Sayap berjalan di keramaian dengan kewaspadaan penuh. Ia harus segera kembali ke rumah, tapi kebutuhan harian dirinya dan Bunda tidak boleh terabaikan. Sendirian karena Bogor masih terasa ‘panas’ dua bulan setelah dirinya bertarung mengalahkan Elang Putih. Bunda harus tetap berada di lokasi yang aman.
Sayap hanya ingin kembali ke tempat persembunyian mereka secepatnya.
Sayangnya, Sayap kurang memperhatikan jalan di depan, dan…
BRUK!
“Aduh!”
“Astaga!” Sayap yang panik menarik tangan cewek mungil berjilbab biru yang tak kalah terkejut dengannya. “Eh, sori!” Ia beradu pandang dengan cewek itu. Tingginya mungkin hanya 150 centimeter, badannya kecil, ekspresinya polos, dan yang membuatnya ajaib, bola mata berwarna biru itu sedikit mengguncang hatinya. Ada darah Eropa, ya? Tapi kok kayak orang Tionghoa?
Cewek bertubuh mungil itu menatap Sayap dengan pandangan tidak menentu selama beberapa saat. Ia memperhatikan sekitarnya, orang-orang terlalu sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Kok aku nggak bisa lihat masa lalu dan nggak tahu namanya? Baru kali ini kayak begitu. Maka dari itu, ia melakukan hal yang mungkin agak gila. Ia tersenyum lebar, niatnya menunjukkan keramahan. “Makasih udah nabrak dan nolongin aku. Herannya aku nggak tahu nama kamu. Setan aja bisa aku tahu namanya. Kamu aneh deh. Kenalan, yuk. Aku Jannah.”
Sayap melongo di tempat. Bukannya dia yang aneh, hah? Makhluk apa yang ada di depannya ini? Ia memang dikelilingi perempuan abnormal macam AKBP Irlania dan Ecira, tapi cewek ini lebih gila dua kuadrat dari mereka. “Wajar kali lo nggak tahu nama gue. Kita baru ketemu.” Ia berusaha galak, tapi ketika melihat ekspresi Jannah yang polos lagi imut dengan warna mata yang indah, hatinya oleng sedikit. Dalam hati ia terpaksa mengakui, ini cewek cantik banget. Eh, gue udah cinta mati sama Komandan, ya!
Bagaimana caranya kabur? Namun, Sayap penasaran di hadapannya ini dedemit atau manusia. Langsung saja ia memanggil dua orang remaja SMP yang lewat. “Hai, kalian bisa lihat cewek kerudung dan bermata biru ini?”
Kedua remaja SMP itu terdiam sejenak sambil memperhatikan Jannah. “Liat, Kak. Tapi matanya nggak biru, hitam kayak kita-kita. Kerudungnya aja yang biru.” Mereka berlalu sambil menatap aneh Sayap. Seolah menganggap dirinya gila.
Sayap mengerjap sambil memperhatikan Jannah yang tersenyum puas dengan tangan dilipat di dada. Tangannya mengepal. Ia sedang dalam persembunyian, curiga untuk jaga-jaga adalah pilihan yang tepat. “Lo bukan Elang Putih, kan?”
“Elang Putih? Hewan peliharaan macam itu?” Jannah tertawa renyah. “Jangan ngajak aku bertarung. Aku cuma mau tahu kamu siapa. Kamu nggak nyadar kamu bukan orang biasa?”
Sayap terhenyak karena Jannah seperti mampu membaca niat tersembunyinya.
Jannah tanpa ragu menunjuk ke bagian bahu kanan Sayap bagian atas. “Kamu habis terluka di sini, kan? Kemungkinan terkena pedang atau anak panah. Banyak juga luka di area lain. Tapi kamu bisa sembuh dengan cepat dibandingkan orang biasa.”
Mata Sayap mengerjap. Padahal ia menggunakan pakaian yang tertutup semua, kecuali di telapak tangan dan wajah.
Jannah berkacak pinggang karena tahu asumsinya benar. “Badanmu panas, kayak bawaan Rohini yang suka ngikutin Krittika. Kayaknya ada api suci di dalam dirimu. Oh ya nama lain Krittika, kamu tahu boygroup Korea namanya Seventeen? Nah, itu Pledis, Pleiades, atau Al Thurayya!”