Pertemuan sudah selesai sampai tidak terasa sudah siang menjelang sore saja. Di ruangan itu hanya tersisa Pak Raja, dan Sayap yang duduk berhadapan. Sayap memutuskan tetap di tempat untuk menemani lelaki tua itu.
Pak Raja masih terlihat shock karena fakta yang baru saja mereka ketahui. “Bener-bener nggak bisa dipercaya. Orang seperti saya yang nggak ada gunanya ini mau disingkirin sama negara karena berbahaya.”
“Itu bukan salah, Bapak,” bisik Sayap sembari memikirkan Bunda. Pasti Bunda akan terpukul seperti Pak Raja ketika mengetahuinya. Ia tidak sanggup mengungkapkannya.
Namun, kata-kata Sayap itu tidak membantu. Pak Raja semakin terjebak di keputusasaannya. Senyuman getirnya mengembang. “Harusnya kemarin saya ikut Ian ya. Seenggaknya saya bisa lebih berguna dikit ngasih uang sama dia. Ah, tapi, Ian nggak akan nyerahin saya ke polisi. Dia mau nyulik saya buat dijadiin senjata kelompoknya.”
“Tapi saya nggak pernah nyesel menyelamatkan, Bapak,” sahut Sayap tanpa ragu.
Pak Raja terang saja jadi terharu. “Jujur saja setelah kamu bawa saya pergi, saya kembali punya semangat hidup.” Namun, sekarang hal itu hanya tinggal rencana. Ia kembali mengingat dosa masa lalunya. “Mungkin ini balasan buat saya. Saya memang bukan orang tua yang baik buat Ian. Setiap ingin memperbaiki hubungan dengan Ian, ada saja kesalahan yang saya perbuat.”
Pak Raja berpikir tidak ada salahnya mengungkit luka lama di ujung kehidupannya ini. “Setelah sempat pergi, saya kembali, dan istri saya ngasih kesempatan kedua. Saya buka usaha beberapa kali, tapi semua bisnis saya bangkrut. Saya dan istri pun jadi sering bertengkar. Sebenarnya wajar dia marah karena saya selalu gagal. Saya nggak ada bakat bisnis, tapi nekat bisnis karena nggak tahu lagi harus kerja apa. Mencari pekerjaan di perkantoran itu susah. Puncaknya, saya tempeleng dia. Ian balik ninju saya. Kami bertengkar sampai dilerai sama tetangga. Ian ngatain saya sebagai bencana. Saya akhirnya pergi lagi, dan nggak pernah kembali.”
Sayap jadi memikirkan orang tua kandungnya yang misterius. Siapa mereka, dan apa alasan mereka menitipkannya ke panti asuhan, tidak pernah ia ketahui. Bunda juga mengatakan hal yang sama. Ia berkesimpulan mungkin setelah lahir langsung ditaruh di depan panti asuhan. Memikirkannya saja membuat dadanya sesak. “Apa orang tua sengaja seperti itu?” Ia hanya ingin berdiskusi. “Saya cuma mau tahu dari perspektif Bapak sebagai orang tua. Kenapa orang tua ninggalin anaknya begitu saja?”
Pak Raja terdiam menatap Sayap. Ia bisa melihat luka yang Sayap simpan dari sorot matanya yang kosong. “Saya pergi karena takut bikin keluarga saya lebih sengsara. Sebenarnya rasa sayang itu ada. Tapi ketakutan saya jauh lebih besar. Ngerasa nggak pantas jadi orang tua karena setiap ingin berusaha jadi lebih baik, ternyata saya mengacaukan semuanya. Saya orangnya emosian ke keluarga saya sendiri. Itu yang sulit saya perbaiki.”
Sayap menunduk dalam-dalam. Kalau takut melukai keluarga, lalu kenapa sejak awal malah berkeluarga? Yang mengherankan kejadiannya selalu terulang. Tidak hanya yang kesulitan ekonomi, yang mampu secara materi pun bisa terjerat persoalan ini. Ia mengingat Ecira yang berasal dari keluarga berkecukupan. Segala kebutuhannya dipenuhi. Setiap hari ada mobil ber-AC yang mengantarnya ke sana-kemari. Namun, ternyata Ecira memiliki luka yang kadung membusuk. Kemudian emosinya meledak, berani menyingkirkan orang tuanya, sampai berambisi untuk mengubah negara ini dengan cara yang konyol.
Sayap kemudian kepikiran hal itu, dan ingin mengetahui pendapat Pak Raja kembali. “Kalau Bapak punya kemampuan mengembalikan waktu, apa yang ingin Bapak lakukan?”
Pak Raja melihat ke langit-langit. Banyak sekali hal yang terlintas di benaknya. Kalau saja yang namanya mesin waktu ada. Namun, untuk sekarang berandai-andai pun tidak masalah. Senyuman mengembang di bibirnya. Ia masih mengingat perasaan itu. “Saya ingin bilang ke Ian, ketika ia lahir, saya menjadi orang paling bahagia di dunia.”
Sayap kira Pak Raja akan menjawab bahwa dia akan mencoba kembali menjadi ayah yang baik, tapi ternyata lebih dalam dari yang dibayangkannya. Tanpa Sayap sadari, dua tetes air turun dari matanya.
Pak Raja pun terkesiap. “Kenapa kamu nangis?”
Sayap buru-buru mengusap air matanya. Malu juga tiba-tiba menangis seperti itu. Namun, ia tetap mengutarakan alasannya. “Andai aja Bang Ian dengar langsung, Pak.”
Pak Raja tersenyum getir. “Ya, ini hanya berandai-andai.” Ia menyadari kesempatan itu tidak lagi ada.
.
.
Bunda berdiri di sebuah lorong, berharap orang yang ditunggunya lewat ke sini. Senyumannya pun merekah ketika sosok itu terdiam melihatnya.
AKBP Irlania bergegas menghampiri Bunda dengan raut khawatir. “Ibu kok di sini? Saya antar ke kamar—”
Tangan Bunda menahan Irlania untuk pergi. “Saya ingin bicara sebentar dengan Anda.”
AKBP Irlania terdiam menatap waut wajah sedih Bunda.