AKBP Irlania sabar menunggu Haris yang melahap donat seperti orang yang belum makan seminggu. Di ruangan interogasi yang sesak dan minim pencahayaan itu, ia hendak mengajukan serangkaian pertanyaan. Ia selalu bermain cantik agar orang-orang mengatakan hal yang ingin diketahuinya. Salah satunya menyuguhkan makanan lezat.
AKBP Irlania kemudian bersuara. “Kamu dan Sayap nggak mirip.”
Haris tertawa renyah. “Dia bukan adik gue, mana mungkin kita mirip.” Ia lanjut mengunyah, kemudian minum banyak-banyak sampai airnya tumpah.
Kedua alis AKBP Irlania terangkat. “Oh, kalian bukan saudara.”
“Dia dipungut ibu gue,” Haris lalu melemparkan donatnya ke piring. Nama Sayap membuat nafsu makannya hilang.
AKBP Irlania mencondongkan tubuhnya lebih ke depan. “Saya sudah melacak rekaman tindakan kriminalmu, kamu jauh lebih berandalan dibandingin Sayap yang baru kali ini berurusan sama polisi. Kenapa Sayap sampai berani membunuh presiden?”
Haris tersentak, tapi tawanya tiba-tiba lepas. “Anak pungut itu ngebunuh presiden? Wah, dia ternyata lebih sadis daripada gue.” Ia bertepuk tangan kegirangan.
AKBP Irlania tiba-tiba menunjukkan mata tajamnya. “Kamu seneng ya Sayap bakal dipenjara juga? Bahkan dia bisa dihukum mati.”
“Mati aja! Sayap memang seharusnya nggak lahir di dunia ini.” Haris menggebrak meja saking emosinya. “Harusnya gue yang tinggal sama Bunda, bukan dia!”
AKBP Irlania tetap tenang. Ia mengalihkan pembicaraan ke topik lain. “Lalu, di mana Sayap sekarang?”
“Mana gue tahu? Dia bawa mobil curian gue! Cari saja sendiri!”
AKBP Irlania menunjukkan ekspresi datar. Ia sudah menduga pemuda berumur 22 tahun ini tidak bisa diharapkan.
“Ngomong-ngomong lo beneran polisi?”
AKBP Irlania terdiam sesaat.
Haris menatap nakal AKBP Irlania dari atas hingga bawah. Ia menyeringai seperti binatang buas yang kesenangan melihat mangsa di hadapannya. “Lo kayaknya lebih cocok ada di Taman—”
AKBP Irlania berdiri cepat, lalu menendang belakang kepala Haris sampai membentur meja. Tidak membiarkan sedikit pun pemuda itu bangkit.
“T-tolong….” Lubang hidung Haris tertutup rapat karena tekanan kaki AKBP Irlania yang kuat. Darah segar keluar dari sana. Ia tidak menyangka wanita itu punya kekuatan gila yang membuatnya kesulitan bernapas.
AKBP Irlania melepaskan kakinya, lalu memanggil dua polisi masuk ke ruangan. Mereka menuruti instruksinya membawa Haris ke penjara.
“Itu baru kaki, tapi nanti saya nggak segan keluarin pistol buat nyingkirin otakmu yang mesum itu,” ancam AKBP Irlania sembari mendelik.
Haris yang kepalanya pening luar biasa langsung membuang muka. Tidak sanggup bertemu mata dengan AKBP Irlania yang seratus kali lipat lebih menyeramkan dibandingkan Ayah. Ia mengangkat wajah tinggi-tinggi karena darah masih mengucur. Bedanya, Ayah tidak pernah mengancam menghancurkan otaknya. Ia rela dibawa pergi daripada harus satu ruangan bersama AKBP Irlania lebih lama.
Salah satu anak buah AKBP Irlania, Brigadir Kepala Polisi (Bripka) Brahma masuk ke ruangan memberikan laporan. Ia memberikan hormat terlebih dahulu. “Lapor, Komandan. Tim Macan Tutul selesai melakukan investigasi di Mal Asiana. Kami nggak menemukan bom. Ledakan juga bukan berasal dari tabung gas atau korsleting listrik.”
Dahi AKBP Irlania mengerut. Ini kasus yang aneh. “Terus dari mana?”
Bripka Brahma menarik napas panjang, dan terdiam sejenak. “Kami belum tahu. Besok kami ingin melakukan penelusuran ulang.”
AKBP Irlania mengangguk. “Saya izinkan.”
Bripka Brahma kembali memberi hormat, lalu meninggalkan ruangan untuk melanjutkan tugas.
Ponsel AKBP Irlania berbunyi. Ia memperhatikan layar. Nama orang yang dihindarinya muncul. Ia sengaja menolaknya, lalu bergegas keluar karena ada hal yang penting yang ingin ia lakukan.