Sayap tiba di tenda. Ia melihat Bunda yang terlelap dan Pak Raja yang ternyata sudah terjaga. Mereka ditempatkan di satu tenda, tapi kasur yang berbeda. Wajahnya yang tenang, kemudian berubah tegang. Napasnya tersengal-sengal. Ia langsung menghampiri pria tua itu perlahan, lalu berbisik. “Pak, saya ingin menghubungi polisi.”
Pak Raja terhenyak. Matanya membesar dua kali lipat. Tidak berani membayangkan apa yang terjadi ketika polisi-polisi itu datang. “Kenapa? Bisa terjadi pertempuran di sini.”
Sayap memukul-mukul pahanya sendiri. “Justru itu maksud saya, Pak!”
Pak Raja terang saja bingung melihat kepanikan Sayap. Pasti ada sesuatu yang terjadi. “Kamu nemuin apa?”
Sayap mengucapkannya cepat-cepat. “Saya dengar suara Bu Dirga di bawah tanah. Manggil-manggil anaknya, Ecira.”
Pak Raja membelalak. “Maksudmu ada yang dikubur hidup-hidup?”
Sayap mengangguk cepat-cepat. “Dan yang ngubur anaknya sendiri.” Ia bersyukur Pak Raja mengerti maksudnya. Ia sangat mengenal suara Bu Dirga. Belum lagi nama Ecira yang disebut berkali-kali. Tadi ia ingin membuka papan besi itu, tapi berhenti karena mendengar suara langkah kaki di belakang. Ternyata dugaannya benar, ada Gaya yang sedang mengintai. Ia bahkan sempat melihat Gaya meludahi papan besi itu.
Tangan Sayap gemetaran. Ia berpikir Ecira hanya membenci orang tuanya, tapi ternyata Ecira lebih gila dari yang ia pikirkan. Tadi ia sempat bingung ketika Ecira menyebut kata-kata mengubur. Ternyata itu bukan kiasan semata, Ecira benar-benar mengubur orang tuanya sendiri!
“Ponsel saya mati total. Ponselmu masih ada baterai?” Pak Raja belum memiliki kesempatan untuk mengisi daya baterainya.
Sayap lupa sejak beberapa hari lalu ponselnya dimatikan terus. Menyalakannya sekarang mungkin akan membantu. Tangannya bergerak mengetik sesuatu.
Pak Raja menarik napas banyak-banyak. “Tapi konsekuensinya—”
“Saya nerima konsekuensinya.” Sayap hanya memikirkan bagaimana caranya menyelamatkan orang-orang itu. Kegelisahannya semakin menupuk. Ia tekan tombol kirim.
Sayap langsung memutuskan langkah kedua. “Kita harus pergi sekarang, Pak.”
Pak Raja menyetujuinya. Ia mengambil perlengkapannya di ujung tenda.
Sementara itu Sayap menggoyang kuat bahu Bunda. “Bunda, Bun, kita harus pergi.”
Bunda terbangun dalam keadaan bingung. “Ada apa lagi?” Ia tidak habis pikir mereka harus pergi lagi ke lokasi lain.
“Tempat ini berbahaya. Ecira berbahaya. Mereka semua nggak ada yang beres.” Sayap berharap Bunda tidak mengajaknya berdebat.
Bunda tidak paham apa yang Sayap ucapkan. Ia akhirnya memilih mengikuti Sayap.
Sayap menyampaikan idenya pada Pak Raja. Ia tidak bisa meninggalkan Bu Dirga begitu saja. “Saya ingin bebasin Bu Dirga. Kita bisa lari ke pemukiman penduduk dan meminta bantuan mereka.”
“Saya bakal ngebantu kamu. Sebaiknya kita lakuin sekarang, mumpung anak-anak itu lagi tidur.” Pak Raja mengeluarkan pistol milik Sayap yang sempat dititipkannya sebelum mereka ke pelabuhan. “Polisi mungkin bakal datengin pasukan terdekat dari sini. Bisa jadi sebentar lagi mereka akan tiba. Siap-siap saja.”
Sayap setuju. Ia akan tetap waspada. “Saya mungkin akan melakukan negosiasi sama polisi. Mudah-mudahan saja bisa.”
“Sayap, kamu bisa ditangkap,” Bunda tidak percaya Sayap berani menghubungi polisi. Itu sama saja mencari mati. “Padahal kita sudah bisa kabur dari mereka.”
“Aku nggak punya pilihan lain, Bun. Nanti pas polisi sibuk dengan Elang Putih, kita kabur.” Sayap hanya membutuhkan waktu yang tepat untuk lari. Terlihat mudah, tapi kenyataannya belum tentu. Mau tidak mau ia harus berhadapan dengan ketidakpastian. “Ayo.” Ia yang maju lebih dulu karena ingin memastikan teman-teman Ecira tidak ada yang berpatroli.