Tentu saja, seperti yang sudah-sudah, setiap minggat hanya satu yang kutuju. Rumah Sugeng. Bedanya kali ini, aku nggak keberatan disuruh benerin genteng sampai dikira maling oleh tetangga. Aku nggak keberatan direkam dan diviralkan karena dianggap alien nyasar. Yang penting, aku nggak disuruh pulang.
Aku muak sama Ibu. Bagaimana bisa ia membiarkan Bapak menipu warga? Dari dulu aku percaya Bapak dukun. Tapi, ternyata bukan. Dia nggak bisa lihat hantu. Itu artinya, dia nggak bisa ngobrol sama jin, palagi buat perjanjian dengan mereka. Ritual-ritualnya pasti cuma akting, mantra-mantranya juga ngaco, lalu ketika kesurupan, dia pasti cuma pura-pura. Dan yang paling bikin aku kecewa adalah orang-orang percaya! Mereka rela bayar mahal, bawa sesajen, bahkan nyerahin emas kawin, hanya demi santet, penyembuhan, pesugihan, dan entah apa lagi yang sebenarnya nggak pernah terjadi.
Aku kesal, tetapi perasaan bersalah diam-diam bercokol juga di hatiku. Kusadari bahwa aku juga bagian dari kebohongan itu hanya karena aku anak mereka. Rasanya seperti seseorang yang dikhianati tetapi juga mengkhianati dan akhirnya terkhianati oleh pengkhianat dan ... pokoknya rumitlah. Aku sendiri bingung mendeskripsikannya. Intinya aku sakit hati.
Di atas atap rumah Sugeng, aku menatap langit. Hari sudah berubah menjadi malam. Angin dingin menampar wajahku. Rasa lapar mampu kuabaikan. Aku terlalu penasaran, dari sekian banyak klien Bapak, kenapa nggak ada satu pun yang memprotes bahwa santet Bapak nggak bekerja, atau guna-gunanya nggak manjur, atau peletnya nggak berfungsi? Kenapa? Enggak mungkin, kan, Bapak mendapat kebetulan secara terus menerus, seperti orang-orang yang seharusnya disantet kebetulan esoknya sakit, atau cewek-cewek yang dipelet kebetulan bucin sama pemeletnya? Dan kebetulan itu terjadi selama bertahun-tahun. Rasanya mustahil. Jangan-jangan mereka nggak protes setelah santet atau guna-guna nggak berhasil karena takut Bapak bakal mencelakai mereka? Atau malah Bapak beralasan sehingga lebih banyak menipu mereka?
Aku mendesah panjang. Tiba-tiba saja aku teringat klien-klien yang Bapak tipu. Bagaimana kalau salah satunya malah mengalami kehancuran yang begitu parah tetapi nggak sadar bahwa Bapaklah yang menghancurkannya? Bagaimana kalau mereka terus percaya Bapak bisa mengubah hidup mereka hingga mengorbankan segalanya? Aku jadi merinding.
Kugenggam palu sampai jemariku kaku. Semakin kupikir, semakin aku yakin. Mungkin niatku untuk bilang pada warga tepat. Mungkin besok aku akan menatangi rumah klien Bapak dan kuberitahu mereka sesungguhnya. Dengan bahasa yang paling sopan yang kubisa. Aku juga akan mewakili Bapak meminta maaf. Biarlah aku yang menjadi sasaran kemarahan. Dengan begitu, Bapak dan Ibu berhenti menjadi penipu dan mereka juga nggak akan diapa-apakan warga.
Mungkin aku akan dimusuhi. Mungkin Bapak akan marah padaku, Ibu akan membunuhku, dan Anin menganggapku anak durhaka. Tapi lebih baik begitu daripada terus hidup dalam kebohongan. Biarlah aku dicap sebagai pengkhianat keluarga, daripada jadi kaki tangan penipu yang merugikan orang banyak.
Aku menarik napas dalam-dalam, menatap ke arah jalan desa. Di kepalaku hanya ada satu tekad. Semua orang harus tahu kebenaran ini.
Aku turun dari genteng dengan hati bergejolak, palu masih kugenggam seolah senjata. Keringat bercampur debu jatuh ke wajahku, tapi bukan itu yang membuat napasku berat, melainkan tekad yang membara.
Begitu kaki menjejak tanah, suara tawa kecil menyambutku. Dari ruang tamu, terdengar suara perempuan cerewet diiringi musik koplo dari ponsel. Aku melongok lewat jendela, ternyata Sugeng dan Budhe sedang duduk bersama, menonton YouTube. Sugeng cengar-cengir, sementara Budhe menyimak dengan raut serius, seperti tengah mendengarkan informasi rahasia.
"Gentengnya udah beres, Broh?" tanya Sugeng sambil geser duduk agar aku bisa ikut nimbrung.
Aku mengangguk. Aku duduk di tengah-tengah mereka tanpa melepas palu. Budhe menoleh sekilas, lalu nyeletuk, "Lha, kok bawa palu ke ruang tamu? Emangnya mau masuk YouTube juga?"
Aku terdiam sebentar, kemudian menjawab, "Emang, ada palu masuk YouTube?"