AKBP Irlania paham mengapa Dokter Ika menuduhnya seperti itu. Ia sempat keliru karena menganggap apa yang Dokter Ika ucapkan dulu isapan jempol belaka. “Saya akui saya cukup dekat dengan Kapolri, tapi saya melakukan misi ini tanpa sepengetahuannya. Dia juga nggak melibatkan saya dalam misi pembunuhan orang-orang berumur lima puluh lima tahun.” Ia harus bisa meyakinkan Dokter Ika sudah berada di tempat yang aman. “Saya turut berduka atas tewasnya keluarga Anda. Hal itu berada di luar kendali saya. Saya bahkan nggak tahu siapa pelakunya.”
Sayap menilai cepat sekali ekspresi Dokter Ika berubah. Pasti kejadian buruk itu membuatnya trauma setengah mati.
“Adikku satu-satunya,” Dokter Ika berusaha menahan tangisnya. “Dia membantuku dalam penelitian ini. Dia juga aktif di sosial media. Setelah tulisannya tentang kemungkinan ledakan bom manusia terpublikasi, semenit kemudian terhapus secara misterius. Aku pun bertanya-tanya mengapa kalian nyembunyiin ini dari publik. Tapi setelah Kapolri bicara empat mata sama aku, ternyata dia yang ngendaliin semuanya. Dia bilang akan ada kekacauan panjang kalau rakyat tahu hal ini. Tugas polisi memastikan kekacauan itu nggak akan terjadi. Tentara juga setuju dengan hal ini. Kalian bener-bener nyusahin, tahu nggak?”
AKBP Irlania memejamkan mata rapat-rapat. Kalau hal itu ia sudah tahu sejak dulu. Kapolri memang tidak pernah berubah. Selalu bergerak cepat dan sembunyi-sembunyi mengatasi hal yang mengganggu pendapatnya.
Dokter Ika lalu kembali duduk. “Lima jam setelah tulisannya terhapus, adikku keluar sebentar buat ngopi, dan ditemukan tewas di pinggir tol. Alasannya karena perampokan dengan senjata api. Tapi, keesokannya aku yang ditangkap. Anehnya, kenapa cuma aku yang dibiarin hidup?”
AKBP Irlania tahu jalan pikiran Kapolri. Ia sebutkan saja kemungkinan itu. “Mungkin dia ingin tahu sesuatu juga. Dua tahun lagi Kapolri akan berumur lima puluh lima tahun.”
Dokter Ika mengangguk seraya membuka mulutnya lebar-lebar. “Hah, dua tahun lagi negara ini akan tetap kacau kalau belum ditemukan obat untuk menanggulangi hal ini.” Ia kemudian berusaha mengingat hal lain selama berada di penjara. “Ecira juga mengunjungiku untuk nawarin kerja sama. Aku tolak mentah-mentah karena idenya itu sinting. Dia bicarain hal konyol.”
Sayap membelalak. “Kenapa Ecira hubungin dokter? Apa dokter kenal Ecira?”
Dokter Ika mengangguk. “Dia keponakan jauhku.”
Sayap merasa dunia ternyata tidak sejauh yang ia kira. “Dia ngomong apa?”
Bola mata Dokter Ika berputar. “Dia pengin ngebuat negara baru yang ramah terhadap orang-orang muda. Nama negaranya Mudaland. Menggelikan! Dia mau orang-orang berumur lima puluh lima tahun itu dijadiin sebagai senjata rahasia kelompoknya. Jadi kayak di Game of Thrones. Tahu kan Daenerys Targaryen? Dia bilang ‘Dracarys’! Naganya langsung nyemburin api. Ecira pengin ada teknologi yang ngebuat dia bilang ‘meledak’, orang-orang berumur lima puluh lima tahun itu beneran meledak! Boom!” Dokter Ika menaikkan kedua tangannya tinggi-tinggi. “Mana bisa kayak gitu? Ecira kebanyakan nonton fiksi! Terus dia pikir aku ini sinting apa sampai mau repot-repot bikin formula kayak gitu? Penyebab ledakan aja aku belum tahu!”
Sayap menahan tawa sebisanya karena gerakan Dokter Ika yang lebay dan lucu. Namun, ia tahu Dokter Ika sedang memaparkan ceritanya serius, jadi ia tidak ingin mengacaukan suasana dengan tertawa.
Namun, setelah dipikirkan lagi, kalau teknologi yang membuat orang meledak seperti di serial Game of Thrones itu benar-benar ada…. “Kalau misalnya teknologi itu benar-benar ada, Dok, apa yang bakal terjadi?”
Semua orang terdiam mendengar pertanyaan Sayap.
Sayap merasa bersalah.
Dokter Ika hanya tertawa getir. “Nggak hanya orang tua yang mati, kita semua bisa mati. Rumah kita, Indonesia, cuma tinggal nama dan sejarah.”
Jawabannya yang menurut Sayap masuk diakal dan mengerikan.
“Padahal Elang Putih itu ada di bawah Kementerian Pertahanan. Latihan mereka diawasi ketat sama Menteri. Tapi, gara-gara kejadian ledakan misterius ini, Ecira berani bikin revolusi sinting,” Dokter Ika mencoba mengingat apa saja yang dibicarakannya sama Ecira. “Makanya dia nyulik orang-orang berumur lima puluh lima tahun itu karena benar-benar mau digunain sebagai senjata. Kalian udah nemu tempat persembunyiannya, kan? Dia memang harus segera ditangani. Jangan biarian dia bebas!” Dokter Ika seolah setuju Elang Putih ditaklukkan.
Ruangan itu hening sejenak. Semua mata tertuju pada Dokter Ika dengan ekspresi pedih. Kejadian itu memang tidak bisa dilupakan oleh Sayap. Apalagi Sayap nyaris kehilangan Bunda.
“Em, apa aku ada salah bicara?” Dokter Ika melirik orang-orang di hadapannya satu per satu.
“Elang Putih ngubur orang tua mereka sendiri dan orang lain. Saya memang lapor polisi. Polisi bawa kami pergi dari tempat persembunyian itu, tapi…” Sayap berpikir keras untuk menyampaikannya dengan kata-kata yang pas. Pasalnya hal itu terlalu keji untuk diungkapkan.
“Tapi kenapa?”
“Pas kami sedang menyelamatkan mereka, semuanya dibunuh sama Elang Putih.”
Dokter Ika menganga, kemudian menggigit bibirnya sendiri. “Berarti Tante Dirga dan Oom Cahya udah meninggal….”