Sesaat pandangan Briptu Oman mengabur. Ia menatap penyerangnya yang ia kira adalah rekan satu tim. Di mana rekannya yang asli berada, tidak penting lagi. Sekarang ia harus menyingkirkan pengganggu itu. Ia pun melompat ke arah si penyerang.
Namun, si penyerang memukul kuat kepala Briptu Oman menggunakan bagian bawah laras panjang. Pelipis Briptu Oman pun mengucurkan darah. Penyerang itu membuka penutup wajahnya. Ternyata AKBP Irlania! Ia tersenyum sinis dan memberikan lawannya tatapan sangar. “Mau ngegantiin saya?”
Briptu Oman awalnya terkejut, tapi kemudian ia semakin berang karena sosok yang dibencinya ada di sini. “Brengsek!” Ia mengambil pistol, dan hendak mengarahkannya pada Pak Raja.
Pak Raja tidak berkutik dibuatnya. Badannya mundur sampai membentur dinding mobil. Tidak ada tempat aman lagi untuk kabar.
Namun, AKBP Irlania menendang tangan Briptu Oman sampai pistolnya lepas. Lalu, tanpa ragu menembakkan laras panjang berkali-kali pada anak buahnya.
Pak Raja yang melihat darah di mana-mana langsung tergegar-gegar. Matanya nyaris keluar dari rongga. Briptu Oman tewas seketika. Tubuhnya tergeletak dengan posisi yang tidak keruan. Ia langsung membuang muka karena bau darahnya yang tidak tertahankan. Siapa yang sangka setelah sesumbar ingin membunuhnya, polisi itu yang tewas lebih dulu. Ia menarik napas panjang agar tidak pingsan. Bisa-bisa ia terus bermimpi buruk karenanya. Perutnya tiba-tiba saja bergejolak. “A-astaga.”
AKBP Irlania menggedor dinding pembatas kuat-kuat. “Kembali ke markas!”
Baru kali ini Pak Raja melihat polisi wanita yang membunuh musuhnya tanpa ampun. Ia pun paham mengapa wanita ini menjadi salah satu petinggi polisi di wilayah Jakarta. Dia tidak hanya terlihat tegas, tapi juga tidak ragu menyingkirkan orang jahat dengan caranya sendiri. Kebanyakan anak buahnya adalah lelaki dan tunduk pada perintahnya. “T-terima kasih.” Hanya itu yang bisa Pak Raja ucapkan.
AKBP Irlania hanya mengangguk. Ia melempar sarung tangannya yang berdarah. “Percakapan tadi direkam, saya akan bawa ini ke Istana,” ungkapnya.
Pak Raja hanya mengangguk kecil karena masih syok dengan peristiwa mengenaskan barusan.
AKBP Irlania lalu menelepon seseorang dengan ponselnya. “Fatima, tolong cek TPS Jonggol sesuai yang kamu temukan kemarin. Sepertinya kuburan massalnya di sana. Segera kabari saya.”
Pak Raja yang masih terkejut, tambah terhenyak dengan ucapan AKBP Irlania. Rentetan kejadian di hari ini membuatnya pusing tujuh keliling. Walaupun masih ngeri karena terbayang-bayang pertarungan sengit tadi, ia merasa harus bicara. “A-apa yang terjadi?”
AKBP Irlania menjawab singkat. “Saya nggak ngerti. Makanya saya mau cari tahu. Saya juga nggak nyangka Briptu Oman punya misi tanpa seizin saya.”
Isi kepala Pak Raja masih dipenuhi kata-kata Briptu Oman tadi. “Apa yang dikatakannya benar?”
AKBP Irlania terdiam sejenak. Ia memasang raut khawatir sembari mengingat percakapannya dengan Dokter Ika dulu. “Saya akan cari tahu.”
Pak Raja semakin gelisah. “Kalau itu beneran terjadi, apa kami tetap akan dibunuh? Bisa-bisa nggak ada orang berumur lima puluh lima tahun ke atas yang tersisa di negeri ini,” suaranya mengecil membayangkan dirinya ditembak seperti tadi. Ia menggeleng kuat, berusaha menyingkirkan hal itu dari pikirannya.
Ekspresi AKBP Irlania berubah sendu. Ini lebih mengerikan dibandingkan virus-virus yang pernah menyerang dunia beberapa kali. “Kami akan coba cari solusinya.” Ia kemudian menelepon seseorang. “Riza, siapkan markas di Sukamantri. Saya segera ke sana.”
Pak Raja berharap ia sudah berada di tempat yang tepat. AKBP Irlania memang telah menyelamatkannya dari maut, tapi ia belum tahu apa yang direncanakan wanita ini. Ia harus bisa menjelaskannya pada Sayap. Atau ia mungkin harus menyusun rencana sendiri kalau nanti ada hal mengerikan yang terjadi.
Mobil itu kemudian terus melaju sampai tiba di markas AKBP Irlania.
.
.