Mereka Semua Mati di Umur 55 Tahun

Pretty Angelia
Chapter #27

Bab 27

AKBP Irlania terbangun dengan kepala luar biasa pening. Ia menyingkirkan bingkai foto besar dan pajangan burung garuda raksasa yang menimpanya. Punggungnya nyeri. Debu bersarang hampir di sekujur tubuhnya. Panas. Api sudah melalap sebagian ruangan itu. “A-aku masih hidup?” ujarnya keheranan. Ia terkejut melihat ada banyak helai bulu burung berwarna merah. “Dari mana ini?”

Namun, ada hal lain yang mengalihkan fokusnya secara cepat. AKBP Irlania membelalak saat melihat tubuh Pak Rasyid yang terbakar. Ia hendak mendekatinya, tapi lemari kayu setinggi menimpa jasad Pak Rasyid.

AKBP Irlania paham harus segera keluar. Bagian jendela masih aman. Dengan tenaga tersisa, ia mengambil kursi lalu melemparkannya ke jendela hingga seluruh kacanya hancur berkeping-keping. Ia pun keluar ruangan itu dengan susah-payah. Yang tidak ia ketahui, sosok Phoenix Merah yang ada di lukisan Laksamana Malahayati telah hilang secara misterius.

Tubuh Irlania nyeri di mana-mana, tapi ia berusaha bertahan karena akan berbahaya di sini berlama-lama. Ia tidak tahu siapa yang melemparkan granat. Ia bahkan tidak paham ekspresi apa yang harus ia pasang mengingat tubuh Pak Rasyid yang habis dilalap api.

AKBP Irlania memperhatikan jalan protokol yang dipenuhi asap di sana-sini. Bentrokan antara warga dan aparat keamanan masih terjadi. Teriakan kemarahan dan kepedihan menyatu di udara. Lalu, bunyi granat yang nyaring memekakkan telinga. Ia jadi berkesimpulan mungkin tadi itu granat nyasar. “Kapolri dibunuh oleh mereka.” Ia kemudian terbatuk-batuk menghirup gas air mata yang disemprotkan polisi.

Awalnya AKBP Irlania ingin pergi dan meninggalkan kerusuhan yang tampak tidak terbendung itu, tapi melihat kekacauan yang terjadi ia merasa harus berbuat sesuatu. Tenaganya masih ada. Hanya saja apa yang harus ia lakukan? Seragamnya bentuknya sudah tidak keruan karena pertempuran tadi.

“Kembalikan keluarga kami!”

“Pemerintah pembohong besar!”

“Bakar semuanya!”

Hati AKBP Irlania semakin pilu. Teriakan kemarahan muncul dari seluruh sudut jalan. Ia merasa keputusan mengumumkan video terakhir dari Presiden Suroso adalah pilihan yang tepat. Kalau dibiarkan terus, satu kebohongan bisa menimbulkan kebohongan lain. Namun, konsekuensinya ternyata secepat dan sepilu ini.

“Nia! Ternyata kamu di sini!”

AKBP Irlania tampak kebingungan melihat sosok yang tiba-tiba menghampirinya. Mungkin karena tadi kepalanya terbentur agak keras.

Dokter Ika keheranan melihat AKBP Irlania yang linglung. Apa polisi itu lupa ia yang mengantarnya kemari? Ia pun paham polisi itu membutuhkan pertolongan. “Kita ke rumah sakit!”

.

.

Dokter Ika melajukan mobilnya ke jalan kecil yang tidak dilalui para demonstran. Meski belum pasti, ia berdoa semoga demonstran tidak muncul di sini. Ia melirik AKBP Irlania yang masih terdiam. Tangannya menggoyangkan bahu petinggi polisi itu agar kesadarannya kembali. “Nia, kamu yang ngebom ruangan Kapolri?”

AKBP Irlania mengerjap. Kesadarannya agak kembali, walaupun belum sepenuhnya. Gaya bahasanya pun berubah jadi informal karena merasa sudah cukup dekat dengan Dokter Ika. “Bukan. Granatnya dilempar dari luar.”

Dokter Ika mengeluarkan decakan. “Nggak ada yang lihat kamu masuk ke ruangan Kapolri, kan? Kamu bisa bernasib sama seperti Sayap yang dituduh bunuh presiden.”

AKBP Irlania tidak terlalu memusingkan hal itu. “Presiden yang baru dan petinggi polisi pasti akan lebih milih meredakan suasana yang kacau daripada nyari pembunuh Kapolri.” Ia kemudian teringat kalimat terakhir yang Kapolri katakan, lalu berusaha menepisnya jauh-jauh.

“Peristiwa ini akan masuk berita sampai ke mancanegara. Para investor pun bawa uangnya pergi. Siap-siap aja resesi.”

AKBP Irlania tersenyum getir. “Kamu dokter, tapi masih mikirin ekonomi negara ini.”

“Kalau negara nggak ada uang, mereka nggak akan sudi bayar penelitianku,” Dokter Ika menarik napas panjang. “Ah, ada uang pun pemerintah akan lebih milih penelitan yang sesuai kepentingan mereka.” Dokter Ika mulai leluasa mengeluarkan kalimat-kalimat lebih panjang karena AKBP Irlania lancar menanggapinya. “Mungkin aku sedikit jahat, aku malah senang melihat demonstran memenuhi jalan. Itu artinya mereka peduli dengan keadaan negeri ini.”

Lihat selengkapnya