Mereka Semua Mati di Umur 55 Tahun

Pretty Angelia
Chapter #24

Bab 24

Ecira bertepuk tangan senang karena Sayap berhasil mematahkan serangannya. Ia malah menyenggol bahu Bang Ian antusias. “Apa gue bilang, Bang. Sayap itu jago membidik ke sesuatu yang bergerak. Membidik ke papan yang diem aja itu bukan keahlian Sayap.”

Bang Ian mendelik penuh amarah ke Sayap. Ia masih belum bisa melupakan Sayap yang berani melukainya dan membawa pergi ayah yang ia benci. “Bocah tengil sok jagoan.” Ia menatap Ecira galak. “Lo jangan apa-apain Sayap. Dia mangsa gue.”

Ecira terkekeh-kekeh. “Kita taruhan aja, Bang. Siapa yang berhasil ngebunuh Sayap harus ditraktir makan dua tahun penuh setiap hari.”

“Makanan terus yang lo pikirin,” Bang Ian mendorong kepala Ecira agar diam.

Sayap keheranan dua orang itu masih bisa bercanda di saat yang genting seperti ini. Tiba-tiba saja ia bersedih karena interaksi mereka memang seakrab itu. Mereka sudah bersama-sama sejak lama. Sayang sekali kini jalan yang mereka pilih berbeda.

Bang Ian menunjuk penuh emosi pada Sayap. “Kalau aja lo nggak bawa tua bangka brengsek itu pergi, lo bakalan bebas. Sekarang jadi begini, kan? Nggak hanya ibu lo yang tewas, lo juga bisa bernasib sama,” ancamnya tanpa tanggung.

Sayap membalas tanpa ada beban. “Manusia nggak ada yang berhak ngambil nyawa manusia lain. Kecuali demi membela dirinya sendiri.” Ia sudah mematrikannya di dalam hati, tidak segan membunuh mereka yang ingin merebut Bunda darinya.

Ecira bertepuk tangan bermaksud menyindir. “Lo nggak akan pernah memahami kami, Sayap!” Ia berdecak kesal. “Gue nyesel udah ngorbanin temen gue buat nyelametin lo karena gue terlalu sayang sama lo, sampai ngebuat Bang Ian juga ngamuk dan ngejauhin gue. Untungnya gue cepet sadar, dan baikan lagi sama Bang Ian.”

Sayap tidak peduli dengan ucapan Ecira. “Kalau kalian diperlakukan buruk sama orang, kalian masih bisa jadi orang baik dengan nggak mengusik mereka yang nggak ada sangkut pautnya sama kalian. Sok-sokan mimpi jadiin orang-orang meledak itu sebagai senjata. Kalian nggak akan berhasil!”

“Hahai, Tante Ika pasti ngasih tahu rencana kami ke lo, ya!” Ecira berteriak kegirangan. “Ini sih bakal jadi pertarungan yang seru banget!”

Salah satu teman Ecira mengarahkan panahnya pada Sayap. “Banyak bacot lo. Sekali gue lepasin anak panah gue, lo nggak akan bisa ngomong kayak gitu lagi.”

AKBP Irlania meminta Sayap mundur. Ia masih ingin mengorek informasi. “Bram, kamu bilang Ginan menyerangmu? Tapi kenapa?”

Pak Raja mengambil kesempatan ini membawa Bunda bersembunyi di balik pohon. Perasaannya jadi tidak keruan. Ia memilih tempat itu karena takut di dalam gedung ada hal lain yang lebih mengejutkan. Jadi, lebih baik mereka berada di luar.

“Oh, Briptu Ginan itu kan mantan Elang Putih. Ah, Anda nggak tahu karena lima tahun lalu, Anda benar-benar nggak berhubungan lagi sama mereka. Kejadiannya sebelum polisi dan Elang Putih kembali bekerja sama. Jadi, wajar dia nyerang saya. Disuruh sama Ecira buat bunuh Sayap.” Bripka Brahma kemudian menambahkan. “Briptu Oman juga teman setia Ian.” Ia menunjuk pada pelatih atlet panahan itu.

