Mereka Sebut Aku Orang Pintar

IyoniAe
Chapter #21

Bab 21. Tamat

Bapak? Sungguh, aku jadi bertanya-tanya, apa maksud Ibu menyebut genderuwo itu Bapak. Apakah ia wujud asli bapakku? Apakah aku anak genderuwo? Apakah karena itu aku bisa melihat mereka? Jadi, aku anak setan? Ya ampun!

Daripada overthingking, aku pun meminta penjelasan.

Ibu malah mendesis. Ia menarik ujung jaketku, menyuruhku bersimpuh. “Dia adalah jin yang membantu kakekmu.”

Oalah ... aku mendesah lega. Syukurlah aku bukan anak setan, walau meendekati, sih. “Kok Ibu tahu?”

“Dulu kakekmu yang ngenalin aku ke ibumu,” genderuwo itu yang menjawab.

“Selama ini, saya kira sampean ikut Kangmas Hanggabeni,” kata ibuku pada sang makhluk.

Genderuwo itu menggeram. “Kangmasmu sudah lupa sama tujuannya, Nduk. Aku nggak mau terikat sama siapa-siapa lagi. Capek. Enakan hidup bebas kayak gini.”

“Jadi, sampean selama ini mengawasi kami?” Ibuku menangkupkan tangan ke depan muka, kemudian menunduk. “Matur sembah nuwun, Mbah.”

Si genderuwo melambaikan tangannya dengan heboh. “Ora, ora! Aku cuma tertarik sama anak di sampingmu iku.”

Ibuku memberitahu, “Ini putra saya, Mbah.”

Disebut-sebut dalam percakapan antara genderuwo dan ibuku membuat bulu kudukku merinding.

“Aku wes ngerti.” Sang genderuwo mengelus janggutnya. “Kemarin tak mintain Thai Tea Boba nggak ngasih.”

Aku menelan ludah dengan susah payah sebelum berkata, “Maaf, Mbah. Waktu itu saya belum kenal.”

“Sudahlah!” Genderuwo itu mengibaskan tangan. Ia melanjutkan, “Aku sudah ngasih peringatan ke anakmu kemarin, kalau bapaknya masih nggak berubah, jin-jin lain pada ganggu dia. Sekarang, lihat, kan? Sukmanya diambil sama jin-jin itu?”

“Sebenarnya, kesalahan suami saya apa, Mbah?” tanya ibuku.

Sang makhluk gaib mendengkus. “Kok apa? Ya mestinya kamu tahu. Kalian kan selama ini selalu memfitnah makhluk-makhluk seperti kami.”

Ibu terlihat syok. “Tapi, Mbah, saya nggak—“

“Halah! Kalian itu setiap ada klien datang, nanya uangnya hilang, selalu bilang kalau tuyul yang ngambil. Padahal lho si tuyul lagi enak-enakan main lompat tali. Trus, kalau ada yang perutnya kempes setelah kembung, bilangnya siluman kodok yang nyuri janin. Padahal lho siluman kodok itu bertelur. Kok bisa pengin janin? Mau ngerasain operasi caesar, apa gimana? Terus, mantra-mantra yang kamu ajarkan ke anakmu itu mantra apa? Mantra kok kayak ngajak hantu bercanda! Pastilah makhluk-makhluk itu marah, Nduk.”

Kulihat mulut Ibu menganga, mungkin saking terkejutnya mendengar penjelasan sang genderuwo. Aku pun juga terkejut. Ternyata para makhluk gaib juga memiliki perasaan. Mereka nggak terima dicemarkan nama baiknya. Sungguh informasi yang sangat membagongkan bagiku.

“Maaf, Mbah, itu mantra dari kitab di lemari Bapak. Saya pikir—“

“Sudah-sudah!" potong genderuwo itu lagi. "Yang penting sekarang kamu tahu alasan jin-jin itu marah. Kamu jangan ulangi lagi. Aku akan bantu mintain balik sukma suamimu. Mudah-mudahan mereka mau ngembaliin. Gini-gini, aku ini dianggap sesepuh mereka.”

Di dunia gaib, di atas sesepuh masih ada sesepuh rupanya.

Ibuku membungkuk. Ia berkata, “Matur sembah nuwun, Mbah. Kalau gitu nanti saya akan bawakan—“

“Nggak usah!” sela si genderuwo. “Aku kan sudah bilang kalau aku lebih suka nggak terikat sama manusia. Kalau kamu ngasih aku sesembahan, nanti aku terikat sama kamu. Lagian, aku bantu kamu itu ikhlas lahir batin, kok.”

Hantu juga bisa ikhlas, kucatat informasi itu dalam hati, siapa tahu berguna nantinya. Tapi ngomong-ngomong, apa hantu ada lahirnya? Kok ikhlas lahir batin? Alih-alih, bertanya, aku malah mengucap, “Matur suwun, Mbah.”

Lihat selengkapnya