AKBP Irlania melihat kalung itu sampai tak berkedip. “Itu punya Presiden Suroso. Dari mana kamu mendapatkannya?”
“Dari Presiden Suroso langsung.” Sayap membuka bandul kalung itu yang ternyata sebuah flashdisk. Ia menyimpannya di tempat yang aman sejak lama, lalu mengeluarkannya di waktu yang tepat. Jadi, ia rasa sekarang tidak ada alasan menyimpan rahasia itu. “Saya ingin unduh video yang ada di sini. Komandan boleh nonton dulu.”
AKBP Irlania mengambil kalung tersebut. Ia memasangnya di ponsel Dokter Ika yang sudah menyiapkan kabel sambungan flashdisk. Isinya hanya ada satu video. Ketika video berputar, ia menontonnya dengan mata yang berkaca-kaca. Ternyata sebelum meninggal Presiden Suroso memiliki pesan terakhir, yang mungkin membuatnya tewas. “Jadi, Presiden….” Ia tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.
Sayap mengangguk. “Saya nemuin Presiden dalam keadaan terluka di antara Paspampres yang udah tewas. Saya pikir pelakunya udah pergi.” Bayangan Presiden Suroso yang nyaris meregang nyawa masih terekam jelas di mata Sayap. Ketika itu, niatnya hanya ingin mengambil dompet.
Sembari terduduk lemas, Presiden Suroso memanggil Sayap. “T-tolong.” Tangannya yang menggenggam kalung terulur.
Sayap yang ketakutan menghampiri Presiden Suroso tertatih-tatih. Jantungnya berdetak kencang melihat mayat-mayat Paspampres yang mengelilingi presiden. Ia sempat menyentuh tangan presiden. Jadi, itu sebabnya sidik jarinya ditemukan di sana. “Sa-saya hubungi rumah sakit—”
“Jangan. Ka-kamu harus segera pergi. Di sini berbahaya. Mereka sudah pergi, tapi nggak menutup kemungkinan akan kembali. To-tolong ambil ini.”
Sayap kebingungan siapa yang disebut Presiden Suroso sebagai mereka. Ia terpaksa mengambil kalung itu dengan tangan gemetaran. “A-apa ini?”
“T-tolong sebarkan ke internet. Maaf saya hanya bisa melakukan ini. Tuhan a-akan menjaga negeri ini dengan ca-caranya sendiri.”
“H-hah?” Sayap tidak memahami apa yang Presiden Suroso katakan.
“P-pergi!”
Dengan berat hati Sayap pergi, tapi dompetnya terlupakan. Dari tembok ia melihat jelas seorang polisi yang menembakkan timah panas pada Presiden Suroso hingga menewaskannya.
Sayap sempat menonton videonya ketika mereka menginap di rumah teman Pak Raja. Dari sana segala informasi ia dapatkan dan sembunyikan. “Saya sebenarnya sudah tahu apa yang terjadi, tapi saya diam aja karena bingung siapa yang saya harus percaya. Yang saya pikirin hanya ingin mencari tempat yang aman bersama Bunda, tapi polisi dan Elang Putih muncul ngebuat kesempatan nyebarin video itu nggak ada.”
Bunda mengusap wajah Sayap. Kekhawatiran masih terlihat di ekspresinya.
“Dengan ini bisa jadi bukti kalau saya nggak bunuh presiden, kan?” Sayap terkekeh perlahan.
“Yah, tenang aja. Aku bisa jadi saksinya,” ungkap AKBP Irlania tersenyum tipis.
Dokter Ika memastikannya sekali lagi pada AKBP Irlania. “Bakalan ada kemarahan besar di seluruh wilayah. Mungkin akan ada bentrokan juga. Kamu siap hadepin ini? Kamu bakal balik ke barisan terdepan buat meredam mereka. Bahkan mungkin kamu bisa ngelakuin kekerasan.”
AKBP Irlania menarik napas panjang. “Sebarkan saja. Biarkan publik yang menilai.” Ia sudah tidak memikirkan kerusuhan lagi. Yang penting negara harus jujur pada masyarakatnya. Terlebih itu adalah kemauan presiden.
Dokter Ika mencari keyakinan di mata AKBP Irlania. Ia kemudian membuka salah satu akun media sosialnya. “Aku sebagai ilmuwan juga punya tanggung jawab besar karena Pak Presiden mau nyebarin hal yang aku temukan. Semoga ini cara terbaik dari yang terburuk.” Ia pun mengunduh video itu di akun media sosialnya. “Sebaiknya kita pergi.”
Hal itu pun disetujui oleh AKBP Irlania. Mereka juga harus segera membawa Sayap ke rumah sakit. Sekali lagi ia memperhatikan mayat-mayat yang bergelimpangan itu. Ia akan kembali lagi ke sini untuk menguburkan mereka nanti ketika hujan sudah mereda.