Mereka Semua Mati di Umur 55 Tahun

Pretty Angelia
Chapter #15

Bab 15

Sayap dibawa ke penjara yang bersebelahan dengan bangsal Pak Raja. Ia didorong kasar hampir membentur dinding kalau tidak sempat menahan. Ia memperhatikan polisi itu mengunci pintu, lalu pergi sembari memelototinya.

Pak Raja berlari ke pintu, lalu memegang jerujinya. Ia memasang raut khawatir. “Sayap, kamu nggak apa-apa?”

Sayap yang tadi tidak menyadari kehadiran Pak Raja, berusaha untuk bangkit. Ia menyeret tubuhnya sampai ke pintu. Matanya membesar nyalang. “Bapak, kenapa di sini?” Polisi membohonginya. Padahal ia sudah meminta pada AKBP Irlania agar Pak Raja dibebaskan karena tidak ada sangkut pautnya dengan masalah ini. Yang meminta Pak Raja ikut adalah dirinya. Dengan begitu Pak Raja bisa membawa Bunda pergi ke tempat yang aman setelah pengobatannya selesai. Ia mendesis kesal karena Bunda belum sepenuhnya selamat.

“Saya dianggap ngebantu pelarianmu, jadi tetap bersalah,” Pak Raja menjawab santai. Menganggap hal itu cukup wajar. “Kamu dihajar sama mereka?”

Sayap meludah sembarangan untuk membuang sedikit darah di mulutnya. “Ada satu polisi yang nggak sabaran, dan teriak-teriak terus.”

Pak Raja lalu menyampaikan informasi penting. “Ibumu dibawa ke rumah sakit. Sekarang sudah tujuh jam dari serangan tadi pagi. Semoga saja ibumu belum dibawa ke tempat lain.”

“Saya harus keluar dari sini, Pak.” Sayap memeriksa pintu yang digembok. Andai saja ada benda kecil seperti penjepit rambut atau yang lainnya, ia pasti bisa membukanya.

Tiba-tiba Briptu Oman muncul di depan mereka.

Sayap dan Pak Raja langsung tercenung.

“Harusnya kalian nggak bersebelahan begini,” keluh Briptu Oman. Ia lalu berhenti di depan Pak Raja, menunjukkan seringainya. “Pak Raja, anak Anda sudah tiba. Ayo, pulang—”

Pak Raja membelalak. Ia langsung mundur. “Nggak! Saya mending di sini daripada ketemu Ian!”

Sayap menendang pintu sampai bergetar. Ia tiba-tiba jadi belingsatan. “Pak Raja nggak mau ditukar sama uang!”

Senyuman Briptu Oman kian lebar. “Ya, nggak apa-apa dong. Itu namanya memberikan warisan sama anak. Peraturan ini sangat membantu masyarakat, kan?”

Sayap bisa merasakan karakter Briptu Oman yang berbeda dibandingkan di ruangan interogasi tadi.

“Sudah takdir Bapak tinggal di Kebun Surga yang nggak ada itu—” Briptu Oman pura-pura terkejut seraya menutup mulutnya. “Ah, keceplosan.”

Sayap semakin kesetanan menendang jeruji penjara. “Polisi sudah tahu semuanya, kan? Kalian memang sengaja menyembunyikannya dari rakyat, kan? Kalian pembunuh sesungguhnya!”

Briptu Oman tersenyum asimetris. “Pembunuh presiden nggak akan selamat. Sebentar lagi kamu juga bakal mati!”

Lihat selengkapnya