Lampu kamar rumah sakit memancarkan cahaya pucat, membuat bayangan samar di dinding putih yang dingin. Bau obat dan antiseptik masih mengambang di udara. Tirai hijau yang menjadi penyekat ditutup rapat-rapat. Aku masih berdiri di ujung ranjang, sementara Bapak masih setengah berbaring. Si genderuwo asik mengelabang bulu kakinya. Ia belum beranjak dari kaki Bapak.
"Sini!" Bapak mengibaskan tangan, memintaku mendekat. Jelas, aku menggeleng.
"Nggak usah takut," kata bapakku menenangkan.
"Kata si genderuwo, Bapak nggak bisa lihat dia."
Bapak mendecakkan lidah. "Udah, abaikan aja dia."
Perlahan, kakiku melangkah. Kulirik si genderuwo yang tampak sedang menjenggit sesuatu dari balik bulunya. Aku menduga ia tengah mencari kutu, tetapi mana mungkin? Memangnya hantu bisa punya kutu?
"Duduk sini," tambah Bapak menunjuk kursi di samping ranjang. Perhatianku belum teralihkan dari si hantu, bahkan setelah duduk. Baru ketika Bapak bertanya apakah aku benar-benar melihat genderuwo menduduki kakinya, aku baru menoleh.
"Pak, jujur sama Wiro," pintaku.
Bapak menghela napas berat. Ia lantas mengangguk. "Bapak emang nggak bisa lihat mereka."
Aku tercengang. Oke, mungkin aku sudah menduga jawaban ini, tetapi tetap saja, mendengar pengakuannya secara langsung membuatku syok. "Tapi kok bisa Bapak jadi dukun? Terus, gimana cara Bapak kerja sama dengan hantu-hantu itu untuk menyantet dan sebagainya? Apa gunanya ritual yang Bapak jalani selama ini? Gimana dengan kakek moyang Bapak, yang katanya juga dukun? Ibu bilang, ilmu itu turun temurun. Terus—"
"Ssst!" Bapak menjepit bibirku dengan jemarinya, menghentikan cerocosanku. "Pertama-tama, marilah kita panjatkan--"
"Pak!" seruku memotong ucapannya. "Aku butuh penjelasan, bukannya pidato."
Bapak tersenyum. Aku tahu dia hendak melucu, tetapi please, deh! Sekarang bukan waktu yang tepat.
"Jadi, gini," katanya akhirnya. "Bapak mau cerita awal mula alasan Bapak jadi dukun. Tapi, janji dulu. Jangan bilang-bilang sama Ibu."
Keningku mengernyit. "Kenapa?"
"Pokoknya dengerin Bapak dulu. Don jat de buk .... Apa lanjutannya? Buk gedebuk debuk?" Bapak menatapku dengan kening mengernyit, sementara aku bersungut-sungut marah.
“Udahlah, Pak. Pakai bahasa manusia aja.” Aku cemberut.
"Ya udah! Intinya jangan hakimi Bapak sebelum mendengar alasan Bapak,” terangnya. “Dulu waktu muda, Bapak kepincut sama ibumu. Waktu itu ibumu adalah gadis paling cantik yang pernah Bapak temui.”
“Masa?”
“Lho, tenan to. Dibilang dengerin Bapak dulu kok. Komen mulu.”