Aksi Sayap itu membuat orang-orang yang melihat tercenung. Bukan karena kemampuan memanahnya, melainkan ketidakraguannya membunuh Tara dalam sekejap.
“Sayap,” panggil Bunda resah. Mantan suaminya itu telah mengucapkan hal yang seharusnya tak pernah diungkapkan.
Sayap membisu di tempat. Ia bahkan tidak berani menatap Bunda. Ia tahu betul sosok Tara. Ketika Tara bilang akan menghajar ibunya, dia akan melakukan itu. Ketika Tara berniat mengobrak-abrik rumah, sepuluh menit kemudian rumah berubah menjadi bak kapal pecah. Tara mungkin adalah lelaki paling brengsek dan bengis yang pernah ditemuinya, tapi dia tidak pernah berbohong.
Harusnya Sayap melakukan klarifikasi langsung pada Bunda. Menanyakan apakah benar ia dititipkan di panti asuhan. Ia menatap Bunda dengan perasaan tak menentu. Namun, Bunda tidak melakukan pembelaan apa-apa. Bunda tetap berada di tempat seperti menyesali dosa masa lalunya. Kakinya pun ia bawa menghadap AKBP Irlania. “Komandan, kita harus pergi dari sini.”
AKBP Irlania lalu menepuk-nepuk bahu Sayap. “Bersiaplah.”
Bripka Brahma selesai melakukan tugasnya. Ia menenteng sebilah samurai yang didominasi warna merah menyala, lalu memberikannya pada AKBP Irlania.
Sayap menahan napas menatap samurai itu. Ia tersentak saat AKBP Irlania memasang gelang perak berlonceng kecil di tangannya.
“Hati-hati. Nggak menutup kemungkinan ada mata-mata di antara rombongan itu,” ungkap AKBP Irlania memperingatkan. Ia lalu menghadap Sayap. “Kamu sebaiknya ikut saya.”
Sayap mengangguk setuju.
Bripka Brahma memberikan hormat, lalu membagi kelompok orang tua itu jadi dua.
Di lain pihak. Briptu Fatima menghampiri Bunda dan mengobati lukanya, dibantu oleh Pak Raja.
Pak Raja memperhatikan Sayap yang memberikan jarak dengan Bunda. Ia mengerti Sayap adalah manusia biasa, tapi ia menyayangkan Sayap terkena hasutan orang brengsek tadi.
“Harusnya saya bilang ke Sayap dari dulu,” ujar Bunda seraya tersedu-sedan.
Pak Raja tersentak. Ia pikir ucapan Tara tadi omong kosong belaka, ternyata sebaliknya. Namun, ia tidak akan menyudutkan Bunda. Ia tahu betul bagaimana rasanya dibenci anak sendiri. Merasa bersalah sudah pasti. Yang paling menyakitkan, ia sudah tidak punya kesempatan memperbaikinya. Harusnya setelah konflik itu terjadi, ia tidak pernah pergi. Harusnya Ian kecil punya kenangan-kenangan yang indah bersamanya. Dan kepergian Pak Raja membuat Ian kecil membawa kemarahannya hingga dewasa. Sampai sekarang permintaan maaf itu hanya disimpan di dalam mulut Pak Raja.