Mereka Semua Mati di Umur 55 Tahun

Pretty Angelia
Chapter #11

Bab 11

Sayap, Bunda, dan Pak Raja sekarang berada di truk milik Elang Putih. Sejak tadi Ecira dengan bangganya menyebutkan nama kelompoknya itu.

Sayap melihat beberapa orang berpakaian loreng yang menjadi pengemudi, dan duduk di pintu truk. Tentu saja mereka bukan tentara. Sepertinya dijadikan kamuflase agar perjalanan mereka lancar. Tapi, apakah mereka benar-benar tentara?

Sebenarnya apa itu Elang Putih? Sayap belum mau menanyakannya pada Ecira karena sedang mempelajari semua hal yang terjadi tiba-tiba ini. Ia terpaksa mengikuti mereka karena ia dikejar oleh polisi. Ia sudah membagi semua ceritanya pada Ecira.

Ecira tiba-tiba menggenggam tangan Sayap. “Negara ini memang lagi nggak beres. Makanya kami mau memperbaikinya. Ya, kan, teman-teman?”

Sayap memperhatikan anggota Elang Putih lain yang acuh tak acuh dengan ucapan Ecira. Mata mereka memancarkan kebencian yang sama padanya. Terutama Gaya yang masih ingin membalas kematian rekannya bernama Tiya.

“Dia udah ngebunuh Tiya. Kita nyelametin orang yang salah,” protes Gaya. Ia menggenggam erat busur panahnya, kapan pun siap menyerang Sayap. “Kedua orang tua ini juga harusnya tadi kita buang di tengah jalan, biar polisi yang mungut—”

“Berisik!” pekik Ecira cukup kencang.

Sayap menggenggam tangan Bunda sembari menatap nyalang Gaya. Dalam hati ia bersumpah akan memberikan balasan berlipat-lipat jika pemuda sinting itu berani menyakiti ibunya.

Pak Raja mengelus dada. Mudah sekali pemuda ini mengucapkan kata-kata menyakitkan itu. Ia menyangka hanya Ian yang membencinya, ternyata pemuda asing ini juga bersikap sama gilanya.

“Gue udah bilang Sayap nggak sengaja. Benar, kan, Sayap?” Ecira berharap Sayap membela diri agar perjalanan ini jadi lebih mudah.

Sayap diserang bingung sekaligus heran. Ia tidak tahu apa yang Ecira rencanakan. Ia bahkan tidak mengerti siapa Ecira sebenarnya. Akhirnya ia mengeluarkan suara. “Banyak rakyat sipil yang tewas karena panah kalian. Sengaja, ya?”

Senyuman di bibir Ecira hilang.

Seluruh anggota Elang Putih tiba-tiba mengarahkan panah mereka pada Sayap.

“Apa-apaan kalian?” Pak Raja ingin berdiri, tapi ditahan oleh Bunda karena takut ada konflik yang lebih kacau lagi.

“Sayap, kami ke pelabuhan buat nyelametin lo.” Ecira menunjukkan ekspresi kecewanya.

Namun, Sayap patut mempertanyakan hal itu. “Dari mana lo tahu gue di sana?” Wajar saja ia merasa sedang dibuntuti.

“Maafin Bunda, Sayap. Bunda yang ngasih tahu Ecira,” tiba-tiba saja Bunda buka suara.

“Hah?” Sayap sulit memercayainya. Padahal ia sudah bilang ke Bunda mematikan ponsel. “Kapan Bunda hubungin Ecira?”

Ecira membela Bunda. “Jangan curigaan gitu, Sayap. Wajar kali Tante hubungin gue. Tante ketakutan.”

Sayap memperhatikan Bunda; mencari kepastian. Ecira dan Bunda sudah saling kenal sejak lama. Mungkin karena itu Bunda menghubungi Ecira. Belum lagi masalah yang mereka hadapi. Bunda diincar oleh anak pertamanya, dan negara juga menginginkannya. Sedangkan Sayap diburu oleh polisi.

“Maaf, Bunda nggak tahu akhirnya malah begini.” Tubuh Bunda agak menggigil. Ia tidak menyangka Ecira membawa pasukan anak-anak muda yang membunuh para lawan dan penghalang tanpa ampun. Ia berpikir Ecira dan Bu Dirga bisa membantu mereka ketika perjalanan kapal itu gagal total, tapi ternyata rencananya sudah berantakan dari awal.

“Tante, nggak salah apa-apa. Tante udah melakukan hal yang tepat kok,” ujar Ecira yang mengusap bahu Bunda. Ia kemudian menoleh pada Sayap. “Sayap, gue ngerti lo kebingungan. Nanti di markas, gue bakalan jelasin semuanya. Jangan nyalahin Tante.” Ia memperhatikan teman-temannya. “Ayo, dong, Teman-teman. Kita masih punya misi lebih penting. Jangan buang tenaga dan pikiran kalian buat hal di luar misi.”

Para anggota Elang Putih menurunkan senjatanya.

Pak Raja menarik napas perlahan. Syukurlah para pemuda itu masih mau menahan diri.

Lihat selengkapnya