Mereka Semua Mati di Umur 55 Tahun

Pretty Angelia
Chapter #21

Bab 21

Bunda ingin berteriak, tapi ketakutan yang menjerat membuat sekujur tubuhnya membatu. Bagaimana bisa mantan suaminya berada di sini? Tadi Briptu Fatima bilang semua orang tua itu lahir tanggal sepuluh Juni. Sedangkan mantannya lahir di tanggal 25 Januari, enam bulan lebih muda darinya.

Napas Bunda memburu ketika mantan suaminya bernama Tara itu menunjukkan granat yang tersembunyi di balik rompi.

“Jangan macem-macem. Gue bisa ledakin gedung ini kapan saja. Nggak lo aja, Sayap juga bisa tewas.”

Tubuh Bunda gemetaran karena ekspresi bengis bak iblis itu. Pernikahan mereka hanya bertahan dua tahun. Ketika berhasil berpisah dari Tara, Bunda merasa hidupnya bagai di Surga dan Neraka. Surganya adalah mampu menjauh dari sosok suami kasar yang suka seenaknya. Namun, neraka dirasakannya juga ketika gagal membawa pergi Haris yang saat itu membutuhkannya. Terlebih Tara memengaruhi Haris jika ia yang meninggalkan mereka. Haris jadi membencinya setengah mati.

Kehadiran Tara menjadi mimpi buruk yang tiba-tiba datang. Apa yang harus ia lakukan? Mengingat perilaku Tara yang bisa berbuat apa saja demi ambisinya, bukan tidak mungkin dia benar-benar akan meledakkan granat-granat itu. Padahal mereka sudah berada di tempat yang aman. “Nga-ngapain kamu di sini?”

Tara menyeringai. Ia sangat menikmati wajah ketakutan itu. “Mau jemput lo. Enak aja lo pergi tanpa ninggalin apa-apa. Gara-gara lo hidup gue kacau balau. Uang seratus juta bakal gue pakai buat foya-foya.”

Tara melihat ke sekitar. Polisi-polisi itu tidak ada. Mungkin sebagian berjaga di luar. Ia punya rencana bagus agar bisa keluar dengan selamat. Ia pun bangkit. Tangannya masih mencengkram lengan Bunda. “Ikut gue.”

“K-ke mana?”

Tara terkekeh-kekeh. “Ke Kapolri.”

Bunda menutup mulut dengan tangan. Setelah sekian lama berpisah, mantan suaminya masih saja mampu menebarkan teror. Dulu, Tara tidak pernah bekerja dengan benar. Bunda merutuki dirinya sendiri karena termakan janji palsu Tara ia sangka bisa seperti ayahnya yang merupakan wirausahawan sukses.

Bunda juga sampai bingung kenapa dulu sampai mau diajak menikah oleh Tara. Mungkin karena dulu Tara menjadi laki-laki yang berani datang langsung ke orang tuanya untuk meminang.

Karena melakukan pencucian uang, Tara didepak oleh saudara-saudaranya sendiri. Dari sini terlihat Tara benar-benar berubah menjadi orang lain. Setelah mereka cerai, Tara berkali-kali keluar-masuk penjara karena kasus perampokan. Ia adalah musuhnya polisi. Wajar saja ia keheranan tiba-tiba Tara menyebutkan Kapolri. “K-kapolri ada di sini?”

“Sstt.” Mata Tara menyalang. Ia kembali menyeringai. “Tempat ini udah dikepung sama anak buahnya, dan lo semua nggak akan ada yang selamat.” Ia menarik paksa Bunda agar mengikutinya. Langkahnya sedikit oleng akibat timah panas yang dihadiahi polisi di kakinya dulu. Namun, luka itu tidak pernah membuatnya kapok.

“Kita udah pisah sejak lama! Kamu nggak akan dapetin uangnya!”

“Dapet lah! Kapolri udah janji sama gue! Dia soalnya mau tangkap Sayap juga!”

“A-apa?” Terang saja Bunda terkejut Kapolri mau berurusan dengan Sayap. “Sayap nggak bersalah! Dia nggak berhak ditangkap!”

Lihat selengkapnya