Mereka Semua Mati di Umur 55 Tahun

Pretty Angelia
Chapter #9

Bab 9

Ecira menatap bagian dalam mobilnya sembari tersenyum manis. Hari ini ia bahagia sekali karena berhasil melakukan hal yang diinginkannya sejak lama. “Sampai jumpa nanti ya, Ma!” ujarnya sembari melambai, dan memberikan senyuman pada Bu Dirga. Ia menutup pintu, lalu menepuk jendela kemudi. “Langsung pergi, gih. Nanti gue nyusul.”

Mobil itu pun melaju. Lalu, ponsel Ecira tiba-tiba berbunyi. Ia membaca pesan yang masuk dari sosok yang tak terduga. Tiba-tiba saja ia berjingkrak kegirangan. “Kyaaaa! Akhirnya!” Yang ditunggu olehnya datang juga. “Saatnya kita pergi!” pekiknya sembari mengangkat tangan tinggi-tinggi.

.

.

Mobil yang Sayap bawa berhenti di arena parkir mobil pelabuhan Tanjung Priok yang pagi itu sudah ramai. Sekarang sudah pukul enam pagi. Kegiatan ekspor dan impor, serta transportasi di sini memang tidak pernah tidur. Truk-truk besar keluar-masuk pelabuhan. Orang-orang berlalu-lalang, mulai dari pekerja sampai mereka yang bepergian ke wilayah di luar Pulau Jawa.

Sayap berpikir suasana ini akan memudahkan proses kabur mereka karena tidak akan ada orang yang memperhatikan. Orang-orang itu terlampau sibuk dengan kegiatannya masing-masing.

“Apa ada polisi atau tentara patroli?” Sayap hanya ingin memastikan.

“Semoga saja nggak. Pakai maskernya, Sayap.” Pak Raja kembali mengingatkan.

Sayap mengikuti titah Pak Raja. Ia lalu memperhatikan busur dan panah kesayangannya. Kalau ia menentengnya seperti orang yang sedang berburu tentu terlalu mencolok. Untuk sementara, ia menaruh senjatanya di tas khusus.

Pak Raja kemudian melihat mobil patroli polisi yang baru saja keluar dari pelabuhan. “Kayaknya saya harus periksa keadaan di pelabuhan dulu.” Ia seketika kepikiran hal itu karena perasaannya jadi tidak enak.

“Kenapa, Pak?” Sayap inginnya mereka tetap bersama agar tidak curiga satu sama lain.

“Tadi ada mobil patroli polisi.”

Sayap mematung sesaat.

“Tenang aja. Saya akan segera mengabarimu. Barang-barang saya tetap di sini.” Pak Raja berharap Sayap bisa lebih tenang. Ia kemudian keluar dari mobil.

Sayap memutuskan menunggu.

Lalu, Bunda merengkuh bahu Sayap. “Semoga kita bisa pergi secepatnya.”

“Tenang saja, Bun,” Sayap menepuk-nepuk tangan Bunda. Ia melirik ke arah Pak Raja pergi tadi. Semoga dia memberikan kabar baik.

.

.

Pak Raja menekan topinya agak ke bawah agar matanya yang sedang mengawasi tidak kentara. Ia sudah tiba di dalam pelabuhan, dan tersentak melihat ada polisi di mana-mana. Mereka melakukan pemeriksaan pada orang-orang yang baru masuk dan akan keluar. Mereka juga memeriksa truk dan mobil. Pasti sebentar lagi ada yang menghampiri mobilnya juga.

“Cepatnya. Mereka benar-benar nggak akan biarin Sayap kabur,” bisik Pak Raja, lalu mengeluarkan decakan kesal. Ia memutuskan kembali ke mobil, tapi ketika berbalik sudah ada polisi yang menghadangnya. Ia pun memekik kaget.

Polisi itu terang saja curiga. “Selamat pagi, Pak. Boleh tunjukkan identitas?”

“A-ah, ada di mobil saya,” Pak Raja merutuki diri karena menyebutkan hal yang seharusnya disembunyikan.

“Kalau gitu saya juga mau meriksa mobil Bapak. Belum ada polisi yang cek?”

“Belum.” Pak Raja merutuk lagi. Harusnya ia bilang sudah. Agar polisi tidak mencurigainya, ia pun mulai berjalan ke arena parkir. Lalu ia berbasa-basi untuk mendapatkan informasi. “Tumben, Pak ramai polisi di sini.”

“Kami sedang mengincar buronan pembunuh presiden. Bapak sudah lihat beritanya, kan?”

“Oh, wajar sih,” Pak Raja berusaha untuk tenang kembali.

Dari dalam mobil, Sayap dapat melihat Pak Raja yang diikuti polisi yang membawa laras panjang. Ia buru-buru mengeluarkan senjatanya kembali.

“Sayap, Pak Raja dibawa pergi?” suara Bunda terdengar khawatir.

Sayap memperhatikan gerak-gerik Pak Raja. Langkahnya begitu pelan, dan dia tidak menuju kemari. “Kayaknya ada sesuatu sampai polisi itu minta ditunjukkan ke arah mobil.” Ia menyadari Pak Raja berhenti di mobil kijang biru seberang. “Makanya dia sengaja bohong.”

Sayap bisa saja melesatkan panahnya dari sini, tapi ia juga harus memperhatikan situasi. Jangan sampai ia salah sasaran. Terlebih cukup banyak orang yang berlalu-lalang. Ia kemudian mendapatkan ide. Semoga saja Pak Raja mengerti sinyal yang diberikannya.

Lihat selengkapnya