Pergelangan tangan kanan masih terpasung jarum infusan yang bakalan lama terus bersemayam mengalir cair infusan pada setiap aliran andi dalam tubuhnya Rindu.
Hanya terbaring lemas diatas ranjang bangsal bersprei putih berselimut biru muda, wajahnya sedih bercampur sesal mungkin saja kenapa dirinya tidak jadi mati.
Lirikan dua mata sendu menatap pergelangan tangan kirinya sudah terbalut perban putih bercampur cairan obat warna kuning pekat dan disisi sudut kanan bangsal masih setia berdiri besi penopang botol cairan infusan.
Masih setianya Rahman menemani Rindu, cucu kesayangannya sampai dirinya tertidur karena menahan lelahnya sejak dari pagi dirinya mengantarkan Rindu sampai rumah sakit.
Sampai Rahman lupa minum obat darah tingginya. Setengah bahunya tersandar pada bantalan empuk sopa ruangan rawap inap, hanya ada satu meja kosong berhadapan tidak disapa sejak dari kedatangan Rahman hanya terlelap tidur saja.
Perlahan linangan air mata sesal mulai terkuras disertai rasa tersenyumnya Rindu. Tapi dalam hatinya masih menjerit kesedihan tangisannya terdengar tersedu-sedu seraya memanggil empati simpatik pada dua orang tuanya yang terasa jauh dan tidak peduli.
"Kenapa malaikait pencabut nyawa ngak ngambil nyawa gua!" guman kesal sendiri kini raut wajahnya makin terasa sedih.
"Kayaknya Ayah dan Ibu makin ngak peduli sama gua lagi? Mereka berdua semakin asyik berenang dalam kesibukannya dilautan luasnya mereka!" guman lagi kesal, makin berlinang titian rintik air mata.
Ingin di sekanya air mata tapi terasa sakit pergelangan tangan kirinya, apalagi tangan kanannya masih terpasung jarum infusan. "Kasihan Kakek?" guman dalam hatinya Rindu perhatikan lelapnya tertidur Rahman.
Sedikit tersenyum tawa, walau kesedihan masih merenggut belum mau beranjak pergi dari wajahnya Rindu. Saat sikecil hitam lalat mendarat pada hidung besarnya Rahman.