahkan segala bau yang ada sebelumnya. Suara gamelan samar-samar terdengar. Aku menduga Sugeng mengganti daftar lagunya dengan tembang Jawa. Namun, setelah didengar lebih teliti, nyanyian cewek imut berbahasa Jepang masih terdengar. Rasanya aneh sekali vokal Jepang diiringi oleh gong dan kenong. Aku jadi membayangkan Boa Hancock mengenakan kebaya, plus sanggul di rambutnya sedang nyanyi di hajatan kasunanan.
Aku mencoba mengenyahkan bayanganku dan fokus membaca terjemahan buku mantra. Aku sampai memicing karena cahaya lilin bergoyang-goyang. Mungkin karena ada gamelan, makanya lilinnya goyang. Taruhan, kalau musik metal yang terdengar, lilinnya pasti bakal ngangguk-ngangguk.
"Agar menjadi agar-agar, sari agar-agar dibuat agak agar, agar agar-agar teragar-agar," Aku membaca hasil terjemahan dari buku mantraku. Sungguh aneh karena mendadak saja ponsel yang kugunakan untuk menerjemahkan jadi kebanjiran agar-agar. Maksudku ... ah, sudahlah. Lagi pula, sepertinya itu bukan mantra, melainkan resep membuat agar-agar agar ... ah, pusing.
Kubolak-balik buku mantraku dengan berisik. Kucari mantra yang benar. Dulu di sekolahku ada pelajaran bahasa Jawa. Walaupun sering bolos, aku bisa sedikit-sedikit membaca aksara Jawa. Setidaknya aku hafal huruf-hurufnya.
"Ingkang panguasa panggonan wingit," ucapku sembari membacanya dengan susah payah. Jujur saja, konsentrasiku sedikit terpecah oleh gamelan bervokal anime. Sugeng juga sudah mulai ngelindur. Ia bergibah kalau Miss Sundel Bolong lebih cocok jadi pengantin Mas Pocong ketimbang Dek Noni Belanda. Si Noni terlalu cantik, gumamnya.
Aku kesulitan membaca aksara selanjutnya. Terlalu banyak bentuk di sekitar huruf. Ada yang melengkung, spiral. sampai membentuk puzzel tanaman. Aku jadi kebingungan. Selain itu, gibahan Sugeng belum juga berhenti. Kini dia ganti menjulid pakaian yang dikenakan si Noni yang kuno. Padahal, dia sudah mendesign gaun pengantin yang roknya memiliki ekor hingga tujuh meter, berhias swaroski pula.
Kepalaku rasanya mau pecah. "Sug! Sugeng!" panggilku kesal. "Jangan neglindur, dong!"
Kulihat Sugeng duduk menganga menatapku. Dia duduk meringkuk, hingga punggungnya bersandar ke dinding gua. Ponselnya terabaikan di genggaman, dengan aerphone yang masih menjuntai. Matanya melebar. Rupanya dia tidak sedang tidur, apalagi ngelindur. Tangannya yang lain menunjuk ke arahku. Sembari gemetar, dia menjawab, "Bukan aku, tapi itu, di sebalahmu."
Mendadak suara gamelan terdengar lebih nyaring, menggema dalam gua. Sesajen di depanku berubah menjadi tumpeng, stalaktit dipenuhi lampu-lampu hias dan bebungaan. Sebentuk pocong yang mengenakan jas, lengkap dengan dasi kupu-kupu berdiri tepat di depanku. Di sebelahnya ada noni Belanda yang membawa seikat bunga. Senyum mewarnai wajah mereka. Andai mata si pocong nggak copot dan urat wajah si noni nggak menonjol, niscaya aku mengira mereka adalah pengantin yang kena tipu WO.
"Minggir, Say, gue mau nikahin ni bocah." Seorang lelaki yang mengenakan jubah menyenggolku. Dia tampak seperti pemuka agama andai kepalanya diletakkan di atas leher, dan bukannya dijinjing. "Jauh-jauh dipanggil dari Jeruk Purut cuma buat mimpin nikahan poci. Kalau bayarannya nggak oke sih gue ogah, anjir. Btw, jagain anjing gue ya, Say. Kalau capek kasih aja kepala. Doi paling doyan ngunyah kepala soalnya," tambahnya pada beberapa babi ngepet yang konvoi mengawal si anjing.
Sembari mengepit buku mantra ke ketiak, aku beringsut menjauh, lalu mojok bersama Sugeng yang gemetaran. Oke, ini adalah pemandangan terabsurd yang pernah kusaksikan. Aku yakin ini pasti mimpi. Jadi, dengan kesadaran penuh, aku menjambak rambut Sugeng, kemudian memukulkan kepalanya ke dinding gua. Dia mengaduh. "Sakit, goblok!" Dia lantas menamparku dan ternyata rasanya memang sakit. "Ngapain, sih?" lanjutnya bertanya.
"Ngecek. Ini mimpi atau beneran."
"Ya kalau mau ngecek ini mimpi atau nggak pakai kepalamu sendiri, dong!" protesnya.
"Ssst!" Nggak mau keberadaan kami disadari, aku menyuruhnya diam.
Setelah yakin kalau ini nyata, aku malah mendapati lebih banyak penampakan. Di sudut lain gua terdapat kumpulan kunti. Kuhitung, kuntinya ada lima. Rupa-rupa warnanya. Hijau, kuning, kelabu, merah muda dan biru. Meletus kunti hijau ... tunggu, tunggu, ini bukan lagu. Ini serius! Gaun mereka meriah sekali. Mereka terkikik sembari mengawasi si hantu tanpa kepala yang sedang membacakan janji suci.
Di dekat para kunti terdapat kumpulan genderuwo yang lagi ngomongin Timnas Hantu Indonesia berhasil lolos ke piala dunia. Wah, baru kali ini ada hantu yang bisa ngalahin manusia. Di bagian terdepan ada kumpulan para noni dan pocong. Spertinya mereka keluarga mempelai. Dan di depan kami terdapat sajian berupa sosis isi cacing, kue dari tanah kuburan, mata kebo goreng tepung, dan rendang kembang tujuh rupa. Untuk minumannya ada es dawet isi belatung.
"Kayaknya kita salah hari, deh," bisik Sugeng memeluk lenganku erat-erat. Dia ketakutan sampai terkencing-kencing. "Guanya lagi disewa buat nikahan hantu."
"Ho-oh," jawabku singkat. Aku nggak tahu harus gimana.
"Hantu nggak suka makan manusia, kan?" tanyanya.