Ecira tidak menyangka Bang Ian secepat ini kehilangan nyawa. Ia sudah berusaha keras menumbangkan Sayap, tapi ternyata cowok itu pantang menyerah. Amarahnya pun melambung. Ia langsung berlari sembari memekik kencang. Mendorong Sayap sampai tersungkur, dan menindihnya. Siap menusuk Sayap dengan anak panah di tangan.
Sayap ingin mengambil panah di punggung, tapi seketika membatu saat merasakan air mata Ecira jatuh di pipi.
“Lo sudah ngacauin semuanya. Gue mempersiapkan ini bertahun-tahun biar bisa lepas dari Mama dan ngebuat perubahan untuk kita semua! Setelah kesempatan emas ini ada, malah lo yang jadi pengacaunya!”
Emosi Sayap ikut tersulut. “Kenapa harus sampai begini? Lo tinggal kabur dari rumah!”
“Lo nggak tahu apa-apa! Udah gue jelasin berkali-kali juga lo tetap nggak ngerti!”
Sayap memberikan opsi lain. “Harusnya lo ngadu ke Komisi Perlindungan Anak! Laporin ke polisi juga bisa!”
“Memangnya masalah bakal selesai? Nggak! Tiba di kantor polisi mereka bakal selesain masalah secara kekeluargaan. Polisi cuma mau ngurus pembunuhan, narkoba, dan tindakan kriminal kelas atas lainnya. Mama dan Papa nggak akan pernah berubah, tetap anggap gue sebagai anak ingusan yang harus nurut orang tua. Terus gue dikatain lebay sama orang-orang. Lo nggak ngerti sakitnya kayak apa!” Ecira semakin mendekatkan ujung panahnya pada Sayap, tapi Sayap menahannya sekuat tenaga.
“Lo lihat berapa banyak anak-anak yang dibunuh sama orang tuanya sendiri? Berapa banyak anak kerja dan dijadikan mesin pencetak uang sama orang tuanya? Gaya yang lo bunuh korban kekerasan juga. Ayahnya selingkuh, ibunya pun depresi sampai sakit jiwa. Gara-gara ayah yang nggak bertanggung jawab, hidup Gaya jadi hancur! Negara ini nggak pernah ngelindungin anak-anak. Kita dianggap sebagai makhluk nggak berguna yang harus nanggung kesalahan-kesalahan orang dewasa!”
Sayap membatu. Ia terus menatap wajah pedih Ecira. Bingung harus membalas apa. Ia ingin memaklumi apa yang Ecira lakukan. Namun, ia punya pendapat sendiri. Ecira yang ia kenal dan yang mengenakan seragam Elang Putih menurutnya sama saja. Ecira diberikan pendidikan dan segala kemudahan oleh orang tuanya, tapi dia malah kehilangan kebahagiaan dan kebebasan. Ketika menjadi Elang Putih, Ecira dilatih menjadi pasukan mematikan yang tidak ragu menghabisi musuhnya. Dua-duanya tetap menghasilkan Ecira si pembenci dan pemberontak.
“Jadi, biarin gue ngatur negara ini biar anak-anak yang teraniaya kayak gue bisa dapetin haknya,” suara Ecira mengecil. “Dan biarin gue manfaatin orang-orang yang mau meledak itu untuk lenyapin para pengganggu.” Senyuman kecil terukir di bibirnya.
Sayap berpikir lebih jauh. Keberadaannya di dunia ini juga bukan karena kemauannya. Ia terpaksa menerima semuanya. Melihat Bunda mendapat siksaan Tara. Menerima segala nyinyiran dari orang sekitar karena Bunda orang tua tunggal. Mereka juga nyaris berpisah karena aturan pemisahan itu. Lalu, Bunda ternyata berbohong padanya. Hal itu sempat membuat dunianya terguncang.
Wajar kan jika Sayap keheranan kenapa ia tidak menjadi seperti Ecira? Di klub panahan tidak ada seorang pun yang menyuruhnya bergabung menjadi Elang Putih. Ia juga keheranan.
Lalu, Sayap menyadari bahwa manusia terbaik adalah dia yang diperlakukan penuh cinta oleh manusia terdekatnya. Satu orang saja pasti akan mampu menyembuhkan luka. Itulah yang Bunda lakukan padanya. Kembali di waktu yang tepat, lalu menyiraminya dengan cinta tanpa kenal waktu. Itulah yang membedakannya dengan Ecira.
Sayap mengerjap sesaat. Akhir-akhir ini ia memikirkannya. Tidak ada salahnya juga mengutarakan walau terlambat. Ia tertawa kecil. “Dulu ada perempuan hebat yang selalu ada di sisi gue, ngajarin banyak hal, termasuk ngajarin gue memanah. Gue selalu kagum sama dia, sampai sekarang pun begitu.”
Tatapan Ecira melunak. Suara Sayap yang awalnya bagaikan bom waktu, tiba-tiba menjadi syair merdu.
“Dia cantik, dan belum pernah gue liat perempuan secantik dia di dunia ini.”
Jantung Ecira tiba-tiba saja berdegup kencang. Mungkinkah dirinya yang Sayap ceritakan ini?
“Dia tegas, orang-orang takut sama dia. Termasuk gue. Gue sering perhatiin dia dari jauh. Kenapa orang-orang takut? Kenapa dia ke mana-mana berani sendirian? Terus kenapa dia angkat gue sebagai muridnya? Gue bisa bela diri itu karena didikannya.”
Wajah Ecira kembali mengeras. Itu bukan dirinya.
“Tapi ternyata dia nggak nakutin kok. Gue kasih dia coklat, gue kasih dia gantungan kunci lonceng, gue kasih dia makanan yang dimasak sama Bunda, dia terima-terima aja. Kita juga pernah makan bakso bareng,” Sayap tertawa kecil mengingat-ingat kembali kenangan dengan orang itu.