Dokter Ika memasukkan barang-barangnya ke dalam ransel. Penampilannya sudah berubah seperti orang yang bersiap mendaki gunung. Ia berencana pindah ke villa keluarganya yang berjarak sekitar sepuluh kilometer dari sini. Ia memaksa AKBP Irlania meminjamkan motornya, dan polisi itu menyetujui. “Aku butuh tempat yang tenang buat ngeriset.”
AKBP Irlania menawarkan hal yang mungkin bisa membantu. “Kamu perlu diawasi polisi—”
“Untuk sekarang nggak perlu.” Dokter Ika mengangkat tangannya tinggi-tinggi. “Aku harus sendiri di villa. Nggak akan bisa konsentrasi kalau ada orang lain.”
AKBP Irlania menarik napas panjang. Ia bisa saja marah karena Dokter Ika menyebutkan hal yang susah-payah disembunyikannya selama bertahun-tahun. Namun, masih ada hal penting lain yang harus diperhatikan daripada memikirkan hal itu berlarut-larut. “Baiklah, kalau ada apa-apa hubungi nomorku.”
Dokter Ika berdiri tegak. “Hati-hati, Kapolri pasti sedang mengejarmu,” nada suaranya lebih terdengar menggertak dibandingkan memberikan informasi.
“Aku sih siap aja.”
“Lalu, gimana dengan anak buahmu yang lain? Mereka berhasil membawa orang-orang berumur lima puluh lima tahun yang lain kemari?”
“Semoga malam ini ada kabar baik.” AKBP Irlania sudah memerintahkan anak buahnya membawa para orang tua demi mencegah terjadinya pembunuhan massal lagi.
“Baiklah, aku serahin padamu.” Dokter Ika menaiki motor, lalu melajukannya dalam kecepatan standar.
Sementara AKBP Irlania kembali ke dalam markas melanjutkan tugasnya.
.
.
Pukul dua pagi, AKBP Irlania dan Bripka Brahma masih terjaga mempelajari peta wilayah Sukamantri. Lusa, Pak Raja dan ibunya Sayap akan berulang tahun, jadi mereka harus mencari lokasi yang tepat untuk salam perpisahan. Seperti yang sudah disepakati, mereka akan dibiarkan meledak sendiri. Lokasinya harus berbeda untuk mengurangi daya ledakan.
Wilayah Sukamantri sebagian besar dikelilingi hutan. Semakin berjalan ke dalam hutan, dan mengikuti jalan utamanya, mereka bisa tiba di Gunung Salak yang misterius dan punya keindahan yang menenangkan. Di mana-mana yang bisa temukan adalah warna hijau, serta pepohonan yang menjulang tinggi. Ada juga air terjun dan sungai kecil.
“Apa kita harus mendaki sedikit? Menghindar dari kontak dengan penduduk sekitar.” Bripka Brahma memberikan opsi yang sekiranya tepat.
AKBP Irlania masih belum bisa memutuskan lokasi yang bagus. “Selain orang tua, saya juga nggak tega pohon-pohon subur nan asri itu akan kebakar. Yah, walaupun nanti akan langsung dipadamkan sama air yang sudah dipesan.” Selain itu ada keraguan yang bersarang di hatinya. “Saya sebenarnya ingin ngasih tahu hal ini pada publik.”
Bripka Brahma memperhatikan atasannya sejenak sebelum kembali ke peta. “Kemarin kita sudah membahasnya, Komandan. Untuk bilang ke publik nggak bisa sembarangan. Kita butuh waktu.”
AKBP Irlania punya pikiran lain yang mengganggunya. “Saya nggak tahu ini jalan yang tepat atau bukan. Mau di laut atau di gunung, sama-sama bukan tempat aman untuk ledakan. Kamu udah panggil helikopter pembawa air, kan? Buat mencegah kebakaran hutan.”
Bripka Brahma mengangguk cepat. “Semoga saja Dokter Ika bisa nemuin obatnya. Atau seenggaknya cara untuk mencegahnya dalam waktu yang cepat.”
AKBP Irlania kemudian mengingat presentasi itu. “Dari awal tahun, sudah tiga puluh juta orang berumur lima puluh lima tahun ke atas yang dipisahkan dari keluarganya. Ada keluarga yang terus menghubungi polisi agar bisa bertemu dengan orang tuanya. Tapi ada juga yang nggak peduli. Ada juga yang protes kenapa uangnya nggak dicairkan sekaligus.”
Bripka Brahma tersenyum miris. “Kayaknya uangnya juga nggak akan mereka terima penuh. Cuma di awal aja biar meyakinkan.”