Tidak ada rintangan apa pun yang dilalui para polisi ketika menjemput Bunda. Sekarang mereka sudah tiba di markas rahasia kepolisian di Desa Sukamantri, yang berlokasi di Sukabumi.
Sukamantri merupakan desa terpencil, dan sepi penduduk. Bisa ramai ketika ada anak-anak sekolah atau lainnya berkemah. Namun, akhir-akhir ini lokasi perkemahan tersebut tidak lagi digunakan karena menjadi markas kepolisian yang tersembunyi.
Gedung markas sengaja dibangun di bawah tanah agar tidak menarik perhatian. Sayap bisa melihat bekas akar yang sengaja dipotong agar tidak memanjang di dinding-dindingnya. Ia tidak tahu apakah tempat ini aman dari serangan. Yang penting, ia sudah berada di lokasi yang tepat. Ia sedang duduk memperhatikan Bunda yang tertidur pulas. Lukanya sudah diobati, terbukti dengan perban di bahu Bunda. Walaupun katanya masih nyeri, keadaan Bunda sudah jauh lebih baik dari kemarin. Bunda juga diberikan obat pereda nyeri dan antibiotik.
Bunda tadi sudah makan sedikit. Tak ingin Bunda kelelahan, ia membiarkan ibunya tidur di kamar yang tersedia. Empat hari lagi Bunda akan berulang tahun, ia bahkan tidak tahu harus menghadiahkan apa.
Sayap memperhatikan busur, dan anak panah pemberian AKBP Irlania yang diletakkan di sudut ruangan. Sekarang sudah malam, mungkin besok ia akan mencobanya. Ia pun memutuskan tidur di kasur lain yang ada di ruangan yang sama.
.
.
Sayap terbangun lebih dulu pukul tujuh pagi. Bunda masih tertidur. Ia tersentak ketika menemukan tubuhnya dilapisi selimut tebal. Seingatnya semalam tidak ada selimut itu. Ia kembali menatap Bunda. Lalu, tersenyum lebar saking senangnya.
Fokusnya beralih pada panah hitam yang membuatnya penasaran. Badan anak panahnya ringan, mungkin bisa menjangkau sasaran berjarak lebih dari delapan kaki. Mungkin juga ada kelebihan-kelebihan lain yang belum ia ketahui. Ia jadi ingin mencobanya.
Sayap keluar dari kamar membawa senjata barunya. Ia ingin melenturkan otot-ototnya sejenak. Ia memperhatikan tangannya yang diperban akibat meninju jeruji penjara berkali-kali. Tanpa ragu ia lepaskan perban itu agar bisa leluasa memanah. Ia berjalan ke lantai lebih bawah. AKBP Irlania sempat menunjukkan tempat tersebut padanya kemarin. Sebuah lapangan luas yang multi fungsi.
Sayap bisa menemukan papan bidikan yang sama persis dengan yang ada di tempat pelatihannya. Tanpa ragu ia melayangkan panah ke papan tersebut, dan tertancap tepat di skor lima. “Yep, seperti biasa.”
Sayap lalu kembali memanah. Skornya tetap saja berada di nomor lima. Ia kemudian tersentak karena merasakan serangan di belakang. Busur dan anak panahnya dilemparkan. Benar saja ada AKBP Irlania yang berniat meninjunya, tapi ia berhasil menahan dengan mencengkeram tangannya.
AKBP Irlania mengayunkan tendangan ke kaki Sayap, tapi Sayap berhasil melompat. Tangannya yang masih menggenggam kepalan tangan AKBP Irlania, ingin memelintirnya. Sayangnya AKBP Irlania menjauh dan mau meninjunya lagi.
Tinju dan tinju kemudian saling bertubrukan!
Namun, Sayap memekik kesakitan. “Au!” Ia menggoyang-goyang telapak tangannya.
Membuat AKBP Irlania keheranan. “Segitu aja sakit?” Ia menarik tangan kanan Sayap.
“Tangan saya belum sembuh.”
AKBP Irlania menggeleng seraya berdecak kesal. “Kamu selalu aja begitu.”
Sayap tersentak melihat AKBP Irlania berada di sini. Ia mencoba tidak memedulikan tangannya yang masih sakit. Di kepalanya kini berkumpul banyak pertanyaan. Ia akan menyampaikannya satu per satu. “Jadi… Komandan nggak lagi nuduh saya sebagai pembunuh presiden?”
AKBP Irlania melipat tangan di depan dada. Ia mendongak pada Sayap. Pemuda itu ternyata cukup tinggi juga. Mungkin sekitar 180 cm. “Saya kemarin sempat ke tim forensik. Mereka menemukan sidik jarimu di tangan almarhum.” Ia memberikan jawaban yang menggantung.
Sayap mendengus kesal. Ia kemudian mengambil anak panah dan busurnya. “Saya udah bilang, itu bukti yang dibuat-buat.” Ia bersiap untuk memanah kembali.
AKBP Irlania terdiam sejenak. “Ya, mungkin kamu nggak percaya sama temuan tim forensik, tapi kamu bisa bicara sama saya.”
Panah Sayap melesat ke papan, dan berhenti di skor nomor satu.
AKBP Irlania tersenyum tipis. “Kamu memang paling jago pas merasa lagi terdesak atau tertekan.” Ia memperhatikan tumpukan anak panah di dekat Sayap. “Kalau di luar lapangan, kamu selalu latihan dengan anak panah yang lebih runcing?” Alias yang bukan untuk atlet panahan.