Merindunya Rindu~Novel~

Herman Siem
Chapter #3

Malaikat Pencabut Nyawa

Tersenyum sedih terasa menyayat relung hati sukmanya hancur berkeping-keping sulit untuk menyatu, dua matanya hanya terfokus pada ujung runcing sikat gigi terasa memanggil Rindu, kapan ujungs ikat gigi itu menggores urat nadinya atau mendarat hangat bercampur darah dalam dadanya.

"Gua ngak yakin, kalau Allah itu Maha Segalanya yang sebegitu sayang merindukan hambanya terus terisak tangis dalam lirih yang tak berujung. Gua, merasa sekarang ini Allah udah ngak adil dengan apa yang gua alami. Kasih sayang yang terpuruk jatuh dalam kubangan kesibukan Ayah dan Ibu, gua. Gua ngak yakin, kalau kasih sayang Allah juga merindukan gua?" guman sedih Rindu dua matanya hanya tersenyum melirik kearah pintu kamar mandi tertutup rapat.

Ujung runcing sikat gigi terasa yakin akan tersemat menghujam menggores urat pergelangan nadi tangan kirinya Rindu, pelan-pelan tangan kanannya menggurat ujung runcing sikat gigi. Terasa sakit, keluar darah segar dari balik kulit ari perggelangan tangan hanya tersenyum raut wajahnya, terasa semakin dekat adzal datang menjemput Rindu.

Tetesan darah mulai mengalir terasa bebas tidak lagi bertugas dalam tubuh, semakin yakin terasa dua matanya juga mulai kabur. Terasa malaikat pencabut nyawa makin dekat menghampiri Rindu makin tergores ujung runcing sikat gigi dan semakin menyayat lebar kulit ari perggelangan nadinya. Sikat gigi hanya di biarkan tergeletak bercampur darah diatas lantai kamar mandi.

"Rindu ... Rindu ..." teriak panggil Nani dari luar.

"Tok ... Tok ..." ketukan pintu terdengar dari luar, hanya lirikan tersenyum Rindu sontak terkulai lemas terjatuh dilantai bersimbah darah segar.

"Sudah siang, Rindu!" pastikan lagi Nani memanggil tapi tidak ada jawaban.

"Mungkin sekarang ini gua yakin. Jika Ayah dan Ibu gua pasti akan merindukan gua. Ya, mungkin karena gua sudah benar-benar jauh dari mereka," tersenyum raut wajahnya Rindu semakin pucat wajahnya sembari melirik serpihan darah mengalir diajak bermain dengan air kecil diatas lantai kamar mandi basah.

"Ayah ... Ayah sini cepat ..." panggil Nani mulai panik.

"Rindu? Rindu kenapa tidak mau keluar dari dalam kamar mandi?!" panik Nani dua tangannya berusaha mendorong pintu kamar mandi.

"Rindu? Rindu buka pintu?!" panggil Rahman ikut panik sekarang.

"Brug ... Brug ..." telapak tangan kanan Raham berapa kali mengetuk pintu tetap tidak ada sahutan dari dalam kamar mandi.

Lihat selengkapnya