Merindunya Rindu~Novel~

Herman Siem
Chapter #4

Berharap Rindu

Mobil silih berganti keluar masuk dari dalam halaman parkiran Sekolah SMA Garuda Bangsa, pastinya murid baru saja selesai mengambil raport di antarkan dua orang tuanya.

Guratan senyuman terus terlempar dari murid tampak terlihat dari dalam mobil ketika kaca bagian sisi kanannya terbuka.

Pelataran halaman parkir masih terasa basah sedikit ada genangan air, walau hujan masih menurunkan rintiknya dari langit.

Lukisan indah langit sendu masih berbalut serpihan awan hitam sisa pembiasan rintik hujan. Masih memayungi langit kepunyaan pemilik semesta masih terasa belum bergantikan dengan cerah penuh sumringah senyuman langitnya.

Masih banyak serpihan gumpalan awan hitam menghalangi laju sinar cahaya matahari yang masih harus bersabar dengan kapan dan tidak tahunya rintik hujan akan berhenti.

"Car, loe belum pulang?" tanya Sonya sambil menundukan wajahnya pada Ayah dan Ibunya Oscar yang berjalan pulang duluan setelah mengambil raport miliknya Oscar.

Hanya diam tidak menjawab, kelihatan cemas dari pemilik wajah tampan dengan kumis kecil memayungi bibir tipisnya Oscar. Seragam putihnya tidak terlihat rapi, tidak di masukan kedalam celana panjang abu-abunya.

Hanya ada gelisah bercampur cemas dari relung hati terdalam, tersirat benar pada pada raut wajah Oscar hanya terdiam tidak menjawab pertanyaan Sonya sedikit jengkel juga.

"Palingan Oscar lagi nungguin, Rindu!" celetuk Caty berdiri disamping Sonya sinis wajahnya.

"Huhhh! Nih Bokap Nyokap gua kenapa belum datang juga dari tadi?!" gerutu kesal bangat Arni perhatikan Lukman, welas 12 A sedang menjelaskan raport pada dua orang tua salah satu murid.

Selengean wajahnya, bertubuh kurus berjaket biru tua dengan rambut klimis tapi wajahnya tidak kalah tampannya, Sambudi masuk kedalam kelas.

"Udeh deh, Son! Loe ngapain juga ngarep sama orang yang ngak terus-terusan ngegantung loe?! Tuh loe sama Sambudi aja!" celetuk Caty menyenggol pantat Sonya terbalut rok abu-abu.

"Iya nih? Gua juga sama kayak digantung sama Bokap Nyokap gua. Mereka jadi datang apa ngak?!" sahut Arni tapi rada menggerutu.

"Itu Bokap dan Nyokap loe, Arni yang ngegantung janjinya? Jadi ngak datang buat ngambil raport loe! Itu urusan loe! Ini masalah urusan hati perasaan Sonya yang berharap bangat sama Oscar! Tapi Oscar cuman ngegantung doang!" sambil dekati Sambudi, Caty mengedipkan mata kirinya memberikan kode pada Sonya cuman diam.

Sambudi cuman terduduk diatas meja, sambil perhatikan lelukan tubuh seksinya Sonya berdiri membelakangi dirinya.

"Benar Sonya, apa kata Caty?" beranjak bangun Sambudi mendekati Sonya malahan langkah kakinya mengajak mendekati Oscar terduduk dikursi paling pojok sudut kanan kelas.

Sontak Caty dan Arni yang tidak lagi berharap kedatangan dua orang tuanya jadi tidak datang mengambil raport. Mereka berdua sontak ikuti Sonya, lalu mereka berdua menarik kursi sempat terdengar ringkih suara dan dilirik Lukman agar mereka berdua tidak berisik.

Menahan cemburu Sambudi ketika Sonya sengaja duduk menarik kursi satu lagi dan terduduk disamping Oscar sedikit tidak enak hatinya pada Sambudi.

Lihat selengkapnya