Penjelasan singkat Bripka Brahma, AKBP Irlania cerna baik. Ia lalu mengeluarkan geraman. “Apa yang Kapolri janjikan sama bocah-bocah itu?” Ia menunjuk pada kelompok Elang Putih.

Bripka Brahma menyeringai. “Di masa bakti berikutnya, salah satu dari mereka bisa menjadi presiden.”

Presiden berumur muda mungkin adalah sebuah terobosan yang spektakuler. Namun, apa jadinya negara ini dipimpin oleh orang-orang muda yang menghalalkan berbagai cara untuk ambisinya sendiri. Bagi AKBP Irlania hal itu tidak bisa dibiarkan. Mereka tidak tahu apa-apa, dan mudah dihasut. Nantinya mereka akan dihancurkan cepat maupun perlahan, lalu kekacauan di negeri ini akan terus terjadi.

AKBP Irlania pernah merasakannya saat menjadi Elang Putih yang dianggap terkuat. Ia berhasil menjadi pemimpin. Namun, satu hal yang mengganggunya. Keputusan-keputusannya bukan diambil atas dasar keinginannya, tapi ia yang justru dikendalikan. Sampai akhirnya suatu kejadian membuatnya benar-benar minggat dari Elang Putih.

“Sudahlah menyerah saja, Komandan. Anda sudah kalah. Polisi akan tetap berjaya. Jangan coba-coba mengubah aturan pembunuhan orang berumur lima puluh lima tahun itu. Semuanya sudah ditetapkan demi menjaga rakyat. Kalau rakyat tahu, Anda juga akan habis.”

“Rakyat terus yang kamu bilang. Bikin muak,” AKBP Irlania menggenggam kuat samurainya.

Bripka Brahma kemudian menginjak-injakkan kaki kiri ke tanah. “Kapolri meminta Anda minta maaf sambil berlutut.”

AKBP Irlania mendengus marah. Matanya pun menajam. “Bajingan. Jangan harap saya bertekuk lutut sama kalian.” Kata menyerah selama ini tidak pernah ada dalam kamusnya.

“Komandan, maafkan saya, saya benar-benar nggak tahu lagi harus berbuat apa.” Briptu Fatima sembari menahan tangis berjalan menuju Bripka Brahma bersama polisi tersisa. Mereka mengarahkan pistol pada AKBP Irlania.

Sayap terhenyak melihat polisi itu pindah haluan. Ia kesal setengah mati karena di sini tidak ada lagi polisi yang berpihak pada AKBP Irlania. Apa jadinya seorang pemimpin tanpa anak buah yang mendukungnya?

Bripka Brahma terbahak-bahak. Puas karena berhasil memengaruhi yang lain. “Tunggu apa lagi, Komandan. Saya masih baik menawarkan hal ini karena permintaan dari Kapolri. Kapolri masih mengagumi dan kasihan sama Anda. Kapolri siap memaafkan Anda karena Anda adalah aset terbaik negeri ini.”

Sayap melirik AKBP Irlania sejenak. Ia tidak tahu apa yang pernah polisi itu lalui. Melihat prinsipnya yang ingin memberikan yang terbaik pada rakyat, ia yakin keberadaan polisi seperti AKBP Irlania adalah sebuah harapan di antara seribu keputusasaan. “Komandan, saya memang bukan polisi, tapi saya akan selalu berada di samping Anda.”

AKBP Irlania melirik Sayap seraya tersenyum tipis. Harus ia akui kehadiran Sayap sedikit membuatnya senang. Matanya melirik tajam Bripka Brahma. “Kalau di atas sudah rusak, yang di bawah apalagi. Nggak ada yang bisa diperbaiki kalau tetap di bawah. Pilihannya hanya maju dan keluar dari sarang,” ujar AKBP Irlania pelan.

Lihat selengkapnya