Sayap dan Ecira duduk bersebelahan di pinggir danau. Sekarang sudah pukul satu pagi, dan keindahan danau itu tak lagi terlihat. Namun, Sayap akui suara aliran airnya menenangkan. Meskipun penuh dengan misteri, tempat ini punya pesona yang membuatnya ingin mengenalinya lebih jauh. Ia masih punya niat menelusuri sampai tepinya terlihat. Mungkin ketika mereka selesai mengobrol, ia akan melakukannya.
Sementara itu Ecira sengaja mengulur waktu karena ingin lebih lama bersama Sayap.
“Mau diem sampai kapan? Gue ngantuk,” ujar Sayap datar. Ia sebenarnya tidak mengantuk. Ia tahan kantuknya untuk bisa mencari jalan untuk kabur.
“Sebenarnya ini sisi lain gue yang gue sembunyiin dari dunia.”
Dahi Sayap mengerut. “Gue nggak nyangka ada yang lo rahasiain dari gue.” Berteman sejak SMP, ia sering mendengar segala macam curhatan Ecira. Dari urusan keluarga, sekolah, sampai urusan cinta.
“Setiap orang punya satu rahasia yang mereka simpen sendiri, Sayap. Gue yakin lo punya hal penting yang nggak pernah gue tahu juga,” Ecira tersenyum manis.
Sayap menatap Ecira, mencari kesungguhan dari sana. Ia memang harus mengakui bahwa Ecira pintar menyembunyikan jati dirinya.
“Rahasia apa?” Sayap sudah tidak sabar mengetahuinya. “Apa itu Elang Putih? Kenapa kalian ada?”
Ecira semakin antusias. “Pertanyaan pertama jawabannya panjang, ditambah lagi yang kedua dan ketiga. Lo nggak masalah waktu tidur berkurang?”
Sayap menggerutu dengan mengeluarkan desisan. “Kalau lo nggak cerita ya bakal gini terus.”
Ecira paling senang melihat Sayap seperti itu. Temannya ini adalah sosok yang tak banyak bicara. Dia juga jarang mengeluh. Seorang Sayap mendumel adalah hal yang langka. Ia yakin Sayap hanya menunjukkan hal itu pada orang-orang terdekat.
“Elang Putih punya tujuan bebasin anak-anak Indonesia dari ketidakadilan.”
Sayap mengernyit. Jawaban yang terlampau umum. “Ketidakadilan kayak gimana?”
“Banyak masalah yang nimpa anak-anak Indonesia.” Ecira kemudian tersenyum lebar. “Tapi yang paling dasar deh. Kita pengin anak-anak Indonesia nggak diperlakukan semena-mena sama keluarganya sendiri.”
Sayap terdiam sebentar. Ia kemudian mengingat Bu Dirga yang terkadang terlalu galak sama Ecira. Namun, itu masih dalam batas wajar, kan? Pasalnya hidup Ecira terlihat baik-baik saja. Ecira juga tidak kekurangan apa pun. “Tapi kan mana ada keluarga sempurna di dunia ini?”
“Itu dia!” Ecira bertepuk tangan. “Udah tahu nggak sempurna. Udah tahu dirinya bermasalah, malah ngebentuk keluarga dan ngebiarin anak-anak menderita. Lalu, ketika dewasa nanti anak-anak itu membawa luka mereka, yang kena anaknya juga. Lingkaran setan yang nggak pernah berakhir.”
Sayap masih ingin mencerna kata-kata Ecira. Sebenarnya ia tidak setuju Ecira menggenalisir orang yang tidak dikenalinya seperti itu. Kalau dia membenci ibunya, untuk apa dia membawa organisasi tersebut tidak pandang bulu membunuh orang?
“Tujuan kita itu untuk menjadi penguasa negeri ini. Awal tahun kemarin aturan pemisahan orang berumur lima puluh lima tahun dari keluarganya dimulai. Aturan yang sangat ideal untuk membuat para muda-mudi di Indonesia berjaya dan nggak disetir sama boomer-boomer itu. Tapi ada orang nggak setuju sama aturan itu, bodoh banget nggak sih?” Ecira tertawa sinis.