Mereka Semua Mati di Umur 55 Tahun

Pretty Angelia
Chapter #10

Bab 10

Beberapa anggota polisi tumbang karena serangan panah yang mengenai leher, mata, dan mulut mereka. Padahal mereka sudah menggunakan pakaian tempur lengkap, tapi tidak pernah menyangka akan diserang menggunakan panah. Formasi yang diperintahkan oleh AKBP Irlania gagal dibentuk. Mereka langsung berlindung di mobil lain.

Kemampuan para pemanah itu tidak bisa diremehkan karena tepat pada sasaran. Ia juga bisa mendengar tembakan senapan dari kejauhan. Mereka diserang dengan senjata-senjata mematikan.

Sayap menggunakan kesempatan ini untuk menendang kepala polisi yang menjaganya hingga tersungkur. Polisi satu lagi hendak membenturkan senapan pada Sayap. Ia dengan cepat menunduk, kemudian melompat untuk menendang kepala polisi itu yang ikut tersungkur, kemudian menendang kepalanya lagi supaya polisi itu pingsan.

Pak Raja buru-buru mengambil kunci yang ada di ikat pinggang polisi yang pingsan.

Sayap memberikan sinyal pada Bunda dan Pak Raja untuk mengikutinya bersembunyi di balik mobil.

“Sayap, buka dulu borgolnya!” Pak Raja membantu Sayap untuk membuka kunci. Walaupun tangannya gemetaran, ia berhasil membuka kunci di percobaan pertama.

Bunda mendekap tangan Sayap kuat-kuat.

“Mengerikan!” teriak Pak Raja yang tidak menyangka ada pertarungan di sini. Ia memperhatikan panah-panah beterbangan di atasnya. Bunyi desingan peluru merobek-robek udara. Ini seperti pertempuran yang pernah ia lihat di film-film laga.

Bunda menutup telinga dan matanya rapat-rapat. Berharap pertempuran ini segera berakhir dan mereka bisa pergi. Suara tembakan dan desingan panah membuat telinganya ngilu luar biasa.

AKBP Irlania dan anak buahnya bersembunyi di salah satu sisi truk polisi yang anti peluru. Ia mengeluarkan senapan dan hendak menembak.

Namun, sebuah panah tertancap di tanah dekat mereka. Salah satu polisi melakukan serangan balasan, tapi masih kalah cepat dengan panah yang langsung menancap ke mata. Ia pun seketika tumbang.

AKBP Irlania bisa melihat ukiran Elang di badan anak panah tersebut. “Elang Putih,” geramnya.

Briptu Oman kemudian mencoba menembakkan senapan ke arah di mana panah itu berasal, tapi tidak mengenai target yang diinginkannya. Ia melirik sejenak ke kontainer yang berjarak sekitar delapan kaki darinya, “Mereka bersembunyi di sana. Sebaiknya kita lempari granat saja.”

“Jangan gegabah. Elang Putih itu rata-rata umurnya di bawah dua puluh tahun.” AKBP Irlania masih memiliki hati nurani karena musuhnya masih begitu belia. Ia memperhatikan orang-orang yang kocar-kacir menghindari serangan.

“Kenapa Elang Putih ada di sini? Mereka seharusnya nggak menyerang polisi, kan? Apa ada masalah internal?” tanya salah satu polisi. Elang Putih sudah dikenalnya sejak dulu. Tentu saja karena Elang Putih adalah sebagian dari diri mereka.

“Mereka hanya anak-anak ingusan yang caper,” Briptu Oman mengeluarkan decakan kesal. “Komandan, apa mereka hendak menyelamatkan buronan itu?”

“Menyelamatkan Sayap?” AKBP Irlania merasa ia melupakan hal yang penting.

Briptu Oman mengangguk. “Sayap salah satu anggota mereka, kan? Elang Putih direkrut dari atlet-atlet berprestasi di negeri ini.”

AKBP Irlania mencari di mana Sayap berada. Ia sedang menganlisis hubungan Sayap dan Elang Putih yang terlampau aneh. “Kalau Sayap anggota Elang Putih, harusnya mereka melindungi presiden, bukan membunuhnya.”

           “Anda terlalu membela si pembunuh presiden, Komandan. Mereka sama aja, anak-anak muda bedebah,” umpat Briptu Oman sambil menarik panah yang menancap di salah satu tubuh rekannya yang sudah tewas, dari mulut mayat itu keluar busa. “Sepertinya panah mereka beracun,” geramnya.

AKBP Irlania memberikan perintah lewat HT-nya. “Jangan sampai terkena panahnya. Itu beracun!”

Desing-desingan panah yang terbuat dari besi ringan itu membuat Sayap yang ada di sudut lain tetap waspada. Terlebih ada suara laras panjang dan pistol yang ditembakkan hanya sesekali. “Kenapa polisi nggak terlalu agresif?”

Sayap memperhatikan kontainer yang berada jauh di depannya. Panah-panah dan tembakan senapan itu berasal dari sana. Orang yang melakukan serangan pasti bersembunyi di baliknya. Yang mengherankan, para polisi tampak kewalahan menghadapi mereka padahal senjata mereka jauh lebih mematikan.

Sayap menoleh ke arah lain. Ia berjengit ketika menyadari mayat-mayat masyarakat sipil bergelimpangan di sekitar. Terdapat anak panah yang menancap di tubuh mereka. Darah mengalir di jalanan. “Biadab,” umpatnya yang menatap tajam kontainer itu.

Lihat selengkapnya