"Kenapa lagi si, Ibu?" gerutu kesal Almira sebentar melihat layar ponsel ada panggilan tidak terjawab.
"Niar kamu bawa dokumen ini. Dan tunggu sebentar di ruangan metting ya," sambil berikan map hijau berisi dokumen pada Niar, Almira kembali terduduk lagi.
"Baik Bu." sahut Nira bergegas keluar dari dalam ruangan kerjanya Almira tampak jempol tangan kirinya menscrol layar ponselnya.
"Tuttt ... Tuttt ..." dua kali layar ponsel bersentuhan dengan kuping kirinya, tapi hanya terdengar nada sibuk panggilan saja.
"Duhh kenapa ibu? Tadi dia telpon aku? Sekarang malahan Ibu ngak menjawab," makin bingung Almira apaka dirinya akan terus mencoba menghubungi Nani atau dirinya segera metting karena sudah ditunggu di ruangan metting.
"Tok ... Tok ..." ketukan dari luar lalu setengah wajahnya Niar melongok masuk kedalam.
"Bu cepat sudah ditunggu, Ko Ayung diruangan metting," cuman itu yang terdengar dari mulutnya Niar siang itu dibalut setelaan blazer warna biru tua lengkap dengan sepatu hak tingginya warna hitam.
"Niar tunggu," baru saja Niar akan tutup pintu tidak jadi.
"Bukannya ada Pak Rakha diruangan metting?" sudah berdiri Almira sambil masukan ponsel kedalam saku setelan blazer hitam lengan panjang, dnegan balutan hijab warna putih dan sepatu hak tinggi warna merah tua mulai berjalan menapaki lantai warna putih.
"Pak Rakha? Dari tadi Pak Rakha tidak ada, Bu." jawab Niar berbalik dan bergegas jalan meningalkan sedikit kebingungan mulai mengertu menahan marahnya Almira.
"Bukannya tadi Rakha sudah janji dengan Ko Ayung. Tapi sekarang malahan dia ngak ada?" guman kesal Almira beranjak keluar dari dalam ruangannya.
"Rindu Advertising" bener besar ukuran 100cm x 200cm terpampang pada sudut loby ruangan tunggu perusahan advertising miliknya Almira sempat di lirik dua matanya.
Semua pegawai hanya terdiam dua matanya pada layar pc komputer dan laptop. Tangan kanannya berapa kali gerakan mouse beralas mousepad warna hitam.