Mereka Semua Mati di Umur 55 Tahun

Pretty Angelia
Chapter #23

Bab 23

Seluruh rombongan berlari mengikuti instruksi AKBP Irlania. Sayap membantu Pak Raja berdiri. Ia lega Pak Raja tidak terluka sedikit pun. Malah bahunya yang mengalami luka kecil, tapi itu tidak seberapa. Ia kemudian berlari ke arah Bunda, lalu tanpa ragu menarik tangannya.

Bunda hanya terkesiap dan berusaha mengimbangi lari Sayap yang cepat. “Sa-sayap—”

“Lari, Bun,” Sayap sedang berusaha melupakan kejadian tadi. Dari lubuk hatinya yang terdalam, ia tidak sudi kehilangan Bunda di sini. Pak Raja pun mengikuti mereka.

Sayap tidak lagi mendengar desingan panah. Ia menengok ke belakang. Wajah-wajah ketakutan berlomba menyelamatkan diri. Warna putih yang membuatnya cemas hilang dari pandangan. Sepertinya Elang-Elang itu tidak mengejar. “Aneh.” Meskipun begitu, Sayap terus berlari. Ia tersentak melihat AKBP Irlania yang menyusul, dan sekarang berada di posisi paling depan. Memang wanita ini memiliki kemampuan fisik yang luar biasa.

Sayap kemudian menyadari mereka tiba di jalan setapak yang menghubungkan dua jalan tadi. Sebentar lagi akan tiba di markas yang berdekatan dengan wilayah bekas perkemahan. Ia lalu berbicara pada Pak Raja yang berada di sebelahnya. “Pak, tolong jaga, Bunda.”

Sayap berhasil menyusul AKBP Irlania. “Komandan, kenapa kita malah balik?” Ia berpikir seharusnya mereka pergi ke lokasi lain. Markas mereka pasti sudah diketahui oleh para pengincar itu.

“Kalau di tengah hutan, Elang Putih yang diuntungkan. Jika kita menyerang mereka di tempat yang terbuka, mereka yang akan kesulitan. Rombongan juga sebaiknya bersembunyi di markas.”

Sayap mengangguk paham. Mungkin itu satu-satunya jalan terbaik. Ia memperhatikan matahari yang memantulkan cahayanya di daun-daun yang bergoyang. Kemudian ia menyadari satu keanehan. “Tadi Tara bilang Kapolri yang akan nyerang. Kenapa malah Elang Putih yang datang?”

Bibir AKBP Irlania menipis. Suaranya sedikit goyang karena sedang berlari. “Sepertinya mereka sudah bersatu kembali.”

Sayap tidak mengerti.

“Mungkin mereka menyerang kita setelah Kapolri berhasil bernegosiasi. Kapolri punya pendekatan yang berbeda sesuai dengan siapa yang ia hadapi.” AKBP Irlania berdecak kesal. “Tapi aku nggak akan bernegosiasi dengannya.”

Sayap jadi kebingungan. “Mungkin negosiasi bisa menjadi jalan yang damai?”

“Saya yang paling mengerti Elang Putih. Saya nggak jauh beda dengan mereka. Dulu saya bagian dari mereka. Jadi, saya akan menyelesaikannya dengan cara saya sendiri.” AKBP Irlania melirik Sayap sejenak. “Kalau mau, kamu boleh lari.”

Sayap menggeleng cepat. “Saya nggak mau lari. Apalagi Ecira itu teman saya. Saya bakal hadepin mereka.”

AKBP Irlania tersenyum tipis. “Kamu memang belum punya banyak pengalaman, tapi kamu belajar dari orang yang tepat.”

Sayap mendelik sebentar, lalu tatapannya kembali normal. Ia melirik gelang yang sedari tadi menimbulkan bunyi berisik itu. “Gelangnya nggak ganggu gerakan Komandan?”

AKBP Irlania memelotot galak. “Mau saya pakai atau nggak, terserah saya.”

Sayap berpikir kapan petinggi polisi ini bisa ramah dengannya.

Lihat selengkapnya