Sayap dibawa ke markas AKBP Irlania di Jakarta bersama Ecira yang sekujur lengannya memerah karena terluka. Tangan mereka diborgol. Mereka berada di dalam truk bersama 20 polisi bersenjata laras panjang yang mengawasi dengan ekspresi garang. Sesekali ia menatap Ecira yang terus memperhatikannya.
Ecira sudah berubah pikiran tentang Sayap. Kemarin ia masih mencintai cowok itu, tapi hari ini rasa sukanya telah melebur jadi dendam. Delapan rekannya dibunuh membabi buta. Dan yang lainnya tewas karena serangan mendadak yang dilakukan polisi—yang ternyata dipanggil Sayap juga. Ia sudah mengorbankan Tiya demi menyelamatkan Sayap, tapi ternyata Sayap mengorbankan lebih banyak lagi teman-temannya. “Gara-gara lo gue kehilangan dua puluh teman. Gaya juga lo bunuh dengan brutal. Nggak punya hati lo.”
Sayap rasanya ingin menaruh cermin di depan muka Ecira. Di dalam hatinya tidak ada penyesalan sedikit pun. “Gaya hampir ngebunuh ibu gue.” Ia punya alasan kuat menjadi monster yang tidak punya hati.
“Kalau saja lo nggak ngebebasin para orang tua itu, Gaya nggak akan ngamuk.”
Sayap mendelik tajam. “Panahnya hampir nusuk ke jantung Bunda. Kalau ibu lo terluka kayak gitu, lo pasti ngelakuin hal yang sama.” Ia kemudian teringat rupa Bu Dirga yang tewas dengan anak panah tertancap di lehernya. “Ah ya, lo nggak akan ngerti karena lo nyiksa ibu lo sendiri.”
Ecira mengeluarkan suara geraman. “Lo nggak tahu apa-apa.”
Percakapan mereka terhenti karena salah satu polisi meminta mereka diam.
“Kalian masih muda, tapi menyeramkan. Yang satu ngebunuh rakyat sipil, dan melakukan kekerasan ke orang tuanya sendiri. Satu lagi ngebunuh presiden. Kalian harus tanggung jawab!”
Briptu Oman menatap Ecira dan Sayap bergantian. Betapa mengerikannya anak-anak muda ini. Yang satu memimpin perkumpulan pemuda dan pemudi yang kemampuan bertarungnya di atas rata-rata. Yang satunya lagi tampak lebih tenang, tapi berani membunuh mantan orang nomor satu di negeri ini. Membunuh presiden bukanlah perkara main-main. Ia siap menginterogasi Sayap di markas, dan akan memastikan pemuda itu buka suara.
Ecira dan Sayap tak lagi bicara. Namun, sasaran Sayap kini berganti ke para polisi. “Bapak sekalian pernah ke Kebun Surga?”
Para polisi langsung menatap Sayap.
“Hanya orang tertentu yang diperbolehkan ke Kebun Surga,” jawab Briptu Oman.
Sayap tersenyum asimetris. “Berarti kalian belum pernah ke sana, kan?”
Briptu Oman serta-merta kesal dengan ekspresi meremehkan itu. “Kamu harusnya tahu sekarang lagi berhadapan dengan siapa. Jaga sikap.”
Polisi yang lain berkomentar. “Briptu Oman, nggak perlu ditanggapi.”
Sayap menggeleng sambil tersenyum. Dunia sedang mengolok-oloknya. Yang membunuh presiden adalah polisi. Seseorang yang berseragam sama persis dengan mereka yang memelototinya ini. Ia juga sudah memikirkan konsekuensinya. Rakyat biasa seperti dirinya—yang tidak memiliki koneksi di mana pun akan dilumat sampai tak bersisa.
Sayap mempersiapkan diri karena bisa saja kematian sebentar lagi menjemputnya. Ia jadi memikirkan apakah Bunda mendapatkan pengobatan yang layak. Kalau ada apa-apa dengan Bunda ia tidak akan memaafkan mereka.
.
.
Sayap sekarang berada di ruangan remang-remang yang dilapisi dinding baja dan kaca besar di salah satu sudutnya. Di depannya ada Briptu Oman dan AKBP Irlania. Lengan atas kirinya dipasangi sebuah alat yang ia tak kenali—yang di sambungkan ke laptop yang berada di depan AKBP Irlania. Mungkin alat penyetrum atau apa, ia juga tidak peduli. Ia hanya menatap meja yang berdebu karena jarang dibersihkan. Mungkin ruangan ini jarang digunakan.
“Kami cukup kaget kamu menghubungi kami. Gimana bisa kamu menemukan orang-orang di lubang itu?” AKBP Irlania yang bertanya lebih dulu.
Sayap mendongak. Pertanyaan yang menurutnya tidak penting karena sebagian besar para orang tua itu gagal di selamatkan. Ia malah balik bertanya. “Kenapa Elang Putih nyiksa orang tua mereka sendiri?”
AKBP Irlania cukup sabar menghadapi sosok macam Sayap yang senang membelokkan topik. Ia ingin menarik hati Sayap dengan menanggapi pertanyaannya. “Kebanyakan dari mereka punya kesamaan, dendam sama orang tuanya sendiri. Mereka ngalamin kekerasan fisik, dan verbal selama bertahun-tahun, dan hal itu yang mendorong mereka jadi lebih kuat. Kesengsaraan. Tapi mereka direkrut karena pure bakat dan bakal menjadi calon pasukan elite di polisi, tentara, atau BIN. Ya, karena keadaan lagi kacau, mereka akhirnya manfaatin hal ini untuk misi mereka sendiri.” Ini caranya membuka kedok lawan bicara sebelum memberikan pertanyaan yang menyudutkan nanti.
“Lalu siapa yang gerakin mereka?” Sayap semakin penasaran.