Sayap bertanya-tanya mengapa hidup manusia sering dinilai dari angka satu sampai sepuluh. Seperti papan yang berjarak delapan kaki darinya ini. Jika panahnya mampu mencapai angka sepuluh, ia adalah pemenang. Namun, jika menyasar ke angka satu, ia bukanlah siapa-siapa.
Bunyi peluit menggema.
Sayap berusaha fokus ke lingkaran bernilai sepuluh di paling tengah. Nilai paling sempurna. Anak panahnya melesat cepat, dan berhenti di lingkaran bernilai enam.
Bunyi peluit pun kembali terdengar. “Fokus, Sayap! Kejauhan!”
Sayap menggoyangkan telapak tangannya yang luar biasa pegal. Hari ini ia sudah latihan selama dua jam, tapi hasilnya jauh dari yang diharapkan. Semakin ia berusaha membidik tepat sasaran, malah semakin jauh anak panahnya tertancap.
Dari kecil ia sudah diajari yang terbaik hanya ada di angka sepuluh. Mundur sedikit saja, ia bisa dikatai sebagai pecundang dan pulang dengan tangan hampa.
“Sekali lagi!” pelatih Sayap, Bang Ian membunyikan peluit sampai airnya muncrat sana-sini.
Sayap melesatkan anak panahnya ke papan, tapi malah menyasar ke tribun. Untung saja tidak ada siapa pun di sana.
“Kalau begini terus kamu nggak akan masuk Pelatnas!” teriakan Bang Ian semakin membahana. Pelatih berumur 40 tahun itu memang sangat keras mendidik murid-muridnya.
“Sayap, semangat! Katanya lo mau gabung sama gue!” Ecira berusaha mengingatkan janji mereka. Walaupun sudah dinyatakan lulus ke Pelatnas, ia akan lebih senang jika Sayap bisa mengikuti jejaknya.
Sayap hanya mampu menunduk. Ia merasa sudah berlatih keras, tidak paham kenapa sejak latihan rutin belakangan progresnya menjadi nihil.
Bang Ian hanya memandangi Sayap sembari berkacak pinggang. Memarahi Sayap terus akan percuma karena pemuda berumur 20 tahun itu terlihat kian kacau. Semua bidikannya gagal total. Untuk hari ini ia paham penyebabnya. “Kamu pulang saja, Sayap. Latihan kita lanjutin besok siang pukul dua.”
Sayap mengangguk tanpa berkata apa-apa. Ia pun membereskan perlengkapan memanahnya ke dalam tas khusus. Tas itu lalu disimpan di loker miliknya yang ada di gedung. Setelah itu, ia kembali menghadap Bang Ian.
Bang Ian menatap Sayap khawatir. “Ibumu minggu depan ulang tahun ke lima puluh lima, ya?”
Sayap tercenung, tapi sesaat kemudian mengangguk pedih. Ya, mereka hanya punya waktu tersisa tujuh hari lagi.
Bang Ian menepuk-nepuk bahu muridnya. “Kamu cepat pulang, gih. Ibumu pasti lagi nungguin. Jangan sia-siain waktu yang tersisa.”
Sayap mengangguk kembali, lalu segera pergi menjauh dengan langkah berat.
Tangan Sayap kemudian ditarik lembut oleh Ecira. Ia memberikan senyuman tulusnya pada Sayap. “Masih ada besok. Sampai ketemu ya, Sayap.”
Sayap mengangguk seraya tersenyum tipis. Kemudian ia benar-benar pergi. Langkahnya dipercepat karena ingin segera tiba di rumah.
Ecira lalu menghampiri Bang Ian. Ia masih kesal karena pelatihnya itu tidak mengindahkan kata-katanya dulu. “Udah gue bilang, Bang. Sayap nggak cocok jadi atlet. Harusnya dia ikut Elang—”
“Diem! Ini masih di tempat umum,” ujar Bang Ian mendelik. Ekspresinya berubah iba pada Sayap. “Gue ragu kemampuan Sayap bakal berkembang setelah minggu depan.”
“Gue yakin Sayap makin hebat, Bang. Soalnya gue pernah lihat dia manah pencopet gitu. Tepat di dompet yang dicuri sama pencurinya. Itu sambil lari!” Ecira menceritakan hal yang sudah lama mengganggu pikirannya.