Mereka Semua Mati di Umur 55 Tahun

Pretty Angelia
Chapter #8

Bab 8

Sayap memperhatikan Bunda yang terlelap. Ia paham Bunda kelelahan karena serangkaian peristiwa yang terjadi seharian tadi. Hampir saja ia kehilangan Bunda dua kali. Besok, ia tetap akan melakukan hal yang sama, melindungi Bunda dengan segenap jiwa. Ia menggelar selimut agar tubuh ibunya tetap hangat, lalu beranjak ke ruang tamu. Ada Pak Raja yang sedang menonton berita malam. Ia pun berdiri di sebelahnya.

Mantan Presiden Suroso ditemukan tewas dengan luka tembakan bersama Paspampres yang menjaganya. Kejadian ini membuat Indonesia sangat terpukul dan membuat kita bertanya-tanya, kenapa Presiden Suroso dibunuh dengan bengisnya? Polisi sudah mengantongi orang yang dicurigai sebagai pelaku. Pembunuhnya adalah seorang anak muda berumur dua puluh tahun bernama Sayap Taura Arkasha.

Sayap tidak berkutik ketika gambar KTP-nya muncul di layar televisi.

Pak Raja terang saja tersentak. “Kenapa mereka bisa punya KTP-mu?” Ia jadi was was. Takut yang sedang berdiri di sampingnya penjahat sungguhan.

“KTP saya ketinggalan di lokasi,” suara Sayap mengecil. Dituduh sebagai pembunuh adalah mimpi buruk yang tidak pernah terpikirkan olehnya.

Pak Raja memasang ekspresi tak percaya.

Sayap mencoba menjelaskannya selogis mungkin. “Penjahat betulan mana ada yang nggak sengaja ninggalin identitasnya di lokasi kejadian? Dompet saya jatuh gara-gara copet sialan.” Andai saja ia menghentikan copetnya lebih cepat, pasti ia akan terhindar dari masalah ini.

Pak Raja berusaha memercayainya. Namun, ia punya ketakutan tersendiri. “Bisa saja teman saya nggak setuju kamu masuk ke kapalnya.”

Sayap mulai gemetaran. Hanya karena KTP-nya yang tertinggal, rencana yang sudah disusun rapi pun kemungkinan gagal.

Rentetan ledakan yang terjadi akhir-akhir ini juga semakin membuat masyarakat was was. Polisi belum bisa memastikan apakah ini serangan teroris atau bukan karena tidak ditemukan satu pun serpihan bom. Para pakar menebak bisa jadi hal itu merupakan serangan misil dari tempat misterius yang menjadi sarang para teroris itu. Jika polisi berhasil menangkap Sayap, kemungkinan besar semua misteri ini akan terungkap.

“Saya nggak tahu apa-apa,” ujar Sayap yang bahunya terasa semakin berat. “Saya memang nggak suka sama aturan yang dibuat Presiden Suroso, tapi saya nggak pernah kepikiran membunuhnya. Yang membunuh presiden justru polisi. Saya saksi satu-satunya.”

Pak Raja tiba-tiba saja menekan Sayap. “Lalu kenapa kamu nggak mencegah hal itu terjadi?”

Sayap menunduk dalam-dalam. “Saya langsung nge-blank pada saat itu. Saya terlalu takut melawan si polisi yang bersenjata. Saya takut mati konyol.” Ia juga menyesal karena tidak sanggup menyelamatkan presiden.

Pak Raja berusaha memahami masalah yang menimpa Sayap. Ia pun berusaha menghiburnya. “Tenang saja. Kita akan segera pergi dari sini. Yang penting kamu bisa membukti—”

Sayap menggeleng. Ada bukti pun belum tentu ia bisa selamat. “Yang melakukannya polisi, Pak. Rakyat biasa seperti saya pasti bakal disingkirin.”

Pak Raja salut pada Sayap yang pikirannya tajam juga. Sayap memilih lari karena hanya itu jalan yang terbaik. Melihat yang terjadi di berita-berita televisi, biasanya hukum tumpul ke atas dan tajam ke bawah. “Sebaiknya kamu tidur, sudah pukul dua pagi. Kita nggak tahu apa yang akan dihadapi nanti. Semoga aja perjalanannya lancar.”

Sayap tiba-tiba merasa bersalah karena menyusahkan Pak Raja. “Maaf, Pak. Saya nggak bermaksud membawa Bapak ke masalah ini. Maksudnya …, saya nggak menyangka jadinya kayak begini. Kalau Bapak ingin pergi, nggak masalah buat saya.”

Pak Raja justru keheranan dengan permintaan maaf itu. Ia tersenyum tipis. “Kamu udah menyelamatkan saya. Saya yakin kamu pemuda yang baik. Sebaiknya kita pergi bersama-sama. Saya memang udah tua, tapi saya bisa sedikit bela diri.”

Sayap mengangguk. “Sebaiknya Bapak juga tidur.”

“Ya.” Pak Raja kemudian bergegas ke kamar satunya.

.

.

Lihat selengkapnya