Mereka Semua Mati di Umur 55 Tahun

Pretty Angelia
Chapter #28

Bab 28

Sayap menghentikan mobilnya di sebuah pantai sepi di utara Jakarta. Kaki dan lengannya sebenarnya masih sangat sakit, tapi dengan sisa kekuatannya, ia nekat membawa Bunda ke tempat ini. Sudah tanggal sepuluh Juni pukul satu siang dan kapan saja Bunda bisa menjadi bom manusia. Sampai sekarang tanda-tanda itu belum ada, dan ia sedang menunggu.

Sayap dan Bunda yang keluar dari mobil, lalu saling berhadapan. Ini mungkin menjadi pertemuan terakhir mereka. Jadi, sekarang waktu yang tepat mengungkapkan segala rahasia dan maaf yang belum sempat terucap.

Bunda menarik napas panjang karena dari lubuk hatinya yang terdalam, ia masih begitu berat meninggalkan Sayap. “Awalnya Bunda nggak rela pisah sama kamu, tapi setelah dipikirin lebih jauh, orang-orang yang sudah tiada sebelum peristiwa ledakan ini mungkin nggak seberuntung Bunda.”

“Maksudnya, Bun?”

“Bunda tahu kapan Bunda akan pergi, jadi Bunda bisa berada di sisimu terus.”

Dahi Sayap mengerut. Ia buru-buru menggenggam tangan Bunda dan memijatnya lembut.

“Maafin Bunda sudah membohongimu. Bunda takut Bunda lebih terluka. Bunda juga takut kamu akan membenci Bunda selamanya.”

Sayap menggeleng kuat. “Aku nggak pikirin. Benar kata Pak Raja, yang penting Bunda tetap kembali. Semua pengorbanan yang Bunda lakukan sedari kecil, waktu yang kita habisin bersama, benar-benar terekam jelas di memoriku. Jadi, hanya kebaikan Bunda yang akan aku ingat terus.”

Bunda menghapus air mata yang melintas di pipi putranya. Sementara air matanya sendiri ia biarkan tumpah. “Awalnya sebelum perpisahan ini Bunda ingin menyampaikan bahwa kamu ini anak kandung Bunda dan fakta lainnya, tapi malah keduluan Tara.” Ia menarik napas panjang. “Ada hal lain yang Bunda belum sampaikan ke kamu.”

Sayap mematung sesaat. Seulas senyum muncul di bibirnya. “Tentang Presiden Suroso itu ayahku?”

Bunda tersentak. Ia pikir sudah menyembunyikan rahasianya dengan baik. “Kamu tahu?”

Sayap mengangguk, lalu mengulangi kejadian mengerikan di Jalan Blora itu. Jantungnya nyaris copot karena membawa amanah dari Presiden Suroso yang meregang nyawa. Ditambah dengan kalimat Presiden Suroso yang membingungkan. “Kamu memang mirip denganku, Anakku. Marsa sudah merawatmu dengan baik. ”

Sayap menjelaskannya secara terperinci. “Waktu itu aku belum tahu Bunda ibu kandungku, belum lagi masalah lain yang terus berdatangan. Aku benar-benar bingung. Jadi, aku mutusin nggak cerita sama siapa-siapa.”

Bunda masih dilanda heran. “Lalu, kamu tahu siapa yang membunuhnya?”

Pikiran Sayap kembali ke masa itu.

Setelah mendapatkan flashdisk dari Presiden Suroso, Sayap mengambil dompet, dan melompat ke atas tembok. Namun, teriakan seseorang membuatnya terkejut, ia pun tidak sengaja menjatuhkan dompetnya kembali. “Si-sialan.” Ia segera menyembunyikan tubuhnya di balik tembok, tapi kepalanya menyembul sedikit untuk diam-diam memperhatikan yang terjadi.

Lalu muncul seorang polisi dengan topinya. “Ah, Presiden ternyata benar ada di sini. Teman-temanku memang baik menyisakan Papa untukku. Mereka memang hebat sampai berhasil bawa Papa ke sini. Teman-temanku kasih kesempatan terakhir aku berdua dengan Papa sebagai kenangan istimewa Papa yang hari ini ulang tahun. Lokasi ini dekat kan sama rumah perempuan keparat itu.” Yang ia maksud adalah ibunya Sayap. Ia menyeringai kejam.

Sayap tidak langsung lari. Ia sedang memikirkan apa yang harus dilakukannya.

Suara Presiden Suroso tertahan di tenggorokan. Darahnya sudah banyak yang keluar. Ia semakin lemah. “Kalau memang itu maumu, bunuh saja Papa,” ujarnya dengan napas tersengal.

“Ya, emang mau. Dengan begini, Mama nggak akan pernah sakit hati lagi.”

Jantung Sayap berpacu kencang ketika melihat polisi itu mengarahkan pistolnya ke Presiden Suroso. Ia sedang berpikir apakah ia harus menyelamatkan Presiden Suroso atau kabur. Andai saja ia membawa panah, ia bisa saja menumbangkan polisi itu.

“Pak Presiden, maaf kita nggak akan bisa bertemu lagi. Selamat ulang tahun yang ke lima puluh lima, Papa.”

Suara tembakan pun terdengar. Sayap langsung pergi tanpa sekalipun melihat ke belakang. Ia harus membawa Bunda lari.

Lihat selengkapnya