Sayap sebenarnya ingin di rumah saja. Enam hari lagi ia akan berpisah dengan Bunda. Namun, ia masih punya kewajiban kuliah. Sejak pagi mengikuti semua pelajaran hingga siang, tidak ada satu pun materi yang masuk ke otaknya.
Sayap berkuliah di jurusan Ilmu Komunikasi. Biasanya ia cukup antusias mengikuti proses belajar, tapi sekarang benar-benar berbeda. Belum lagi nanti harus ke tempat latihan. Ibunya akan pergi, dan semesta tampak tidak mengizinkannya menghabiskan waktu bersama Bunda di hari yang tersisa.
Sayap memperhatikan buku Teori Komunikasi-nya yang terbuka. Mendengarkan penjelasan dosen, tapi hanya Bunda yang mengisi pikirannya. Hingga dosennya meminta para mahasiswa keluar yang menandakan kelas sudah selesai. Ia seketika membereskan buku-buku, dan bergegas pergi.
“Sayap!”
Sayap menoleh pada sosok yang memanggilnya. Saking terburu-burunya ia sampai lupa sekelas sama Ecira.
“Barengan dong. Lo lupa gue juga anggota klub panahan?” Ecira setengah merajuk.
Sayap diam saja sembari memperhatikan Ecira yang menghampirinya.
Ecira mengerti kenapa Sayap terburu-buru. Semakin cepat latihan, semakin cepat pula dia bisa pulang. “Nanti lo minta izin aja ke Bang Ian,” ia menawarkan solusi yang cukup bagus.
Sayap sebenarnya sudah memikirkan opsi itu sejak tadi. Ia pun mengangguk.
Mereka kemudian menyusuri koridor kampus bersama-sama. Sayap memperhatikan mahasiswa-mahasiswa yang tampak menikmati berbagai kegiatan mengisi waktu di sela proses belajar. Ada yang sedang membaca buku, ada yang bercanda dengan teman-temannya, ada yang bernyanyi bersama, ada yang sedang merekam video untuk sekadar eksis di media sosialnya.
Saat itu pula Sayap merasa dunia sedang mempermainkannya. Kenapa hanya ia yang merasakan kepedihan tidak bertepi ini?
Tiba-tiba saja Bu Fira, kepala jurusan muncul di depan Sayap. “Sayap, saya mau bicara sebentar sama kamu,” ujarnya tanpa basa-basi.
Sayap awalnya tersentak, tapi ia siap mengikuti Bu Fira yang memintanya ke ruangan kerjanya. Ia menoleh pada Ecira. Tidak enak juga jika Ecira menunggu. “Duluan aja.”
Ecira hanya terdiam sambil berharap Sayap tidak mendapatkan masalah besar. Bu Fira langsung menghampiri Sayap seperti itu, pasti ada hal mendesak yang ingin disampaikan. Ia pun bergegas keluar kampus.
.
.
Sayap duduk di hadapan Bu Fira yang tampak merenung. Sedari tadi kepala jurusannya itu belum mengucapkan apa pun. Seperti ada hal yang mendesak yang ingin disampaikan, tapi berat untuk diungkapkan.
Akhirnya Sayap yang memancingnya buka suara. “Ada apa ya, Bu?”
Bu Fira menarik napas panjang. “Maaf, saya nggak tahu harus mulai dari mana.” Ia memasang wajah prihatin. “Saya turut bersimpati, Sayap. Enam hari lagi ibumu akan dibawa ke Kebun Surga. Dan bagi kampus ini bukan kali pertama. Setiap minggu ada mahasiswa saya yang kehilangan orang tua. Dipaksa berpisah padahal kalian masih membutuhkan mereka.”
Sayap mengepalkan tangan. Bibirnya jadi kelu. Ia bukan tipe orang yang mudah membicarakan kepedihannya kepada orang selain Bunda.
“Saya tahu kamu sedang bersiap diri, dan perasaanmu pasti lagi nggak keruan. Tapi maaf saya harus menyampaikan ini karena kebijakan kampus mutlak atas dasar prinsip keadilan.” Bu Fira mengambil napas banyak-banyak. “Kalau nggak ada progres berarti dari prestasi panahanmu, kampus terpaksa akan menghentikan beasiswamu, Sayap.”
Napas Sayap terhenti sesaat. Ia benar-benar lupa belajar di sini karena beasiswa prestasi. Beasiswa itu sangat membantu karena penghasilan Bunda dari warung kecil di depan rumahnya hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Bunda sudah pensiun sejak setahun yang lalu.