Mereka Sebut Aku Orang Pintar

IyoniAe
Chapter #17

Bab 17. Kebelet Ritual

Adakah hal yang lebih horor ketimbang malam-malam dibonceng emak-emak yang kebelet ritual, yang nggak bisa baca rambu lalu lintas, dan yang nyalain sein kiri tapi belok kanan? Kurasa nggak ada. Asal kalian tahu, sensansinya seperti naik roler coaster tanpa sabuk pengaman. Beberapa kali aku berteriak, mengoreksi cara berkendara ibuku.

"Lampunya masih merah, Bu!" seruku ketika dia menerobos lampu merah.

"Halah, bentar lagi juga jadi ijo," jawabnya.

"Awas, di depan ada polisi!"

"Kalau ditangkep, nanti kita santet saja. Kempesin perutnya yang gendut itu."

"Bu!" Aku frustrasi. Kudengar peluit dari Pak Polisi. Bukannya menepi, Ibu malah tancap gas. Angin menerpa wajahku dengan keras, sampai-sampai rambutku tersibak ke belakang. Dan saat bicara, bibirku nggak bisa mengatup. "Hean-hean!"

"Apa?" tanya ibuku, menengok. Kucengkeram erat jaketnya. Jantungku nyaris melompat ketika motor menginjak polisi tidur. Bokongku sampai terangkat dari jok.

Kuputuskan untuk nggak bicara lagi. Aku takut mengganggu konsentrasinya yang mungkin akan berakibat aku kehilangan nyawa, terutama ketika melewati jalan desa. Rasanya aku ingin menempelkan lem ke bokongku yang terus terangkat dari jok. Beberapa kali, jantungku mencelos. Jiwaku seolah tercerabut saat Ibu melakukan manuver tajam di tepi jalan yang curam. Sekarang aku tahu alasan Bapak nggak mau ganti motor yang lebih kekinian. Dikendarai sekali oleh ibuku sudah pasti motornya bakal terbelah jadi dua.

Lututku gemetaran ketika turun. Aku sampai terduduk di tanah, nggak sanggup bangun, sementara ibuku memarkir sepeda motornya. Wajahku pasti pucat pasi.

"Ngapain kamu di situ?" tanya Ibu melewatiku. Dia mengambil kunci dari tas lalu membuka pintu rumah. "Efek habis nyembuhin Bapak, to?"

Aku tak mampu bereaksi. Seluruh tenagaku seolah terkuras. Terus terang, dari semua pengalamanku bertemu hantu, dibonceng Ibu menjadi pengalaman yang paling menakutkan.

"Nanti kalau sering nyembuhin orang juga bakal terbiasa," komentar Ibu sembari masuk ke rumah.

Nggak ada upaya untuk menolongku. Memapahku, misalnya. Serius tanya, apakah ibu kalian juga seperti ini?

"Wir! Udah belum?" Kudengar Ibu nggak sabar.

Terpaksa, aku bangkit. Jalanku menjadi aneh, dan jantungku yang bertalu-talu masih belum stabil. Aku kembali mengempaskan tubuhku ke kursi tamu begitu masuk ke rumah.

Seolah nggak mau membiarkanku istirahat, Ibu keluar dari pintu dapur, menyuguhkan sebuntal persembahan untuk ritual di meja. Ada kembang tujuh rupa, dupa, kelapa, rokok, dan sebagainya. "Nih, balik ke gua dan ucapin terima kasih sama jin di sana."

Aku menggeleng. "Mbok ya sabar to, Bu. Aku lho hampir mati dibonceng Ibu. Badanku sampai lemes saking takutnya. Kasih minum, kek! Masa udah disuruh ritual lagi!”

Ibuku mendecakkan lidah. "Udah, cepet sana!”

Lihat selengkapnya