Pernahkan kalian mengalami hari di mana kesialan dan keberuntungan menjadi satu? Yeah, hari ini aku mengalaminya. Bermula ketika Budhe memergokiku dan Sugeng dalam situasi yang menimbulkan kesalahpahaman. Dengan terbata, plus sahut-sahutan, kombo timpal menimpali, aku dan Sugeng meluruskan kesalahpahaman tersebut. Pada situasi yang ruwet, ibuku mendadak muncul. Dia melongok dari pintu.
"Ada apa, sih?" tanyanya memandang kami bergantian.
"Ini lho, Yu—"
Tanpa pikir panjang, aku segera memotong perkataan Budhe dengan tertawa keras. Keras sekali hingga air mataku keluar. Mungkin mereka pikir aku gila, tetapi masa bodoh. Kurasa aku benar-benar jadi gila. Perasaanku kacau balau. Bagaimana tidak? Sudah gagal ritual, gagal kabur, disangka hombreng pula. Sudah jatuh, tertimpa keteknya gorila pula. Aku meratapi nasibku yang selalu apes.
Wajah Budhe dan Sugeng tampak terkejut sekaligus jijik saat melihatku tertawa. Namun ibuku malah manggut-manggut puas.
"Idih, anakmu kenapa, Yu?" tanya Budhe memandangku dan ibuku secara bergantian.
Aku tersengal, tetapi sudah berhenti tertawa. Air mataku sampai menetes ke pipi. Dari mataku yang basah, kulihat ibuku mengelus bahu Budhe. Dengan tenang dia berkata, "Nggak apa-apa kok, Yu. Dia itu lagi memperdalam ilmunya."
Yu di sini bukan Yuyu atau Ayu, aniway. Kalau di desa, apalagi daerah Jawa Tengah, ibu-ibu memanggil sesamanya dengan Yu, seperti Yu Marsi, Yu Nem, Yu Di. Kalu di kota mungkin Jeng, Bu, atau malah Madam.
Kulirik Sugeng yang menutup mulut rapat-rapat. Dia juga mencengkeram ujung handuknya erat-erat supaya nggak lepas lagi.
"Ilmu? Ilmu apa?" tanya Budhe bingung.
"Wiro ini habis kusuruh ritual di gua, Yu. Jadi, mungkin sekarang dia kayak gini karena lagi penyesuaian sama jinnya."
"Oalah ...." Budhe memandangku dengan aneh.
"Heleh, penyesuaian apanya?" timpal Sugeng, yang membuatku memelotot padanya. "Semalam, kita tuh ga—"
Aku segera menarik handuknya lagi. Gigiku kugertakkan ketika menirukan dialog film horor yang pernah kutonton, "Ora sah melok-melok yo, Nduk!"
Sugeng mempertahankan cengkeramannya. "Dih, apaan, sih? Ndak-nduk, ndak-nduk! Aku itu Le."
Aku igin menjawab kalau di dialog hantu di film yang kutonton itu Nduk, bukan Le. Namun, kalau aku bersuara lagi, takutnya kebohonganku terkuak. Jadi, aku mengabaikan protes kawanku itu.
Kulihat Budhe pucat pasi saat aku memerankan Baradahuwi ... eh, maksudku, Badawaruhi ... eh, Bawaha--ah, pokoknya itulah. Dengan panik, ia menarik lengan Sugeng, menjauhkannya dari jangkauanku.
"Tuh, kan, Yu!" seru ibuku, tetap dengan nada santai tapi penuh kemenangan. "Apa kubilang. Tahapan awalnya tuh emang gini. Biasanya kalau lagi 'ngilmu', mereka suka ngelantur gitu. Kayak sebentar-sebentar nangis, sebentar-sebentar ketawa sendiri, atau ngomong ngawur, atau narik-narik orang ngancam mau dimakan. Ini proses namanya, Yu."