Mereka Sebut Aku Orang Pintar

IyoniAe
Chapter #18

Bab 18. Dukun Centang Biru

Tentu saja, seperti yang sudah-sudah, setiap minggat hanya satu yang kutuju. Rumah Sugeng. Bedanya kali ini, aku nggak keberatan disuruh memperbaiki genteng sampai dikira maling oleh tetangga. Aku nggak keberatan direkam dan diviralkan karena dianggap alien nyasar. Yang penting, aku nggak disuruh pulang.

Aku muak sama Ibu. Bagaimana bisa ia membiarkan Bapak menipu warga? Dari dulu aku percaya Bapak dukun. Tapi, ternyata bukan. Dia nggak bisa lihat hantu. Itu artinya, dia nggak bisa ngobrol sama jin, apalagi buat perjanjian dengan mereka. Ritual-ritualnya pasti cuma akal-akalan, mantra-mantranya juga ngaco, lalu ketika kesurupan, dia pura-pura saja. Dan yang paling membuatku kecewa adalah orang-orang percaya! Mereka rela bayar mahal, bawa sesajen, bahkan menyerahkan emas kawin, hanya demi santet, penyembuhan, pesugihan, dan entah apa lagi yang sebenarnya nggak pernah terjadi.

Aku kesal, tetapi perasaan bersalah diam-diam bercokol di hatiku. Kusadari bahwa aku juga bagian dari kebohongan itu hanya karena aku anak mereka. Rasanya seperti seseorang yang dikhianati tetapi juga mengkhianati dan akhirnya terkhianati oleh pengkhianat dan ... ah, pokoknya rumitlah. Aku sendiri bingung mendeskripsikannya. Intinya aku sakit hati.

Di atas atap rumah Sugeng, aku menatap langit. Hari sudah berubah menjadi malam. Angin dingin menampar wajahku. Rasa lapar mampu kuabaikan. Aku terlalu penasaran, dari sekian banyak klien Bapak, kenapa nggak ada satu pun yang memprotes bahwa santet Bapak nggak bekerja, atau guna-gunanya nggak manjur, atau peletnya nggak berfungsi? Kenapa? Enggak mungkin, kan, Bapak mendapat kebetulan secara terus menerus, seperti orang-orang yang seharusnya disantet kebetulan esoknya sakit, atau cewek-cewek yang dipelet kebetulan bucin sama pemeletnya? Dan kebetulan itu terjadi selama bertahun-tahun. Rasanya mustahil. Jangan-jangan mereka nggak memprotes karena takut Bapak bakal mencelakai mereka? Atau malah Bapak beralasan sehingga lebih banyak menipu mereka?

Aku mendesah panjang. Tiba-tiba saja aku teringat klien-klien yang Bapak tipu. Bagaimana kalau salah satu dari mereka mengalami kehancuran yang begitu parah tetapi nggak sadar bahwa Bapaklah yang menghancurkannya? Bagaimana kalau mereka terus percaya Bapak bisa mengubah hidup mereka hingga mengorbankan segalanya? Aku jadi merinding.

Kugenggam palu sampai jemariku kaku. Semakin kupikir, semakin aku yakin. Mungkin niatku untuk bilang pada warga tepat. Mungkin besok aku akan mendatangi rumah klien Bapak lalu kuberitahu mereka yang sebenarnya. Dengan bahasa paling sopan yang kubisa, tentu saja. Aku juga akan mewakili Bapak meminta maaf. Biarlah aku yang menjadi sasaran kemarahan. Dengan begitu, Bapak dan Ibu berhenti menjadi penipu dan mereka juga nggak akan diapa-apakan warga.

Mungkin Bapak akan marah padaku, Ibu akan membunuhku, dan Anin menganggapku anak durhaka. Tapi lebih baik begitu daripada terus hidup dalam kebohongan, kan? Biarlah aku dicap sebagai pengkhianat keluarga, daripada jadi kaki tangan penipu yang merugikan orang banyak.

Aku menarik napas dalam-dalam, menatap ke arah jalan desa. Dalam hati aku bertanya-tanya, benarkah keputusanku ini? Aku mendesah lagi, mengabaikan rasa nggak enak dalam hatiku.

Aku turun dari genteng dengan hati-hati, palu masih berada di genggamanku. Begitu menjejak tanah, aku mendengar tawa kecil dari dalam rumah. Di ruang tamu, terdengar suara campuran antara perempuan cerewet dan musik koplo dari ponsel. Aku melongok lewat jendela, ternyata Sugeng dan Budhe sedang duduk bersama, menonton YouTube. Sugeng cengar-cengir, sementara Budhe menyimak dengan raut serius, seperti tengah mendengarkan informasi rahasia.

"Gentengnya udah beres, Broh?" tanya Sugeng saat aku masuk. Ia menggeser duduknya agar aku bisa ikut menimbrung.

Aku mengangguk. Aku duduk di tengah-tengah mereka tanpa melepas palu. Budhe menoleh sekilas, lalu menyeletuk, "Lha, kok bawa palu ke ruang tamu to, Le? Emangnya mau masuk YouTube juga?"

Aku terdiam sebentar, kemudian menjawab, "Emang, ada palu masuk YouTube?"

"Cakep!" Sugeng menimpali.

Lihat selengkapnya