Mereka Sebut Aku Orang Pintar

IyoniAe
Chapter #20

Bab 20. Hitam, Jongkok, Pohon Pisang

Aku teringat saat Bapak bertemu klien-kliennya. Nggak garang dan sok misterius seperti di film-film, Bapak justru selalu tersenyum. Dia menghibur klien-kliennya dengan candaan. Dia hanya tampak serius ketika menemani klien-klien itu ritual. Dia juga pandai menenangkan orang-orang.

Seperti waktu desa kami dihebohkan oleh isu babi ngepet. Dia memberi saran agar warga nggak keluar malam. Dia bahkan berjaga dengan ikut ronda setiap hari. Sejak itu, pemabuk dan penjudi yang suka kumpul saat malam pun berkurang. Desa jadi lebih aman.

Lalu, ketika ada anak kecil yang menghilang. Dengan alasan disembunyikan wewe gombel, Bapak mengerahkan seluruh warga untuk mencari. Nggak lama, bocah itu ditemukan hanyut di sungai. Dia bertahan dengan berpegangan akar pepohonan. Waktu ditemukan, kedaan sang bocah terlihat kedinginan, tetapi masih hidup. Setelah kupikir-pikir, kalau lapor polisi belum tentu sang bocah bisa bertahan. Menunggu 24 jam si bocah bisa-bisa terseret arus dan tenggelam.

Mengigat hal itu membuatku sadar bahwa mungkin kebohongan lebih berguna ketimbang kejujuran. Aku menyesal telah mengatai Bapak dan Ibu penipu. Kueratkan genggamanku pada tangan Bapak. Aku bisa merasakan ototnya yang tegang. Aku jadi nggak tega. Apalagi saat air liur Bapak menetes. Rautnya yang kosong justru terkesan lemah dan nggak berdaya. Kasihan, aku pun berkata, “Andai bisa, aku pasti bantuin Bapak.”

“Bisa!” Tiba-tiba, ibuku berseru. Ia seolah-olah sudah menungguku berkata demikian.

“Tapi—“

“Kenapa? Nggak mau nolongin Bapak karena nganggap jadi dukun itu rendahan? Nggak wah seperti sarjana?”

Deg! Aku kembali mencelos. “Nggak gitu, Bu. Kalau memang bisa, gimana caranya? Aku nggak ngerti. Apalagi kitab dukun yang Ibu kasih ketinggalan di rumahnya Sugeng.”

 “Ibu bantuin,” ujar ibuku. Ia lantas bangkit. "Ibu udah hafal kitabnya."

“Anin juga mau bantu,” timpal adikku.

Aku menelan ludah dengan susah payah. Kubulatkan tekad. Aku nggak tahu apa yang mesti kulakukan tapi kalau dengan begitu aku bisa menyelamatkan Bapak, maka akan kuhadapi apa pun itu. Setelah aku menyatakan kesanggupanku, Ibu keluar kamar. Anin mengikutinya.

Kudengar Ibu memberi perintah pada Anin untuk menyiapkan sesajen. Sementara Anin mencari barang-barang yang dibutuhkan, Ibu menyuruhku bersiap-siap. Aku nggak tahu harus bersiap untuk apa. Jadi, aku hanya menunggu di ruang tamu sembari mengamati mereka bolak-balik melewati pintu. Hingga malam datang, mereka baru selesai.

Ketika aku masuk ke kamar Bapak untuk kedua kalinya hari itu, aku tercengang. Kamar itu menjadi asing. Bau dupa memenuhi ruangan. Kelambu putih berubah menjadi merah. Tirai jendelanya pun. Kembang setaman tersebar di lantai. Kegelapan menyelimuti. Cahaya lilin merah menjadi satu-satunya penerang di sana.

Ibu memintaku duduk di lantai samping ranjang Bapak. Sementara Anin dan Ibu duduk di belakangku. Ibu menyuruhku mengambil posisi bertapa, kemudian membisikan sebuah mantra.

“Ini adalah ritual raga sukma. Dengan ini sukmamu nanti bakal keluar dari tubuh, trus kamu bisa masuk ke alam gaib dan nyari bapakmu. Kalau sudah di sana, bawa Bapak balik. Ngerti?” jelas ibuku.

Kerongkonganku terasa kering saat mendengar frasa ritual raga sukma. Meski begitu, aku mengangguk. Aku juga menurut ketika Ibu menyuruhku membaca mantra yang dibisikan tadi dengan khidmat.

“Kamu harus menyerahkan dirimu ke penguasa alam gaib supaya berhasil,” katanya lagi.

Aku mengangguk lagi. Aku lantas berkonsentrasi. Kucoba serahkan semua daya dan upayaku agar ritual ini berhasil.

Detik demi detik berlalu, jam demi jam terlewati, tetapi nggak terjadi apa-apa di ruangan itu. Ibu menyuruhku mengulang mantra, tetapi tetap saja percuma. Sukmaku belum juga meninggalkan tubuh. Portal ke alam gaib juga nggak muncul.

Aku melirik jam di dinding. Walau cahaya temaram, aku bisa melihat jarum sudah menunjuk pukul 21.00. Padahal aku yakin ritual ini dimulai pukul tujuh tadi. Artinya sudah dua jam aku duduk bersila. Pantas saja punggungku pegal dan kakiku kram.

Di belakang, Ibu juga penasaran. Dia berbisik pada Anin, bertanya apakah sesajennya ada yang kurang tadi karena aku belum juga masuk ke dunia gaib. Aku lantas berbalik, menghadap ibuku. “Sepertinya aku gagal lagi, Bu.”

Ibu mendengkus. “Kamu nggak serius, sih!”

Lihat selengkapnya