Malam itu AKBP Irlania selesai berpatroli di lokasi karantina Kebun Surga di daerah Banten. Ia kembali ke tempat peristirahatannya berupa rumah pohon. Sengaja memilih tempat itu agar mudah memantau dari tempat yang tinggi. Rumahnya dikelilingi pepohonan dan suara makhluk hutan lain yang semakin berisik ketika malam menjelang, tapi ia tidak merasa terganggu. Ia malah menganggapnya sebagai teman.
Lalu, AKBP Irlania menengok ke ponsel lamanya yang berbunyi. Ia masih menggunakannya, tapi dalam dua bulan ini tidak ada yang menghubungi. Orang-orang yang punya keperluan dengannya seperti Dokter Ika dan yang lain lebih memilih menghubunginya lewat ponsel baru.
Ketika melihat nomornya yang asing, AKBP Irlania masih terdiam. Sepertinya sosok dari masa lalu. Namun, ia bukanlah orang yang lari dari ketakutan. Ia menerima panggilan itu, dan mengeluarkan suara beratnya. “Halo?”
“Komandan?”
Ekspresi AKBP Irlania melembut. Ia tentu mengenal suara itu. “Sayap? Ke mana saja kamu?”
“Saya ada di pikiran Komandan.”
AKBP Irlania cukup lega Sayap berguyon. Itu berarti yang meneleponnya adalah benar-benar pemuda yang dua bulan lalu menghilang. “Gimana kabarmu? Saya turut prihatin soal ibumu.” Ia rasa kata-kata itu penting disampaikan di percakapan pertama begini.
“Bunda baik-baik aja.”
Irlania mematung. Mengira telah salah dengar. “Hah?”
“Bunda nggak meledak. Bunda sehat-sehat aja. Sekarang kami tinggal di Bogor. Dua bulan lalu memang sempat saya bawa ke pantai, tapi sehari setelahnya Bunda kembali.”
AKBP Irlania mulai gelisah. Ia ingin tahu lebih banyak. “I-ini adalah keajaiban. Orang-orang yang masuk ke Kebun Surga di Banten nggak ada satu pun yang kembali.”
“Mungkin Bunda kasus langka. Dan mungkin ada orang lain juga yang bisa bernasib sama dengan Bunda.”
“Kenapa kamu nggak segera mengabari saya?”
“Saya dan Bunda ingin tenang dulu.”
AKBP Irlania pun memakluminya. “Saya harus memberitahu Ika—”
“Komandan, saya bersedia bawa Bunda ke Dokter Ika, tapi Komandan harus ngabulin permintaan saya.”
AKBP Irlania tersenyum tipis. “Apa yang kamu inginkan?”
“Tolong rahasiain identitas Bunda sebagai kasus langka. Saya nggak mau ada yang manfaatin Bunda.”
AKBP Irlania mengangguk. “Saya bisa jamin.”
“Ah ya, Komandan. Saya belum sempat bilang terima kasih buat selimutnya. Saya jadi bisa tidur nyenyak.”
AKBP Irlania tercenung. Ia sengaja diam karena tidak menyangka Sayap mengetahuinya.
“Kita sudah lama banget nggak ngobrol banyak. Komandan mau makan bakso sama saya?”
AKBP Irlania memutar matanya sembari menahan senyum. “Boleh aja, tapi saya ada di ujung Banten. Itu pun kalau kamu mau kemari.” Ia dapat mendengar tawa kecil Sayap.
“Sampai ke ujung dunia pun Komandan akan saya samperin. Sampai jumpa Komandan.”
AKBP Irlania tidak bisa berhenti tersenyum. Ia kemudian mengulang waktu lalu, ketika pertama kalinya berkenalan dengan Sayap.
“Kenapa saya harus melatih anak itu, Pak?” AKP Irlania bertanya sopan pada pria itu.
“Dia anak saya dari wanita lain. Bisa jadi nanti dia diincar Gaya yang bergabung dengan Elang Putih.”
AKP Irlania tertegun sesaat. Ternyata menjadi anak pejabat pun tetap memiliki banyak rintangan.
“Saya nggak bisa berdekatan dengannya. Nanti akan lebih banyak yang menyerangnya. Jadi, dia harus mampu pertahanin diri ketika Gaya mengincarnya.”
“Tapi Bapak tahu saya Elang Putih.”
Pak Suroso tersenyum simpul. “Kamu adalah Irlania, mantan ajudan yang paling saya percaya. Saya yakin kamu bisa melatih anak saya dengan baik. Saya tentu akan bayar kamu dengan layak.”
AKP Irlania tidak mengerti perasaan asing itu. Namun, siapa sangka kepercayaan yang diberikan kepadanya mengubah hidupnya ke arah yang mengejutkan. Ia lalu mencoba mendekati Sayap yang berumur sepuluh tahun tanpa menimbulkan kecurigaan. Memperkenalkan diri secara wajar, dan menawarkan hal yang mungkin akan Sayap sukai. “Kamu Sayap Taura Arkasha, kan? Kamu katanya calon atlet panahan ya? Kamu mau jago manah kayak Hawkeye dari Marvel?”
Sayap langsung mengangguk. “Saya pengin melindungi Bunda biar nggak dipukul Om Tara lagi.”