Polisi itu sempat mendengar suara kaki yang berpijak. Seragamnya dipenuhi cipratan darah. Ia berjalan tenang menuju tembok sampai menemukan dompet yang tergeletak di tanah. Diperiksanya isi dompet dengan tangan bersarung. Isinya ada KTP, kartu ATM, uang dua ratus ribu, dan foto Sayap kecil bersama Bunda. Ia lalu tersenyum asimetris. “Sayap Taura Arkasha. Kena batunya dia.”
Polisi itu pun pergi dengan langkah santai. Tidak panik meskipun ada yang menyaksikan kebrutalannya tadi. Yang penting baginya Presiden Suroso sudah tewas. Ia berhasil menciptakan kekacauan di tengah kekacauan yang tengah melanda Indonesia.
.
.
Sayap membanting pintu sesampainya di rumah. “Bunda!” teriaknya kesetanan. Tidak ada balasan, ia pun panik. Belingsatan mencari Bunda ke seluruh sudut ruangan. Ia pergi ke dapur, taman belakang, ruang makan, kamar tidur, loteng, tapi Bunda tidak ada di mana pun. Kaki Sayap pun langsung lemas. Harusnya Bunda ada di sini. Ya, Bunda tidak akan ke mana-mana. Nanar matanya melihat ke sudut ruang tamu yang sepi.
“Bunda!” suara Sayap mulai goyang karena napasnya yang terlalu memburu. Ia mencoba mencari Bunda sekali lagi. Mempercepat langkah hingga suara benturan kakinya di lantai terdengar bising. Bayangan Presiden Suroso yang ditembak polisi seketika membuatnya sesak. Presiden tewas dibunuh sosok yang seharusnya melindunginya. Yang terjadi pasti lebih gawat dari yang ia bayangkan. Jangan-jangan orang-orang berumur 55 tahun lainnya yang sudah dibawa ke Kebun Surga bernasib sama?
Sayap kembali ke ruang tamu dengan tangan kosong. Bunda sudah menghilang. Apa Bunda telah dibawa pergi? Matanya membesar dua kali lipat. Kegelisahan terlihat di seluruh tubuhnya yang gemetaran. “Nggak. Nggak mungkin. Tadi pagi Bunda masih di sini!” Namun, itu beberapa jam yang lalu. Bisa saja ada hal yang terjadi pada Bunda selama ia berada di kampus.
Saking frustrasinya, Sayap meninju dinding terbuat dari triplek sampai retak. Secepat inikah ia berpisah dengan Bunda?
Pandangan mata Sayap menajam. Jika Bunda sudah dibawa pergi, ia akan mencari Bunda, dan mencabik-cabik orang yang telah menculiknya!
“Sayap?”
Sayap tersentak ketika mendengar suara itu. Ia langsung membalikkan badan dan menemukan Bunda berdiri di daun pintu.
“Tumben udah pulang.” Bunda masuk ke rumah, belum menyadari jiwa dan raga Sayap yang tengah kacau-balau. Ia membawa dua kantong berisi belanjaan.
Tanpa pikir panjang Sayap pun memeluk Bunda erat-erat.
Barang belanjaan Bunda jatuh ke lantai. “Aduh, kamu kenapa?” Ia terang saja tersentak.
Sayap menarik napas panjang, dan mencium harum Bunda. Ya, ini adalah Bunda, dan ia bersyukur karenanya. Dengan tubuh yang masih gemetaran, ia langsung membuat keputusan. “Kita pergi sekarang, Bun!” Sayap bergegas ke kamar. Ia memasukkan beberapa baju ke ransel. Lalu menyiapkan 50 anak panah yang sebagian ditaruh di ransel dan disampirkan di punggung. Ia juga mengambil busur cadangannya, dan sebilah pisau yang biasa ia taruh di laci.
Bunda yang mengikuti Sayap pun kebingungan. “Kenapa kita harus pergi?”
Sayap belum sanggup menceritakannya sama Bunda. Jadi, ia bergegas ke kamar Bunda, dan memasukkan beberapa helai baju ibunya ke ransel. “Apa yang harus dibawa? Air minum, senter, dokumen….”
Melihat Sayap yang bergumam cepat, Bunda kemudian mencoba menenangkannya. Ia merengkuh wajah Sayap dengan tangan. “Fokus, Sayap! Kamu kenapa?”
Sayap mendelik pada Bunda, kemudian menarik napas panjang. Di saat yang menegangkan ini ia harus bisa tetap tenang. Ia pun mengucapkannya perlahan agar Bunda langsung mengerti. “Kalau Bunda tetap di sini …, Bunda mungkin akan tewas seperti Presiden Suroso.”
Bunda semakin tidak mengerti. “Maksudmu?”
“A-aku tadi nggak sengaja ngelihat polisi bunuh Presiden Suroso, Bun. Di dekat gang belakang. Nggak ada siapa-siapa yang lihat, kecuali aku.”