Aku nggak berani masuk ke kamar bapakku dirawat. Aku takut bertemu dokter. Bukan, bukan karena takut disuntik, atau karena wajah dokternya mirip hantu-hantu yang kutemui, melainkan aku takut mendengar diagnosanya. Sebelumnya aku yakin Bapak pasti baik-baik saja. Dia sudah mendapatkan penanganan yang tepat dan akan sembuh. Namun, mendengar isakan Ibu, aku jadi nggak yakin.
Kudengar suara Anin mendekat yang bertanya apa yang harus ia lakukan pada dokter. Dia tampak terkejut saat melihatku, tetapi hanya sebentar. Dia mengangguk dengan serius tatkala sang dokter memintanya menunggu di lantai bawah.
"Oke, makasih, Dok," katanya ketika dokter itu berbalik dan pergi.
“Nin?” panggilku yang berdiri di depn pintu. “Bapak kenapa?”
Adikku menggeleng. Wajahnya tampak lesu. “Bapak, Mas ....”
“Iya, Bapak kenapa? Ibu juga nangis kenapa?” Aku nggak sabar.
Anin malah menghela napas panjang. “Lihat aja sendiri, Mas. Aku nggak tega.”
Aku mendecakkan lidah. Alasanku bertanya adalah untuk mendapat spoiler, tetapi malah disuruh nyari tahu sendiri. Mau nggak mau, aku pun masuk.
Kamar Bapak cukup luas. Begitu masuk aku disambut tiga tirai yang berjajar memanjang seperti lorong. Tirai-tirai itu tertutup. Di dinding depan masing-masing tirai tertempel kipas angin. Kamar mandi ada di pojok ruangan. Jendela terbuka berada di ujung dinding kamar.
Jantungku mencelos saat kubuka salah satu tirai di kamar Bapak. Kudapati sesosok mumi terbaring di ranjang. Semua tubuhnya nyaris tertutup perban. Hanya tinggal mata yang masih memelotot padaku, hidung yang cupingnya kembang kempis, dan mulut yang komat-kamit nggak jelas. Tangannya kaku di samping tubuh. Salah satu kakinya terangkat, disangga oleh bantal.
"Bapak?" Tangisku pecah saat menghambur ke sisinya. "Bapak kok jadi gini, sih? Emang mulut nyamuk Aedes Aegypti yang gigit Bapak setajam apa sampai-sampai semua bagian tubuh dibalut perban kayak gini?"
Aku terisak ketika bapakku nggak bisa bicara. Ia hanya bisa menggeram, "Ehm, ehm, ehm."
"Ya ampun, Bapak ..," ratapku memeluk dadanya.
Mendadak saja seseorang menarik lenganku.
"Kamu ngapain to, Mas?" Anin mendesis padaku. Matanya memelotot aneh.
“Bapak, Nin,” sahutku menunjuk keadaan Bapak.
Sembari menggertakkan gigi, Anin memberitahuku, “Itu bukan Bapak.”
“Lho, kok bisa? Perawat di bawah tadi bilang ini nomor kamarnya Bapak, lho, Nin,” sanggahku.
Anin mendecakkan lidah. “Ini kan ruangan kelas tiga, Mas! Satu kamar buat tiga orang. Jangan malu-malui gitu, ah!” Ia lantas beralih pada mumi yang kukira Bapak dengan berkata, “Maaf ya, Pak.”
Aku mengikutinya keluar dari bilik tirai. Ia lantas menunjuk tirai yang di tengah sebelum berkata, “Itu lho, Bapak di situ.”
Kulihat Ibu mengintip dari celah tirai yang terbuka. Dia tampak menyeka pipi. “Oh,” kataku.
“Sana masuk!” ujar adikku. “Aku mau ke bawah dulu, nemuin Pak Dokter yang tadi.”
"Oh, oke." Kuamati adikku menghilang ke luar. Aku mendekat ke tirai. Namun, sebelum menyibaknya, aku merasakan sesuatu yang familiar. Bau pandan yang khas menyengat hidungku. Udara berembus di dekat telingaku. Bukan angin dari kipas, tetapi sesuatu yang lebih dingin, yang membuat bulu kudukku meremang.
Aura gelap kulihat menguar di balik tirai ruangan Bapak dirawat, seperti asap pekat. Namun, itu belum seberapa. Begitu aku mengintip tirai, jantungku rasanya mau copot.
Bapak merintih kesakitan. Ibu duduk di tepi ranjang, mencoba menenangkan. Tangannya beberapa kali mengelus pundak Bapak. Namun, yang membuatku syok adalah sosok makhluk berbadan besar dan berbulu duduk di atas kaki Bapak yang menjulur di atas ranjang. Makhluk itu menengok ketika aku mengintip. Mata merahnya amat kukenal. Maksudku, aku pernah bertemu dengannya. Dia adalah genderuwo yang sama dengan genderuwo yang meminta Thai Tea Boba, dan mungkin dia jugalah makhluk besar yang kulihat di depan pintu gua kemarin.
Kudengar Bapak merintih. Ia setengah berbaring di ranjang. Satu tangannya mengelus lutut beberap kali.