Tanpa pikir panjang, aku menarik tangan Sugeng, kemudian berlari ke mulut gua. Aku berlari tanpa memedulikan lantai gua yang licin. Aku juga mengabaikan seruan para hantu yang menyuruhku berhenti. Sepanik-paniknya aku, otakku masih bisa diajak kerja sama. Jadi, walau para hantu itu mengiming-imingiku sundel bolong cantik agar berhenti, aku menolak. Aku terus berlari sampai berhasil mencapai mulut gua.
Untungnya, makhluk mengerikan yang menjaga pintu gua sebelumnya sudah nggak ada. Mungkin ikut masuk atau pergi pipis sebentar, aku nggak tahu dan nggak mau tahu. Napasku tersengal, jantungku berdetak cepat sekali, dan adrenalinku meningkat, tetapi aku lega ketika berhenti di depan gua. Mendadak, Sugeng menggeplak belakang kepalaku, kemudian berlari menuju motor. "Salah gandeng, goblok!" serunya.
Aku hendak memprotes, tetapi kemudian sadar oleh perkataannya. Dengan jantung dag dig dug, aku menoleh. Aku memekik ketika mendapati tanganku bergandengan dengan tangan si nenek yang tersipu menatapku. Dia bahkan menepuk pundakku sembari bilang, "Bilang dong kalau suka sama Nenek. Nggak usah diculik, Nenek bakal ikut sukarela, kok. Gini-gini Nenek ahli gaya helikopter, lho."
Amit-amit jabang bocah, batinku. Segera kulepaskan genggaman tanganku. "Nggak deh, Nek, makasih." Aku nggak butuh hantu nenek-nenek sebagai guruku walau dia ahli gaya pesawat jet sekalipun. Bukannya apa-apa, aku takut pas lagi butuh mengirim pelet, dia salah target karena rabun.
Aku berlari ke motor. Sugeng berhasil menyalakan mesin motor tepat ketika aku menaruh bokongku di jok belakang. Dia lekas menarik gas dan pergilah kami dari gua itu. Setelah agak jauh dari gua, aku iseng menoleh. Kulihat para hantu itu berjejer di depan gua, sembari mengutuk kami. Saking marahnya, kedua pengantin mengacungkan jari tengahnya pada kami.
Aku nggak tahu jam berapa kami sampai di rumah Sugeng, tetapi belum ada tanda-tanda matahari akan terbit. Begitu memarkir motor, Sugeng menuju teras dan duduk di lantai dengan lemas. Ia terisak. Tampak air mata mengalir ke pipinya.
"Kamu pasti takut banget, ya?" Aku jadi iba. Saking takutnya, dia sampai menangis.
Setelah mengusap air mata dengan punggung tangan, tangisannya malah makin menjadi-jadi. "Istriku ketinggalan."
Ya lord, aku sampai lupa bantal bergambar waifunya tertinggal di gua. Untungnya aku masih berhasil menyelamatkan buku mantraku. Seharusnya, di pintu gua diberi peringatan agar siapa pun yang masuk harap memperhatian barang bawaan. Ketinggalan barang bukan tanggung jawab penunggu gua.
Dengan penuh rasa simpati, aku mengelus pundaknya. "Ikhlasin aja."
"Nggak bisa!" serunya kemudian memberingsut hidung. "Gimana kalau dia nanti dipeluk Bang Genderuwo atau Mas Pocong?"
Aku memutar bola mataku. "Beli aja lagi. Lagian 'istri'mu yang itu udah kotor. Kulitnya aja kusam, bau iler pula."
Sugeng terisak semakin dalam. "Dia udah nemenin dari aku masih susah."
"Lah, emangnya sekarang kamu udah sukses?" tanyaku.
Dia mengusap ingusnya dengan punggung tangan sebelum menjawab, "Belum, sih."
"Ya udah, beli lagi aja. Emang kamu berani balik ke gua itu? Aku sih nggak berani."
Dia terdiam sebentar, sepertinya sedang menimbang-nimbang, worth it atau nggak masuk ke gua itu lagi. "Ya udah deh," akhirnya dia memutuskan. "Aku beli 'istri' baru. Kali ini aku mau beli dua, buat cadangan."
"Nah, gitu, dong!"