Anin jarang menangis. Bahkan ketika kukerjai sedemikian parah, dia tetap nggak menangis. Boleh dibilang, dia paling tegar di keluargaku. Namun kini, kulihat dia menangis. Perasaanku jadi nggak enak.
Aku sampai berpikir macam-macam. Jangan-jangan Anin habis memotong bawang merah satu truk, atau jerawatnya nggak sengaja kepencet. Tetapi ternyata bukan. Anin menangis karena Bapak.
Begitu sampai rumah, kulihat Bapak terbaring di kamar. Dia seperti orang mati, tetapi hidup. Dan seperti orang hidup, tetapi mati. Intinya, napasnya terasa. Hanya saja, tubuhnya terbujur kaku, bibirnya pucat. Matanya terbuka, bahkan memelotot. Tangannya terkepal di samping tubuh. Dia bagai cangkang kosong.
Anin menghambur duduk di samping ranjang tempat Bapak berbaring. Dia mencoba membangunkan Bapak dengan mengguncang tubuhnya, tetapi nggak ada respons sama sekali.
Ibu datang sembari membawa segelas air. Ia sengaja menyenggol bahuku dengan keras ketika lewat. Ia juga melengos, nggak mau memandangku. Persis seperti anak sekolah yang cemburu pacarnya direbut. Fix, dia masih marah padaku.
Perlahan, aku masuk ke kamar. Aku meremas bahu Anin, untuk menahan tangis yang hendak keluar. “Bapak kenapa, Nin?” tanyaku.
Anin menoleh. Ia mengusap air matanya. Ia membuka mulut, hendak menjawabku, tetapi menutupnya lagi. Matanya tertuju pada Ibu yang menggeleng pelan. Ia lantas mendesah panjang, sebelum membenamkan kepala ke ranjang Bapak.
“Ngapain anak pembangkang ini balik, Nin?” Meski bertanya pada adikku, tapi aku tahu pertanyaan itu untukku.
“Sebenarnya, ada apa ini, Bu?” tanyaku balik. Aku nggak mau memulai pertengkaran di tengah keadaan Bapak yang seperti ini. “Kenapa Bapak jadi begini?”
Setelah meletakkan gelas ke nakas di samping ranjang Bapak, Ibu duduk di samping Anin. Ia meraih selimut tambahan, melipatnya di pangkuan. Tangannya tampak meremas selimut itu seolah si selimut adalah anak kecil yang patut dicubit karena nakal. “Sok peduli! Bukannya katanya mau koar-koar kalau bapak dan ibumu penipu ya, Nin?”
“Bu!” tegurku.
Ibu melempar selimut itu ke ranjang, hingga membuat Anin tersentak. Ia bangkit. Matanya memerah ketika memelotot padaku. “Kenapa? Apa perkataan Ibu salah? Kamu memang mau koar-koar kalau kita penipu, kan? Udah puas ngehancurin nama baik keluarga? Udah puas nutup usaha bapakmu?”
Nada suara Ibu penuh kedengkian, membuat hatiku sakit. “Bukan itu niatku, Bu.”
“Halah! Nggak usah sok jadi pahlawan! Pakai acara mau bongkar penipuan segala! Kamu itu nggak tahu apa-apa. Bapak nggak pernah nipu warga! Dia toh nggak merugikan siapa-siapa!”
Aku menyanggah, “Nggak merugikan gimana? Jelas merugikan dong, Bu! Klien-klien Bapak kan bayar Bapak buat ritual-ritual yang nggak ada gunanya.”
“Siapa bilang nggak ada gunanya?” Ibu nyaris berteriak saat bicara. “Kamu itu sok tahu!”
Anin bangkit. Ia menenangkan ibuku dengan memeluknya. “Udah, Bu, udah. Bapak nanti keganggu.”