Mereka Semua Mati di Umur 55 Tahun

Pretty Angelia
Chapter #5

Bab 5

Haris diboyong ke mobil polisi. Ia rela saja dibawa karena berharap mereka mengobati tangannya yang terluka. Dalam keadaan teler, ia menyeringai melihat lukanya. “Gue bener-bener bakal bunuh lo, Sayap.”

Sementara itu polisi berpangkat Ajun Komisaris Besar Polisi yang memimpin Polsek Menteng, AKBP Irlania berdiri di depan rumah Sayap. Wanita berumur 32 tahun itu memiliki tinggi mencapai 175 cm. Tambah menjulang lagi karena boots yang dikenakannya. Rambutnya pendek mengkilap. Ia disegani anak-anak buahnya karena di umur yang masih muda mampu menjabat sebagai komisaris polisi. Ada juga yang mencibir jabatannya itu diterima karena ia dekat dengan Kapolri.

AKBP Irlania mempelajari bagian luar rumah buronan yang sedang diincar. Tatapannya tajam nan mengintimidasi.

“Lapor, Komandan. Semua isi rumah sudah digeledah. Kami menemukan ada beberapa anak panah.”

AKBP Irlania memeriksa anak panah yang diberikan anak buahnya. Anak panah terbuat dari karbon, punya kualitas yang bagus untuk membidik. “Ujungnya runcing. Ini bukan panah untuk olah raga, tapi untuk berburu,” suaranya begitu berat dan terdengar mengancam. “Bawa dia ke rumah sakit buat diobati. Saya yang akan interogasi malam nanti. Tim Jaguar, tetap lakukan pengejaran pada Sayap. Jangan sampai pembunuh Presiden Suroso itu lolos.”

Polisi itu memberikan hormat dan segera melakukan perintah bosnya.

AKBP Irlania menatap sekali lagi rumah yang ada di depannya. “Kamu nggak akan lolos,” ujarnya dingin.

.

.

Sayap melajukan mobilnya begitu kencang, sampai Bunda dibuatnya ngeri.

“Sayap, pelan-pelan.”

Sayap tidak menurut. Pikirannya masih dihantui dua kejadian mengerikan barusan. Ia melihat sendiri Presiden Suroso tewas besimbah darah. Lalu, Haris tiba-tiba saja datang ingin membawa Bunda pergi. Bagaimana bisa ia tenang menghadapi ini semua?

Sayap lalu mengatakan rencananya pada Bunda. “Sebaiknya kita pergi ke Singapura, Bun. Harga tiket pesawat ke sana murah, dan nggak perlu pakai visa juga.”

Bunda mencoba menenangkan Sayap dengan mengusap bahunya. “Bunda baik-baik saja. Kamu nggak perlu khawatir—”

“Itu pertama kalinya Haris nodong pisau ke aku, Bun. Biasanya kamu berantem tinju-tinjuan aja. Dia berniat melukaiku, lalu mau bawa Bunda pergi.” Ada takut dan marah yang Sayap rasakan jadi satu.

“Bunda nggak tahu kenapa Haris jadi begitu.” Bunda tidak menyebutkan bahwa sebenarnya ia juga mengkhawatirkan Haris. Haris adalah anaknya juga yang dulu tidak bisa ia bawa pergi dari mantan suaminya yang brengsek dan kasar. Kelakuan Haris jadi mirip mantan suaminya. Kalau saja dulu ia berhasil mendapatkan Haris.

Sayap menggeleng kuat. “Aku juga bingung, Bun.” Semua ini terjadi terlalu tiba-tiba sampai membuatnya sulit menyusun rencana rapi. “Pokoknya kita harus keluar dari negara ini secepatnya.”

“Tapi kita nggak punya paspor, Sayap,” akhirnya Bunda mengingatkan.

Sayap mengumpat pelan. Mereka tidak akan bisa bebas keluar tanpa dokumen itu. Mungkin bisa diakali andai saja mereka pergi melalui jalur ilegal. Namun, dokumen-dokumen tetap akan dibutuhkan di saat yang mendesak. “Bunda sudah bawa semua dokumen, kan? Seperti KTP—” Sayap mendadak mengerem hingga tubuhnya dan Bunda oleng dan mobil di belakang nyaris menabrak. Bunyi klakson panjang pun terdengar memekakkan.

Bunda terang saja kaget setengah mati. Untungnya mereka pakai sabuk pengaman. “Ada apa?”

Lihat selengkapnya