Aku nggak tahu apa yang terjadi tetapi ketika pulang, aku mendapati keadaan Bapak yang membuatku merinding. Bapak terbaring di kamar. Dia hidup, napasnya terasa. Hanya saja, dia seperti orang mati. Tubuhnya terbujur kaku, bibirnya pucat. Matanya terbuka, bahkan memelotot. Tangannya terkepal di samping tubuh. Dia bagai cangkang kosong.
Anin menangis. Dia duduk di samping ranjang. Dia mencoba membangunkan Bapak dengan mengguncang tubuhnya, tetapi nggak ada respons sama sekali. Aku menoleh pada Ibu yang menangis di sampingku.
“Kenapa Bapak jadi begitu?” tanyaku.
Sembari terisak, Ibu menjelaskan, “Setelah pulang dari rumah sakit, Ba-bapak sehat-sehat aja, Wir. Di-dia nggak kenapa-kenapa. Kem-kemarin aja, waktu klien-kliennya datang, dia ke-ketawa-ketawa. Tapi ta-tadi ada laki-laki yang datang dari jauh. Ka-katanya mau minta tolong sama Bapak buat ban-bantuin ritual pesugihan. Katanya dia habis ditipu temannya gi-gitu, trus dipenjara dan dijauhi keluarga. Dia pengin da-dapat uang instan. Jadi, Bapak bantuin. Ba-baru juga mulai ritual, eh tiba-tiba Bapak kejang, kayak orang ke-kesurupan. Habis itu Bapak ....” Ibu menangis.
Aku mengelus pundak Ibu. Semarahnya aku padanya, saat melihatnya menangis, aku nggak tega. “Sekarang, laki-laki itu mana?”
Anin yang menjawab, “Disuruh pulang sama Ibu, Mas.”
Aku mendekat ke ranjang Bapak. Kuamati tubuhnya dengan teliti. Kugenggam tangannya yang mengepal. Aku bisa merasakan ototnya yang tegang, seolah menahan siksaan. Bibirnya sedikit menganga. “Kalian belum manggil dokter?”
Ibu menggeleng. Ia mengusap air matanya. Masih terisak, ia berkata, “I-ibu yakin ini bukan sakit medis, Wir. Ibu pernah lihat te-tetangga Ibu dulu juga begini. Tapi waktu itu, kakekmu bisa nyembuhin. Kata ka-kakekmu, tetangga Ibu dibawa sukmanya ke alam lain. Ma-makanya Ibu nyari kamu. Ibu minta tolong, ba-bawa bapakmu balik. Kamu satu-satunya yang bisa nolong Bapak.”
Aku menelan ludah dengansusah payah. Bertemu hantu di dunia manusia saja aku takut, apalagi pergi ke dunia mereka. “Aku nggak tahu caranya, Bu.”
“Nanti Ibu bantuin,” ujar ibuku.
“Anin juga mau bantu,” timpal adikku.
Aku nggak punya pilihan. Setelah aku menyatakan kesanggupanku, Ibu dan Anin segera menyiapkan sesajen. Ibu yang mengomandoi, sementara Anin wira-wiri mencari barang-barang yang dibutuhkan. Hingga malam datang, mereka baru selesai.
Ketika aku masuk ke kamar Bapak untuk kedua kalinya hari itu, aku tercengang. Kamar itu menjadi asing. Bau dupa memenuhi ruangan. Kelambu putih berubah menjadi merah. Tirai jendelanya pun. Kembang setaman tersebar di lantai. Kegelapan menyelimuti. Cahaya lilin merah menjadi satu-satunya penerang di sana.
Ibu memintaku duduk di lantai samping ranjang Bapak. Sementara Anin dan Ibu duduk di belakangku. Ibu menyuruhku mengambil posisi bertapa, kemudian membisikan sebuah mantra. Aku menuruti perintahnya.
Detik demi detik berlalu, jam demi jam terlewati, tetapi nggak terjadi apa-apa di ruangan itu. Ibu menyuruhku mengulang mantra, tetapi tetap saja percuma. Aku membayangkan setelah melakukan ritual ini akan ada pintu portal ke alam gaib yang terbentuk di depanku. Aku berniat merogoh portal itu saja alih-alih masuk. Setelah itu kucari lengan Bapak, lalu menariknya keluar. Namun, nggak ada lingkaran bersinar di depanku.
Aku melirik jam di dinding. Walau cahaya temaram, aku bisa melihat jarum sudah menunjuk pukul 21.00. Padahal aku yakin ritual ini dimulai pukul tujuh tadi. Artinya sudah dua jam aku duduk bersila. Pantas saja punggungku pegal dan kakiku kram.
Di belakang, sepertinya Ibu penasaran. Dia berbisik pada Anin, bertanya apakah sesajennya ada yang kurang karena aku belum juga masuk ke dunia gaib. Aku lantas berbalik, menghadap ibuku. “Kayaknya aku gagal lagi, deh!”
Ibu menggeleng. Dia meyakinkanku, “Coba lagi, coba lagi!”
“Aku udah baca mantranya puluhan kali lho, Bu, sampai bibirku kering.” Kuselonjorkan kaki agar dapat mengurangi kram. Kerongkonganku nyaris kering. “Air di gelas itu mateng kan, Bu?”
“Tapi itu ....“ Ibu belum selesai bicara ketika aku menenggak air itu. “... air buat genderuwo penjaga portal, Wir.”
Aku menyemburkan air itu saking terkejutnya, lantas terbatuk. Bagai diguyur air es, sesuatu menyentak kesadaranku. Bukan, aku bukannya sedang kesurupan atau melihat portal. Aku ingat genderuwo yang menindih kaki Bapak kemarin dulu. Ia mengancam akan mengerahkan hantu-hantu menganggu Bapak. Jangan-jangan, ini ulahnya.
Aku lekas bangkit. Ibu dan Anin sampai terlonjak.