Mereka Semua Mati di Umur 55 Tahun

Pretty Angelia
Chapter #7

Bab 7

Ayahnya Bang Ian mematung. Ia menatap pemuda yang tiba-tiba menyelamatkannya. Mencari kebenaran dari mata Sayap karena jendela dunia itu katanya tidak pernah berdusta.

“Biarin aja dia mati! Gue nggak peduli!” teriak Bang Ian disela-sela rintihan sakitnya. Ia kemudian hendak berdiri.

Sayap langsung memanah kaki Bang Ian yang satunya. Tidak peduli teriakan Bang Ian sampai membelah udara, dan dia jadi tidak bisa berdiri.

Ayah Bang Ian memejamkan mata rapat-rapat. Ada perasaan bersalah yang meraja, tapi anaknya juga sudah keterlaluan. Ia sebenarnya malu ada orang lain masuk ke konflik keluarganya begini. “Kamu tahu hal itu dari mana?” Ayahnya Bang Ian membutuhkan kebenaran.

Sayap mengucapkannya tanpa ragu. “Tadi, saya nggak sengaja lihat Presiden Suroso ditembak sama polisi. Makanya saya mau bawa ibu saya kabur.”

Pria tua itu tidak tahu apa-apa karena seharian ini tidak menonton berita. “Kamu nggak salah lihat?”

“Saya bisa buktiin nanti,” ujar Sayap dengan keyakinan teguh. “Sebaiknya kita segera pergi, Pak.”

“Kenapa kamu ingin saya ikut?” Padahal Ayahnya Bang Ian tadi sudah siap mati.

Sayap berdeham untuk menutupi kegugupannya. “Ini bukan kali pertamanya saya lihat anak yang senang orang tuanya dibawa pergi. Kemarin-kemarin saya diem aja, tapi sekarang nggak bisa.”

Ayahnya Bang Ian merasa Sayap mungkin mengatakan hal yang sebenarnya. Apalagi pemuda itu berani menyerang Ian. Ia pun menghela napas panjang. “Udah saya duga, pasti ada yang nggak beres sama aturan itu. Kamu punya rencana apa?”

“Saya dan Bunda mau ke luar negeri, Pak, tapi lewat jalur ilegal.” Sayap berharap pria tua ini bisa membantu mereka, tapi ia hanya menyebutkannya di dalam hati.

Ayah Bang Ian memperhatikan anaknya yang berusaha bangkit. “Baiklah, saya mau ikut.”

Sayap pun tersenyum lega. “Bapak ada nomor polisi yang nggak dipakai?”

Ayahnya Bang Ian mengangguk. “Sebentar.” Ia kembali ke rumah untuk mencarinya.

“Jangan ikut campur, Sayap! Kalian nggak akan pernah lolos! Lo bakal dihukum karena nggak ngikutin aturan!” Bang Ian berteriak membabi buta. Ia sudah terduduk, tapi ketika mau bangkit malah tersungkur kembali.

Sayap terdiam agak lama. Ia bertanya-tanya apakah benar sosok di depannya ini adalah Bang Ian. Baru kali ini ia melihat amarah Bang Ian begitu garang. Mata ambisius nan optimis itu berganti dengan mata seorang pembunuh yang tidak akan membiarkan mangsanya lari jauh. “Nggak peduli. Yang penting Bunda tetap hidup,” jawabnya sembari memelotot.

Setelah ayahnya Bang Ian keluar membawa dua plat hitam, mereka bergegas ke mobil. Sesudah nomor polisi itu ditukar, mobil meninggalkan rumah yang sempat diharapkan menjadi tempat persembunyian.

“Sayap! Tunggu pembalasan gue!” teriak Bang Ian frustrasi. Padahal sedikit lagi ia berhasil menandaskan rencananya. Ia langsung meraih ponsel, memanggil seseorang. “Woi! Tolong gue! Si brengsek Sayap berani-beraninya bawa kabur ayah gue!”

.

.

Sayap menyetir mobilnya pada kecepatan standar. Bunda duduk di belakang dan tertidur pulas. Wajar, ini sudah malam. Ia belum tahu apakah membawa orang lain di perjalanan mereka adalah pilihan tepat. Namun, jika dibiarkan, harus berapa orang lagi yang jadi korban?

Sudah 15 menit berlalu, Sayap mencoba mengajak ayahnya Bang Ian berbicara. “Awalnya saya ingin minta bantuan Bang Ian buat kabur. Setahun lalu saya pernah berkunjung ke rumah itu.”

“Sejak mantan istri saya meninggal, Ian menyewa rumah di tempat lain. Rumah itu jadi nggak terurus. Saya datangi sesekali saja kalau rindu sama istri.” Pria tua itu menatap jalan yang terang karena lampu-lampu di pinggirnya.

Seingat Sayap, Bang Ian tidak pernah menceritakan masalah keluarga. Ia mengenal Bang Ian sebagai sosok ambisius yang teliti dan mendorong anak-anak didiknya untuk maju. Ternyata orang yang terlihat bersinar pun memiliki luka yang disembunyikan dalam-dalam. 

“Sebenarnya yang Ian katakan benar, saya yang bikin istri saya meninggal. Rastri bunuh diri.” Ayahnya Bang Ia menaruh kepalan tangannya di bibir.

Sayap tidak bermaksud membuat pria tua itu bersedih. Ia sengaja mengalihkan pembicaraan yang berfokus pada dirinya. “Saya kaget Bapak ngira saya anak buah Bang Ian.”

Ayahnya Bang Ian semakin muram. “Dia beberapa kali nyoba bawa saya pergi dengan bantuan orang-orang yang jago manah, tapi saya selalu berhasil kabur. Kamu juga bawa panah. Makanya saya kira kamu salah satu dari mereka.”

Lihat selengkapnya