Seharusnya aku belajar dari pengalamanku yang sudah-sudah, terutama tentang mengikuti saran Sugeng. Karena bukan perawat maupun satpam yang menyambutku ketika aku melewati pintu rumah sakit, melainkan suster ngesot. Katanya makhluk itu suka tidur siang. Namun ternyata enggak. Katanya juga dia seseksi Nikita Mirzani, tetapi ya ampun, apanya yang seksi?
Memang sih, kancing kemeja makhluk itu sedikit terbuka dan bagian lengannya robek, roknya tersibak hingga memperlihatkan paha. Rambutnya yang diikat ke belakang tampak berantakan, sebagian jatuh ke pipi. Penampilannya bakal tampak seksi, liar, dan menantang, persis seperti Dewi Persik waktu menyanyikan Gudang Garam Jaya seandainya nggak ada bopeng dari kulitnya, nggak ada belatung yang mengikis korengnya, dan nggak ada darah yang keluar dari matanya. Bibirnya pucat, membiru malah.
Dadanya nggak seaduhai Nikita Mirzani maupun Dewi Persik, tetapi lumayan. Hanya saja, pakaiannya yang penuh debu dan kucel membuatku nggak tertarik. Tangannya begitu kurus, hingga kukira kulit berbalut tulang—eh, terbalik. Pokoknya begitulah. Jari-jarinya panjang dengan kuku yang tajam. Dan ketika dia mengedip, menggigit bibir bawah, lalu mengerang awrrrr sembari memamerkan cakarnya untuk menggoda, aku berpikir seribu kali untuk membawanya ke ranjang.
Sekuat tenaga aku berpura-pura nggak bisa melihatnya. Aku melangkah menuju lobi dan menemui perawat sungguhan di sana. Seorang manusia. Begitu sampai di depan pintu rumah sakit, Ibu meninggalkanku. Dia buru-buru masuk sementara aku harus memarkir motor dulu. Dia bahkan nggak memberitahuku kamar berapa Bapak dirawat.
Lobi rumah sakit sepi siang sini. Waktu sudah memasuki pukul 14.00. Di bagian pendaftaran juga kosong. Hanya ada beberapa petugas kebersihan yang berlalu lalang. Rumah sakit di daerahku nggak begitu besar. Peralatannya pun nggak secanggih rumah sakit di kota. Malahan lebih mirip klinik ketimbang rumah sakit. Pintu ruangan dokter-dokter spesialis banyak yang tertutup, dengan tulisan ‘Tidak Tersedia’. Ada satu layar yang tertempel di dinding pojok, memperlihatkan nomor antrean 39 untuk dokter umum. Ac menyala kencang, membuatku menggigil.
"Ada yang bisa saya bantu, Mas?" tanya si perawat dengan senyum ramah. Dia berdiri di balik meja tinggi. Perawat yang ini lebih bisa dibilang mirip Nikita Mirzani. Cantik, manis, pokoknya siplah.
"Kalau ini aku mau bawa ke ranjang," gumamku tanpa sadar.
Dia mengernyit. "Maaf? Tadi Masnya bilang apa?"
Aku cepat-cepat menggeleng, lalu mengoreksi. "Maksudku, mau ke ranjang Bapak—eh, bukan. Kamar Bapak ada ranjang—duh!" Kutampar bibirku dengan kesal. Peralihan yang begitu mendadak dari si hantu buruk rupa ke malaikat elok rupawan membuat organ-organku tidak bekerja dengan sempurna. Lidahku terserimpet ketika bicara. Sungguh memalukan. Setelah menenangkan diri, aku pun menjelaskan, "Maksudku, aku ingin nanya nomor kamar ayahku, Mbak."
"Oh!" Perawat itu tersenyum. "Nama ayah Mas siapa?"
Kusebutkan nama bapakku padanya dan nggak lama kemudian dia memberiku petunjuk arah. Setelah mengucap sampai ketemu lagi, aku pun berlalu dari hadapannya. Baru ketika mencapai mulut lorong rumah sakit, aku teringat belum minta nomor WA-nya. Dan saat berbalik untuk sekadar tanya nama, perawat itu sudah nggak kelihatan. Yang ada malah si perawat buruk rupa, tengah beringsut ke arahku.
"Kok malah kamu, sih?" Reflek aku bertanya.